Reaktualisasi Trikoda dalam Pembangunan Ekosistem Kader IMM

pc imm malang

Modernis.co, Malang – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu organisasi otonom di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah. Sejak berdiri 62 tahun yang lalu, IMM memikul tanggung jawab sejarah untuk melahirkan akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.

Kekuatan gerakan IMM berakar pada enam penegasan IMM yang kemudian diperas menjadi nilai Tri Kompetensi Dasar atau Trikoda, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Trikoda bukanlah entitas yang berdiri sendiri-sendiri.

Ia adalah satu kesatuan organik yang saling berkaitan dalam membentuk ruh gerakan IMM. Namun, ketahanan ruh gerakan ini tengah diuji secara nyata tatkala dihadapkan dengan realitas sekarang. 

Di tengah derasnya arus informasi yang kerap kali melampaui kemampuan kita untuk menyaringnya, IMM kini dihadapkan pada tantangan besar berupa disrupsi ideologi. Fenomena ini kian nyata ketika nilai-nilai fundamental Trikoda mulai tergerus oleh pragmatisme zaman dan pola pikir instan. 

Ideologi yang seharusnya menjadi elan vital gerakan IMM perlahan bergeser menjadi sekadar jargon hafalan semata, dan berisiko kehilangan relevansinya dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Bagi kader hari ini, ideologi seringkali tampak dalam wajah yang membosankan. Karena sulit diserap dan dipandang berat, kuno bahkan dianggap tidak relevan dengan kondisi saat ini. Akibatnya, mereka kebingungan bagaimana menerapkan nilai ideologi dalam kehidupan keseharian. 

Lebih parahnya lagi, banyak yang terjebak dengan rutinitas program kerja tanpa memahami apa tujuan dasar yang ingin dicapai. Ketidakmampuan kita dalam menerjemahkan ideologi ke dalam bahasa keseharian inilah yang membuat nilai-nilai tersebut dianggap terlalu berat. 

Ketika ideologi gagal memberikan solusi atas persoalan personal maupun sosial yang dihadapi kader, mereka akan mulai mencari pegangan lain di luar IMM yang dianggap lebih berpengaruh. Inilah yang menjadi penyebab dari rapuhnya loyalitas dan hilangnya militansi kader.

Sejatinya, konsep sense of belonging dalam IMM bukan sekadar soal kenyamanan emosional. Melainkan ikatan ideologis dan sosiologis yang membuat seorang kader merasa bahwa “IMM adalah saya, dan saya adalah IMM”. Selama ini, loyalitas kader sering kali bersifat dinamis dan rapuh karena mereka merasa hanya menjadi tamu dalam rumahnya sendiri. 

Coba tengok fenomena yang terjadi sekarang, kader datang ke komisariat hanya untuk rapat formal. Setelah rapat selesai, mereka segera pulang dan merasa urusan dengan IMM sudah usai. Padahal seharusnya komisariat menjadi tempat utama untuk diskusi urusan akademik, berbagi keluh kesah kehidupan pribadi, serta ruang untuk meningkatkan kapasitas diri. 

Loyalitas yang sejati hanya akan lahir ketika seorang kader merasa bahwa IMM bukan sekadar tempat bernaung sekejap, melainkan ekosistem tempat ia bertumbuh secara kaffah—di mana religiusitasnya terjaga, intelektualitasnya terasah, dan humanitasnya terwadahi. 

Sebab, IMM harus menjadi rumah kultural yang hangat bagi keberagaman latar belakang dan kondisi kader. Membentuk ekosistem kader yang berdaya di IMM berarti menjadikan Trikoda sebagai jangkar penggerak bagi lahirnya aktivis profetik. 

Di tengah era disrupsi ideologi, nilai religiusitas harus hadir sebagai basis moral yang transenden. Hal ini cukup krusial untuk memastikan bahwa setiap langkah dan kebijakan IMM tidak kehilangan arah ketauhidannya.

Begitu pun intelektualitas dalam ekosistem ini harus dipahami sebagai pisau analisis yang tajam untuk membedah kompleksitas zaman. Melalui ketajaman nalar, kader IMM tidak boleh gagap menghadapi kemajuan teknologi maupun pergeseran sosiokultural. Mereka harus menjadi produsen gagasan yang mampu menawarkan solusi konkret.

Gagasan yang cemerlang tersebut tentu harus dibumikan berbasiskan nilai humanitas. Oleh karena itu, humanitas tidak lagi sekadar konsep teoritis, melainkan keberanian untuk hadir di tengah krisis, menyuarakan keadilan di tengah represi, dan menjadi solusi atas persoalan sosial di akar rumput. 

Humanitas harus digunakan sebagai penggerak aktivisme IMM sebab ia menyentuh sisi paling dasar dari kehidupan manusia. Membangun ekosistem kader yang kuat tentu harus dimulai dari bawah. Komisariat harus dibangun bukan sekadar sebagai struktur administratif atau tempat berkumpulnya anggota, melainkan sebagai rumah kultural untuk bertumbuh. 

Kita mesti mengingat kembali Keputusan Muktamar IMM ke-IV tahun 1975 yang menegaskan perubahan asas pengorganisasian IMM dari asas teritorial menjadi asas potensial. Dengan demikian, komisariat selaku struktur terbawah dan basis kegiatan perkaderan menjadi sangat penting dan menentukan bagi kelangsungan pergerakan IMM. 

Maka komisariat harus bisa bertransformasi menjadi ruang dialog ideologis yang cair dan membumi. Perbedaan latar belakang kader tidak lagi dipandang sebagai ancaman terhadap soliditas, melainkan sebagai modal sosial gerakan. 

Ideologi IMM tidak boleh lagi disampaikan dalam bentuk doktrinasi satu arah yang kaku dan menjemukan. Sebaliknya, harus berbentuk dialektika melalui diskusi-diskusi yang menyentuh realitas keseharian kader. Di sinilah konsep kalimatun sawa’ atau titik temu diuji. Nilai-nilai Trikoda mampu berdialog dengan isu-isu kontemporer, mulai dari kegelisahan akademik hingga problematika sosial-kemasyarakatan. 

Perbedaan latar belakang dan potensi kader tidak lagi menjadi sekat, melainkan energi kolektif untuk bergerak maju. Ekosistem yang kita bangun hari ini adalah jawaban atas panggilan Persyarikatan untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan berdampak nyata bagi umat.

Oleh: M. Rizqi Ulin Nuha (PC IMM Malang Raya)

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan pikiran-pikiran Anda via website kami!

Related posts

Leave a Comment