Di Bawah Erick Thohir, Kemenpora Kehilangan Arah dalam Menyiapkan Generasi Emas

dpp imm

Modernis.co, Jakarta – Indonesia tengah menapaki jalan menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah optimisme tersebut, pemuda ditempatkan sebagai aktor utama yang akan menentukan berhasil atau tidaknya cita-cita besar bangsa.

Namun, harapan itu akan sulit terwujud apabila institusi yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kepemudaan justru kehilangan arah dalam menjalankan mandatnya. Kementerian Pemuda dan Olahraga seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan pemuda nasional.

Tidak hanya menyelenggarakan program seremonial, tetapi juga membangun ekosistem yang mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Sayangnya, hingga saat ini masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang menunjukkan bahwa arah pembangunan kepemudaan belum berjalan sebagaimana mestinya.

1. Tumbuhnya Perpecahan di Kalangan Pemuda

Pemuda sejatinya merupakan kekuatan pemersatu bangsa. Sejarah Indonesia membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari persatuan dan solidaritas pemuda. Namun kondisi hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

Polarisasi sosial dan politik telah merambah ruang-ruang kepemudaan, bahkan tidak jarang memecah hubungan antar kelompok pemuda yang sebelumnya memiliki tujuan bersama. Dalam situasi seperti ini, negara semestinya hadir sebagai jembatan yang memperkuat kolaborasi dan dialog antar organisasi kepemudaan.

Sayangnya, peran tersebut belum terlihat secara optimal. Tidak ada desain besar yang mampu mempertemukan berbagai elemen pemuda dalam satu agenda kebangsaan yang kuat. Akibatnya, energi pemuda lebih banyak tersita dalam perdebatan dan fragmentasi daripada dalam kerja-kerja produktif untuk kemajuan bangsa.

Padahal, tugas Kementerian Pemuda dan Olahraga bukan hanya mengelola program, tetapi juga memastikan terciptanya ruang persatuan, kolaborasi, dan gotong royong di kalangan generasi muda. Ketika perpecahan semakin menguat dan tidak ada langkah strategis untuk menjembataninya, maka pemuda kehilangan kekuatan kolektifnya sebagai agen perubahan bangsa.

2. Minimnya Pembinaan terhadap Peluang Karir Pemuda

Tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya pendidikan, tetapi juga akses terhadap dunia kerja dan peluang pengembangan diri. Di tengah perubahan teknologi, digitalisasi ekonomi, dan persaingan global yang semakin ketat, pemuda membutuhkan dukungan nyata untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing mereka.

Sayangnya, pembinaan terhadap peluang karir pemuda masih sangat terbatas. Program yang terintegrasi antara pengembangan keterampilan, kewirausahaan, inovasi, dan akses pasar kerja belum terlihat menjadi prioritas utama. Banyak pemuda yang akhirnya harus berjuang sendiri menghadapi ketidakpastian masa depan, sementara negara belum mampu menghadirkan ekosistem yang memadai untuk mendukung mereka.

Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi mudanya memiliki kapasitas dan kesempatan untuk berkembang. Tanpa strategi yang jelas, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban sosial yang besar.

Di saat negara-negara lain berlomba mempersiapkan talenta muda untuk menghadapi revolusi teknologi dan ekonomi digital, Indonesia justru belum menunjukkan langkah yang cukup progresif dalam membangun kesiapan generasi mudanya.

3. Renggangnya Hubungan Menpora dengan Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan

Organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan merupakan mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan serta mengidentifikasi kebutuhan generasi muda. Mereka berada di garis depan dalam membaca dinamika sosial, pendidikan, ekonomi, hingga persoalan kebangsaan yang dihadapi pemuda.

Namun belakangan ini, hubungan antara Kementerian Pemuda dan Olahraga dengan berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan dinilai semakin renggang. Ruang dialog yang seharusnya menjadi sarana pertukaran gagasan dan aspirasi belum berjalan secara optimal.

Akibatnya, banyak kebijakan yang terkesan berjalan tanpa partisipasi aktif dari kelompok yang menjadi sasaran utama kebijakan tersebut.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius. Membangun masa depan pemuda tidak bisa dilakukan secara sepihak. Dibutuhkan komunikasi yang terbuka, kemitraan yang sehat, dan kesediaan mendengar aspirasi dari berbagai kelompok pemuda yang selama ini menjadi bagian penting dari pembangunan bangsa.

Ketika organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan tidak lagi diposisikan sebagai mitra strategis, maka pemerintah kehilangan salah satu sumber gagasan dan kontrol sosial yang sangat penting. Padahal sejarah membuktikan bahwa banyak perubahan besar di Indonesia lahir dari dialog dan kerja sama antara negara dan kelompok pemuda.

4. Tidak Terlihat Arah yang Jelas dalam Pengembangan Kapabilitas Pemuda

Di bawah kepemimpinan Menpora saat ini, publik masih sulit melihat arah dan metode yang jelas dalam meningkatkan kapabilitas, kreativitas, dan daya saing pemuda Indonesia.

Padahal, salah satu mandat utama pembangunan kepemudaan adalah memastikan generasi muda mampu menjadi tulang punggung pembangunan bangsa sekaligus siap bersaing di tingkat global. Hingga hari ini, belum terlihat sebuah peta jalan kepemudaan yang komprehensif dan terukur mengenai bagaimana pemuda Indonesia dipersiapkan menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat.

Tantangan seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), transformasi digital, ekonomi hijau, industri kreatif, dan persaingan tenaga kerja global membutuhkan strategi yang jauh lebih serius dibanding sekadar kegiatan seremonial atau program jangka pendek.

Kementerian Pemuda dan Olahraga semestinya menjadi pusat pengembangan talenta muda nasional dengan menghadirkan program yang terintegrasi antara peningkatan keterampilan, penguatan kepemimpinan, pengembangan inovasi, kewirausahaan, dan jejaring internasional.

Namun yang terlihat saat ini justru belum adanya ukuran keberhasilan yang jelas dalam membangun generasi muda yang unggul dan kompetitif. Akibatnya, banyak pemuda yang tumbuh tanpa dukungan ekosistem yang kuat untuk mengembangkan potensinya.

Negara seolah belum memiliki formula yang jelas dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan abad ke-21. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka cita-cita menjadikan pemuda sebagai motor penggerak Indonesia Emas 2045 berisiko hanya menjadi slogan tanpa pondasi yang kokoh.

Pembangunan pemuda tidak boleh berjalan tanpa arah. Diperlukan kepemimpinan yang mampu menghadirkan visi, strategi, dan langkah konkret untuk menciptakan generasi yang adaptif, inovatif, produktif, dan berdaya saing global. Tanpa itu, bonus demografi yang dimiliki Indonesia berpotensi menjadi peluang yang terlewatkan.

Oleh: Riyan Betra Delza (Ketua Umum DPP IMM)

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan pikiran-pikiran Anda via website kami!

Related posts

Leave a Comment