Pakai Inhaler saat Puasa Apakah Batal?

pakai inhaler saat uasa ramadhan

Modernis.co, Jakarta – Penggunaan inhaler saat puasa bagi penderita asma dan gangguan pernafasan lain apakah dapat menyebabkan ibadah batal?

Inhaler adalah alat medis portabel yang berfungsi menghantarkan obat langsung ke paru-paru dan saluran pernapasan. 

Alat ini digunakan untuk melebarkan saluran napas yang menyempit, mengurangi peradangan, dan melegakan pernapasan dengan cepat.

Ramadhan itu momen yang selalu kita tunggu. Bulan yang memiliki banyak keutamaan untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih.

Tapi di tengah semangat ibadah itu, ada juga sebagian teman kita yang diam-diam deg-degan, terutama yang punya asma.

“Kalau lagi sesak terus pakai inhaler, puasanya batal nggak ya?”

Pertanyaan ini bukan pertanyaan sepele. Karena yang ngalamin asma tahu banget, sesak napas itu bukan drama. Napas terasa sempit, dada berat, dan kadang bikin panik.

Pakai Inhaler Saat Puasa? 

Mayoritas ulama kontemporer berpendapat bahwa menggunakan inhaler saat puasa bagi penderita asma tidak membatalkan ibadah shaumnya.

Karena yang masuk ke dalam tubuh itu hanya uap atau partikel obat dalam jumlah sangat kecil untuk membuka saluran pernapasan. Itu bukan makanan, bukan minuman, dan tidak memberi nutrisi.

Pendapat Ulama tentang Inhaler

Salah satu ulama besar yang berpendapat demikian adalah Yusuf al-Qaradawi. Beliau menjelaskan bahwa inhaler tidak termasuk makan dan minum, serta tidak berfungsi sebagai asupan gizi. Fungsinya murni pengobatan untuk membuka saluran napas.

Di Indonesia, Adi Hidayat juga pernah menerangkan hal serupa. Beliau menjelaskan bahwa inhaler digunakan dalam kondisi darurat untuk membantu pernapasan. 

Ia tidak mengenyangkan, tidak memberi energi, dan tidak dimaksudkan sebagai konsumsi layaknya makan atau minum. Maka, tidak membatalkan puasa.

Logikanya sederhana. Dalam fikih, yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh melalui jalur makan dan minum serta memberi efek nutrisi. 

Sementara inhaler bekerja di saluran pernapasan, bukan untuk mengisi perut. Islam itu agama yang realistis. Allah tidak pernah menyuruh kita menyiksa diri.

Islam Itu Memudahkan, Bukan Menyulitkan

Allah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini turun dalam konteks puasa. Artinya jelas: puasa memang latihan menahan diri, tapi bukan ajang uji nyali sampai membahayakan kesehatan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)

Kalau seseorang sakit dan butuh penanganan segera, maka menjaga keselamatan jiwa itu prioritas. Dalam Islam ada konsep rukhsah, yaitu keringanan ketika ada uzur. 

Bahkan orang yang sakit berat boleh berbuka dan menggantinya di hari lain. Allah berfirman : 

“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib mengganti pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Jadi, jangan sampai kita merasa lebih “saleh” dengan menolak pengobatan yang sebenarnya kita butuhkan. 

Lalu Bagaimana dengan Suntik dan Infus?

Hal ini sama dengan pengobatan yang dilakukan melalui suntik dan infus. Loh, emang itu juga gak membatalkan puasa?

Biar nggak bingung, ini gambaran sederhananya:

  • Suntik obat biasa (misalnya antibiotik atau obat nyeri, bukan nutrisi) → tidak membatalkan puasa.
  • Suntik atau infus nutrisi (yang berfungsi menggantikan makan dan minum) → membatalkan puasa.
  • Inhaler, suntik, dan infus → tidak membatalkan puasa menurut mayoritas ulama kontemporer selama hanya berisi kandungan obat.
  • Jika sakit berat → boleh berbuka dan wajib qadha di hari lain.

Kuncinya ada pada fungsi. Apakah itu memberi nutrisi seperti makan dan minum? Atau hanya pengobatan?

Puasa itu ibadah yang Allah bangun di atas rahmat dan kemudahan. Bukan untuk membahayakan diri. Kalau memang butuh inhaler, pakai saja. Jangan menunda sampai kondisi memburuk.

Jadi buat kamu yang punya asma, tenang ya. Tarik napas pelan. Islam tidak sedang menyulitkanmu.

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment