Modernis.co, Jakarta – Ikatan Pelajar Muhammadiyah lahir dari ketidakpuasan diri, hah? Kok gitu? yuk kita simak penjelasannya!
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) lahir dengan sejarah yang cukup panjang dan semangat tinggi dalam menggagas perubahan. Sehingga, pelajar bukan hanya ke sekolah lalu pulang ke rumah.
Ceritanya dimulai dari kegelisahan para pelajar Muhammadiyah pada masa itu, yang merasa butuh wadah untuk belajar, bergerak, dan berdakwah dengan cara anak muda.
Coba deh, pelajar seperti apa yang punya pikiran bikin wadah perkumpulan yang positif. Hebat bukan? Ketidakpuasan diri dalam nilai positif inilah yang mengawali berdirinya Ikatan Pelajar Muhammadiyah kedepannya.
Sebuah Ide Besar
Kalau kita mundur ke awal tahun 1960-an, situasi Indonesia saat itu lagi panas-panasnya. Dunia pendidikan juga ikut terdampak.
Di lingkungan Muhammadiyah sendiri, sebenarnya sudah banyak pelajar Muhammadiyah yang aktif beroganisasi, tapi mereka masih bergerak secara terpisah-pisah.
Ada yang ikut kepanduan, ada yang aktif di sekolah, ada yang ikut organisasi daerah dan kepemudaan lokal, tapi belum ada satu organisasi khusus yang benar-benar mewadahi pelajar Muhammadiyah secara nasional.
Dari situlah muncul ide besar, pelajar Muhammadiyah harus punya organisasi sendiri. Bukan cuma untuk kumpul-kumpul, tapi juga sebagai tempat belajar kepemimpinan, memperkuat akidah, dan melatih kepekaan sosial.
Berdirinya Wadah Ide Besar
Gagasan ini kemudian dibahas serius oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang peduli pada masa depan pelajar. Ini ide besar, langkah besar, dan akan berdampak besar.
Akhirnya, pada 18 Juli 1961, lahirlah Ikatan Pelajar Muhammadiyah secara resmi. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahir IPM.
Saat itu, IPM hadir dengan semangat pembaruan, membawa nilai-nilai Islam yang berkemajuan, tapi tetap dekat dengan dunia pelajar.
IPM tidak ingin menjadi pelajar yang hanya jago di kelas, tapi juga punya karakter, akhlak, dan kepedulian pada masyarakat.
Pencetak Generasi Penerus
Di awal berdirinya, IPM langsung memposisikan diri sebagai organisasi kader. Artinya, IPM tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial, tapi juga serius menyiapkan pelajar agar kelak bisa menjadi penerus perjuangan Muhammadiyah dan bangsa.
Mulai dari diskusi, pelatihan, pengajian, sampai aksi sosial, semua dijalani dengan gaya khas anak muda. Lebih tepatnya, khas pelajar.
Seiring berjalannya waktu, IPM terus berkembang. Namanya sempat berubah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) pada tahun 1992.
Namun, pada tahun 2008, nama IPM kembali digunakan karena dianggap lebih sesuai dengan ruh pelajar dan dunia pendidikan.
Hingga hari ini, IPM tetap menjadi ruang belajar yang seru bagi pelajar Muhammadiyah. Di sinilah pelajar belajar berpikir kritis, berorganisasi, dan berkontribusi untuk lingkungan sekitar.

Pencerah dan Mencerahkan
Pelajar Muhammadiyah di IPM itu punya latar belakang yang berbeda-beda. Namun, gerakan dakwah yang mereka lakukan bisa dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan.
Setiap pelajar memang memiliki kewajiban untuk belajar. Namun, menjadi pelajar yang berkarakter dan memiliki kepekaan sosial adalah sebuah keunggulan dari IPM. Dan itu adalah pilihan.
Sebuah wadah yang mengusahakan kemajuan untuk kebermanfaatan yang abadi. Sesuai slogan mereka, Nuun Wal Qamali Wamaa Yasthuruun.
Sebagaimana pena yang tidak pernah berhenti untuk menulis kisah peradaban. Gimana pendapatmu?



Kirim Tulisan Lewat Sini