Tri Kompetensi Dasar IMM, Perjalanan Jadi Manusia Kaffah

Tri Kompetensi Dasar IMM

Modernis.co, Jakarta – Tri Kompetensi Dasar IMM jadi ruh dan rules utama dari perjuangan pergerakan organisasi otonom milik Persyarikatan Muhammadiyah yang menjangkau kelompok usia mahasiswa ini.

Mungkin sebagian dari anggotanya datang karena ajakan teman, ikut-ikutan, atau sekadar penasaran. Meski tidak sedikit dari mereka lahir dari lingkungan Muhammadiyah yang sudah kental. Semakin lama berproses di dalam IMM, semua anggota atau kadernya akan mendengar sebuah istilah yang diulang-ulang. Mereka menyebutnya sebagai Tri Kompetensi Dasar IMM

Tiga kata dengan tambahan IMM di belakangnya ini bukan sekadar slogan kosong, tapi fondasi yang pelan-pelan membentuk cara berpikir dan bersikap kader IMM itu sendiri. Tri Kompetensi Dasar IMM yaitu Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas.

Religiusitas

Di IMM, agama tidak berhenti di ritual. Bukan cuma soal shalat tepat waktu atau hafal doa-doa, tapi soal bagaimana iman itu hidup dalam keseharian. Soal keimanan yang dapat dibukti dalam tingkah laku, sikap, keputusan, hingga ucapan dalam menjalankan peran sebagai makhluk sosial.

Religiusitas mengajarkan kita untuk jujur saat ujian, amanah saat diberi tanggung jawab, dan rendah hati saat punya jabatan. Sebab, seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik akan memperlakukan sesamanya dengan baik.

IMM mendorong kadernya untuk dekat dengan Tuhan, tapi tetap membumi. Iman tidak membuat kita merasa paling benar, justru membuat kita lebih sadar diri dan mau belajar. Dari sini, agama menjadi kompas, bukan sekadar atribut.

Intelektualitas

Sebagai mahasiswa, berpikir kritis itu wajib. IMM sadar betul akan hal ini. Diskusi panjang, kajian buku, bedah isu sosial, sampai debat panas tapi sehat, jadi makanan sehari-hari.

Intelektualitas mengajak kita untuk tidak menelan informasi mentah-mentah. Kita diajak bertanya: kenapa begini, siapa yang diuntungkan, dan apa dampaknya bagi masyarakat. Atau memikirkan ada apa dibalik sebuah fenomena yang sedang terjadi.

IMM ingin kadernya cerdas, bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga peka membaca realitas. Ilmu tidak disimpan sendiri, tapi dibagikan dan digunakan untuk perubahan yang mendatangkan lebih banyak kebermanfaatan. 

Humanitas

Dari kedua Tri Kompetensi Dasar IMM sebelumnya, religius dan pintar saja tidak cukup. Di sinilah Humanitas mengambil peran penting. Humanitas mengajarkan kita untuk tetap hidup dengan memfungsikan hati. Sisi ini jadi nilai yang mengontrol apa isi otak dan nafsu yang dimiliki setiap manusia.

Kader IMM akan lebih mengedepankan rasa kemanusiaan dan nilai ketuhanan sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil tindakan, menentukan keputusan, bersikap, maupun bertutur kata. IMM membentuk kader yang arif dan bijaksana, juga memilikii kepekaan sosial yang tinggi.

IMM membentuk kader yang peduli pada sesama, terutama mereka yang sering tak terdengar suaranya. Turun ke masyarakat, ikut aksi kemanusiaan, mendampingi rakyat kecil, berdakwah dengan elegan, berinovasi seiring perubahan, semua itu bukan sekadar program, tapi latihan empati. 

Humanitas membuat kita sadar bahwa ilmu dan iman harus berpihak. Kita belajar untuk tidak acuh, tidak cuek, dan tidak hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Menjadi Manusia Kaffah

Menariknya, Tri Kompetensi Dasar ini tidak berdiri sendiri. Religiusitas tanpa intelektualitas bisa membuat seseorang kaku. Intelektualitas tanpa humanitas bisa melahirkan orang pintar tapi dingin. Humanitas tanpa dasar iman dan ilmu bisa bikin seseorang kehilangan arah dalam rutinitasnya. 

IMM menyatukan ketiganya agar kadernya tumbuh seimbang. Di sinilah keunikan IMM terasa. Ia tidak hanya mencetak aktivis, tapi manusia yang utuh, yang kaffah.

Pada akhirnya, Tri Kompetensi Dasar IMM adalah bekal hidup. Bukan hanya saat aktif berorganisasi, tapi juga setelah lulus dan terjun ke masyarakat. Nilai-nilai ini menempel dalam cara kita berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. 

IMM mengajarkan bahwa proses belajar bukan sekadar mengejar gelar, tapi mencari jadi diri untuk mengupayakan menjadi manusia yang beriman, berilmu, dan berperikemanusiaan. Seorang manusia yang memiliki ketaatan dalam menjalankan ibadah, terbuka pada perbedaan dan perubahan,  kemauan untuk tumbuh dan berkemajuan, serta perilaku memanusiakan manusia.

Coba ceritakan momen yang paling gak bisa kamu lupain waktu kamu masih aktif di IMM! yok kanda, yunda, adinda bisa tinggalin jejak digitial di kolom komentar.

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment