Modernis.co, Malang – Muhammadiyah lahir pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta yang didirikan oleh pahlawan Nasional yang memiliki nama asli Muhammad Darwis dan kemudian beliau beribadah dengan melaksanakan ibadah Haji. Dan pada akhirnya sang guru beliau merubah nama tersebut Menjadi KH. Ahmad Dahlan seperti yang kita kenal sampai dengan detik ini.
Kemudian beliau melihat hal aneh yang ada di pemukiman warga yang setiap waktu beribadah dengan cara TBC (Tahayul, Bid’ah dan khurafat) hal ini menggerakan pemikiran dan gagasan pembaharuan gerakan Islam senantiasa mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW (Muhammadiyah itu sendiri).
Sejak Gubernur Jenderal Belanda mengesahkan berdirinya Muhammadiyah. Pada tanggal 22 Agustus 1914, gerakan muhammadiyah terus berafiliasi melalui tokoh-tokoh Muhammadiyah bersama Nahdlatul Ulama (NU), Perikatan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam mendirikan Partai Majelis syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Partai ini berideologi Islam lain tak cukup lama dalam perkembangan sehingga mengakibatkan Nahdlatul Ulama (NU) Keluar dari Masyumi. Namun nasib baik yang didapatkan Masyumi yaitu menjadi pemenang kedua dalam Pemilihan Umum 1955 dengan memperoleh 20,9 persen suara, di bawah Partai Nasional Indonesia yang meraih 22,3 persen suara.
Namun kebahagian ini tak berangsur lama Masyumi diberhentikan oleh Pemerintah pada tahun 1960. Muhammadiyah Kala itu masih dalam jangkauan politik dengan cara bergabung kembali pada Sekretariat bersama golongan karya pada tahun 1964.
Terlepas dari keikutsertaan pada golkar tokoh-tokoh Muhammadiyah di tahun 1968 mendirikan partai yang bernama partai muslimin Indonesia (Parmusi) namun hal ini tak cukup lama, karena pada tahun 1971 melalui hasil muktamar yang ke-38 di ujung pandang (Makasar) Organisasi Berfokus pada gerakan dakwah islam.
Gerakan Politik Muhammadiyah
Lalu bagaimana gerakan politik Muhammadiyah? tentu saja politik Muhammadiyah berbeda dengan partai politik. Menurut ketentuan mukadimah dalam anggaran dasar Muhammadiyah kepribadian Muhammadiyah keyakinan dan keinginan Muhammadiyah untuk hidup Khittah berjuang bersama Muhammadiyah Khittah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pedoman dan pedoman hidup Islam warga Muhammadiyah serta keputusannya.
Hal ini menunjukan Konsistensi gerakan Muhammadiyah dalam membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, melalui sebagian kelompok kepentingan dengan tujuan keagamaan dan sosialnya, Muhammadiyah memperlihatkan melalui berbagai cara yang terkadang secara langsung dan terbuka terlibat politik.
Karena itu, Muhammadiyah selama ini tampak memiliki peranan ketiga sebagai salah satu kekuatan politik yang diperhitungkan setiap penguasa yang datang silih berganti.
Kiprah Muhammadiyah dalam membangun negeri sungguhlah tidak terelakan lagi. Diaspora kader-kader Muhammadiyah memberikan sumbangsih terhadap bangsa dan negara. muhammadiyah melalui para kadernya bergerilya dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, kini Muhammadiyah konsisten berkontribusi pada Negara dan universal dengan gerakan dakwah yang meliputi aspek healing (pelayanan kesehatan), schooling (pendidikan), dan feeding (pelayanan sosial).
Hal ini membuktikan bahwa Muhammadiyah bertekad untuk memberikan dampak signifikan dalam pemerintahan sebagai wujud bahwa Muhammadiyah ikut andil dalam membangun negeri.
Yang bertujuan memberikan gagasan kebangsaan yang baru dan terus dikembangkan melalui healing (pelayanan kesehatan), schooling (pendidikan), dan feeding (pelayanan sosial) sehingga Muhammadiyah sangatlah memberikan pengaruh besar dalam pembangunan bangsa
Muhammadiyah independen politik praktis namun, bukan berarti buta politik dan anti politik. Dalam membangun bangsa ini dibutuhkan peranan nyata, dan dibutuhkan politik pula untuk bisa memposisikan diri dalam kebijakan agar bisa melakukan transformasi sosial.

Maka dari itu, Muhammadiyah senantiasa membekali diri dan membentengi secara organisatoris dengan tetap komitmen dan konsisten terhadap garis perjuangan. Sehingga Muhammadiyah memainkan konsep high politics. Muhammadiyah berkomitmen dan konsisten tidak akan terlibat dalam manuver politik partai manapun.
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam tidak mau melumuri perjuangannya dengan cara yang tidak lurus. Muhammadiyah (1912) maupun 7 ortom senantiasa mewujudkan tujuan Muhammadiyah yakni: Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci sehingga konsisten gerakan terap utuh.
Konsistensi dalam Diaspora Kader
Pendekatan inilah yang ditunjukan Muhammadiyah pada seluruh kadernya sehingga regenerasi Muhammadiyah tidak menerapkan politik praktis melainkan politik perjuangan (value). Jelas sebagai kader Muhammadiyah harus senantiasa istiqomah agar nanti bisa beraktualisasi yang mengarah pada lahan perjuangan menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa.
Kalau ingin berkarya melalui jalan baru secara personal diberi kebebasan, seperti menurut Ahmadi dan Anwar menjelaskan keberadaan partai praktis bukanlah tujuan dari perjuangan Muhammadiyah, sehingga harus atau terlibat dalam percaturan politik.
Kendati tetap memberikan kebebasan bagi kadernya yang memiliki kapasitas dan integritas untuk terlibat dalam politik praktis. Maka, disinilah pentingnya Khittah Muhammadiyah yang memposisikan sebagai dakwah Islam. Kalau pun mau berpolitik silahkan, namun menjadi catatan bahwa dalam ber-diaspora harus kokoh dalam tujuan, harus mampu menebar kebaikan membuat arus bukan malah tergilas dan redup dalam dinamika lahan.
Hal itulah, menjadi konsekuensi berdiaspora untuk terus tegak di mana pun berada melewati batas diri. Tetap komitmen yang beridentitas, membumikan gerakan Muhammadiyah dengan cara lain, mengawal dan memajukan Muhammadiyah dengan strategi lain. “ Hidup-Hidupilah Muhammadiyah Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah” (KH. Ahmad Dahlan).
Oleh: Mikrajul Mukminin Kader IMM FASTCHO FEB UMM


Kirim Tulisan Lewat Sini