Karhutla Kalimantan, El-Nino Bukan Penyebab Utama!

Karhutla Kalimantan, El-Nino Bukan Penyebab Utama!

Modernnis.co, Palangkaraya – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi ini menimbulkan kabut asap, mengganggu aktivitas masyarakat, serta meningkatkan risiko terhadap lingkungan dan kesehatan.

Pemerintah mengerahkan ribuan personel untuk menangani kebakaran yang terus berlangsung. Namun, sejumlah peneliti dan pegiat lingkungan menilai masyarakat gak bisa menyebut El Nino sebagai penyebab utama karhutla.

Fenomena iklim tersebut memang membuat kondisi lebih kering dan meningkatkan risiko kebakaran, tetapi faktor kerusakan gambut, perubahan tutupan lahan, pengeringan lahan, serta aktivitas manusia turut memainkan peran besar.

Karhutla Kalimantan Terus Meluas

Data yang dikutip Tirto dari BNPB menunjukkan 1.478 titik panas terdeteksi di seluruh Kalimantan hingga 20 Agustus 2026. Kalimantan Tengah mencatat 767 titik, sedangkan Kalimantan Barat mencapai 560 titik.

Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik, sementara Kalimantan Utara mencatat tiga titik. Kementerian Kehutanan juga mencatat luas areal karhutla secara nasional mencapai 107.465,47 hektare sepanjang Januari-Juni 2026.

Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2019, 2023, dan 2025. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas areal terbakar terbesar, yakni 28.680,47 hektare.

Kondisi tersebut membuat pemerintah meningkatkan penanganan di lapangan. Operasi pengendalian karhutla di Kalimantan telah memasuki hari ke-48 dan melibatkan 12.880 personel gabungan dari berbagai unsur.

Karhutla Kalimantan Bukan Cuma karena El Nino

El Nino memang berperan dalam meningkatkan risiko kebakaran. Fenomena ini dapat mengubah pola curah hujan dan membuat kondisi menjadi lebih kering.

Kondisi tersebut kemudian membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar serta menyulitkan petugas saat memadamkan api. Meski begitu, kondisi cuaca gak otomatis memicu kebakaran di semua wilayah.

Peneliti yang dikutip Tirto menjelaskan bahwa wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan sama-sama mengalami kondisi panas dan kering, tetapi jumlah karhutla di tiap wilayah berbeda. Hal ini menunjukkan adanya faktor lain di luar kondisi iklim.

Dengan kata lain, El Nino lebih tepat dipandang sebagai faktor yang memperbesar risiko. Ketika kondisi kering bertemu dengan lahan yang rentan dan sumber api, kebakaran bisa berkembang lebih cepat dan sulit dikendalikan.

Karhutla Kalimantan Berkaitan dengan Kerusakan Gambut

Kondisi gambut menjadi salah satu persoalan penting dalam karhutla. Secara alami, gambut menyimpan air dalam jumlah besar sehingga mampu menjaga ekosistem tetap basah.

Namun, pengeringan lahan dan pembangunan kanal dapat mengurangi kemampuan gambut dalam menyimpan air. Ketika musim kering datang, gambut yang telah kehilangan banyak kandungan air menjadi lebih mudah terbakar.

Api juga dapat menjalar ke bawah permukaan tanah sehingga petugas menghadapi tantangan lebih besar saat melakukan pemadaman.

Pantau Gambut mencatat 45.428 titik panas berada di dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) sepanjang Januari-Juli 2026. Sebanyak 25.364 titik berada di kawasan fungsi lindung ekosistem gambut dan 20.064 titik berada di kawasan fungsi budidaya.

Karhutla Kalimantan Dipengaruhi Aktivitas Manusia

Selain kondisi lahan, aktivitas manusia juga berperan dalam meningkatkan risiko kebakaran. Perubahan tutupan lahan, pembukaan hutan, pembangunan kanal, ekspansi perkebunan, serta aktivitas pembukaan lahan dapat membuat ekosistem semakin rentan terhadap api.

Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian menjelaskan bahwa El Nino gak menciptakan kerusakan gambut. Aktivitas manusia justru dapat mengubah ekosistem gambut melalui pengeringan, pembangunan kanal, pembukaan hutan, dan perubahan tutupan lahan.

Setelah kondisi lahan semakin kering, El Nino kemudian memperbesar dampaknya. Pola tersebut menunjukkan hubungan yang saling berkaitan.

El Nino membuat kondisi iklim semakin kering, sementara gambut yang telah mengalami pengeringan menyediakan bahan yang lebih mudah terbakar. Ketika sumber api muncul, kebakaran bisa menyebar lebih cepat.

Karhutla Kalimantan Ditangani 12.880 Personel

Pemerintah terus memperkuat operasi untuk mengendalikan karhutla di Kalimantan. Sebanyak 12.880 personel gabungan terlibat dalam operasi yang telah berlangsung selama 48 hari.

Kementerian Kehutanan mengerahkan 758 personel Manggala Agni yang tersebar di beberapa wilayah, yakni 265 personel di Kalimantan Barat, 208 personel di Kalimantan Tengah, 174 personel di Kalimantan Selatan, dan 111 personel di Kalimantan Timur.

Personel gabungan tersebut berasal dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, sukarelawan, TNI, Polri, BPBD, DLHK, pemerintah daerah, hingga unsur masyarakat lainnya.

Mereka melakukan pemantauan titik panas, pemeriksaan lapangan, dan pemadaman darat sesuai kondisi di wilayah masing-masing.

Karhutla Kalimantan Masih Bisa Membesar

Ancaman karhutla belum selesai. Tirto melaporkan bahwa El Nino diperkirakan semakin kuat pada September dan Oktober 2026, sementara puncak fenomena tersebut diprediksi terjadi pada Desember 2026.

Kondisi ini membuat risiko kebakaran tetap perlu diwaspadai dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, penanganan karhutla gak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api muncul.

Pemerintah dan masyarakat juga perlu memperkuat pencegahan, menjaga kondisi gambut tetap basah, mengawasi perubahan tutupan lahan, serta mencegah munculnya sumber api.

El Nino memang memperparah kondisi kering, tetapi fenomena tersebut bukan satu-satunya penyebab karhutla. Kerusakan ekosistem, perubahan penggunaan lahan, dan aktivitas manusia turut menentukan seberapa besar kebakaran berkembang.

Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan langkah pencegahan yang menyasar akar persoalan, bukan hanya memadamkan api setelah kebakaran terjadi.

editor
editor

salam hangat

One Thought to “Karhutla Kalimantan, El-Nino Bukan Penyebab Utama!”

  1. [495292]supplies professional anti-violence equipments and solutions for the whole world with strong and perfect production capacity. anti-violence.org

Leave a Comment