Kita Tak Pernah Setara

bencana banjir Sumatera

Modernis.co, Malang – “Sedia payung sebelum hujan” adalah adagium yang kita tak pernah belajar darinya. Tanoh Gayo tempat saya dilahirkan kini menjadi mencekam, menjadi tempat di mana manusia yang sudah hidup dalam alam modern terabaikan hak-hak mendasarnya. 

Bencana Alam adalah peristiwa berulang dan terus akan berulang. Mencari penyebab terhadap peristiwa sudah banyak yang memaparkan dan kita tidak pernah-pernah belajar. Hutan yang gundul, tanah yang dikeruk, sampah yang semakin menggunung menyebabkan akumulasi banjir saat hujan tiba.

Sudah seminggu lebih kejadian berlalu. Bantuan tak kunjung merata, banyak warga terjebak, sebagian sudah pergi meninggalkan kampung mereka yang sudah tak layak huni, bayi-bayi mulai mengekspresikan lapar dan takutnya melalui tangisnya. “Kondisi hanya mencekam di medsos” kata salah manusia yang kini sudah minta maaf.

Apakah karena peristiwa ini terjadi di pulau Sumatera lalu semuanya terkesan terabaikan. Mari saya berikan gambaran ke kepala anda yang tinggal di Pulau Jawa. Sumatera itu luas daerah yang dilalui oleh bukit barisan yang membentang. Tak ada tol layaknya pantura yang menghubungkan punggung pulau Jawa.

Jalan utama di Sumatera itu berkelok-kelok menyusuri kawasan hutan yang rimba serta harus melewati arus sungai yang deras. Jarak antara kota itu puluhan bahkan ratusan kilometer, sementara jalur-jalur alternatif masih sangat terbatas.

Di wilayah tengah Aceh (Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tengah) kawasan yang hampir 80% adalah kawasan perbukitan. Kawasan itu adalah penghasil Kopi Arabika yang mungkin saat ini sedang anda nikmati.

Jembatan banyak yang putus, rusak dan hilang diterjang banjir. Sebagian kampung menghilang ditambah listrik dan jaringan wifi yang mati membuat semuanya menjadi mencekam. Ini sudah hari ke-sembilan, sementara bantuan belum juga merata sebarannya. 

Jika muncul permohonan bantuan ke Pemerintah Malaysia, lalu Singapura lalu ke Rusia atau bahkan ke Pemerintah Brunei Darussalam. Cukuplah menjadi tamparan bahwa tampaknya negara kita tak cukup sigap menghadapi peristiwa yang jauh dari jangkauan pulau Jawa. 

Hingga kini sudah ada beberapa kepala daerah yang mengangkat bendera putih. Tanda mereka tak lagi sanggup menghadapi masalah yang  hadir di depan mata. Mari sejenak kita tanggalkan perdebatan soal bagaimana bencana ini bermula. Untuk saat ini, tak adil rasanya jika kita berdebat panas soal lingkungan yang telah kita rusak bersama sehingga bencana tiba.

Fokus utama kita adalah bagaimana beras dan obat-obatan bisa segera tiba agar perut-perut warga terdampak tak lagi menjadi bencana berikutnya. Sudah mulai banyak terjadi penjarahan. Bukan tanpa sebab, mereka terpaksa melakukan sesuatu yang merupakan tindakan kriminal dalam keadaan normal.

Tapi saya mohon netizen mengerti dan jangan menambah luka. Mereka bukan penjahat, mereka adalah warga terdampak sementara bantuan belum merata. Jika perut kalian masih bisa merasakan kenyang berhentilah menyalahkan perut-perut yang sedang lapar!

Bukankah negara kita kaya raya? ataukah negara kita hanya kaya dalam data-data. Sudah berhari-hari teriakan agar bantuan dikirimkan melalui udara digemakan. Namun entah mengapa pemerintah hampir terlambat dan kita menyaksikan bagaimana kemarahan publik muncul dengan banyak rupa.

Sudah banyak yang menangis dan takut. Sebagian yang lain mulai cemas karena bayang-bayang kematian sudah datang dalam bentuk rasa lapar. Sudah banyak yang hadir membantu, kita apresiasi cukup tinggi sebagai anak bangsa yang masih peduli.

Hingga kini peristiwa bencana banjir dan longsor Sumatera belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Maka itulah Bencana Nasional yang sebenarnya bahwa kita tak pernah benar-benar setara. 

Oleh: Adi Munazir (Perantau Gayo)

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan pikiran-pikiran anda via website kami!

Related posts

Leave a Comment