Modernis.co, Yogyakarta – Nuansa pembaruan wajah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DIY akan segera dilaksanakan, dalam waktu dekat. Pada akhirnya harapan demi harapan ditujukan kepada IMM DIY agar dapat menjalankan nilai-nilai yang telah menjadi pilar kehidupan dan keberlangsungan IMM.
Kala pergantian kepemimpinan yang saat ini telah di ujung periode yang di nahkodai oleh M. Taufiq Firdaus selaku Ketua Umum, mencoba membangun narasi yang bersemayam harapan dengan tema “Nawasena Ikatan”.
Barang tentu asa masa depan yang baik bagi IMM DIY menjadi sebuah keharusan moral bagi seorang pemimpin ketika mencari suksesornya. Makna pergantian ini pula bukan untuk bertujuan mencari entitas seorang yang berkedudukan, akan tetapi pergantian dewasa ini berkaitan dengan nilai-nilai yang telah menjadi acuan untuk kader-kader IMM.
Pasca dari Musyda sebelumnya tentu banyak pelajaran dan getir dinamika yang dibangun. IMM DIY berdiri bukan atas orang-orang yang pragmatis atau nir moral. IMM DIY hadir dalam ruang intelektual yang dibangun dengan risalah perjuangan yang panjang.
Masa lampau memang tidak mampu menjawab tantangan masa kini. Namun, masa lampau memberi pelajaran yang banyak kepada setiap insan manusia. Musyda IMM DIY harus pula belajar dari yang telah terjadi di masa lampau. Tidak perlu lagi binal dengan kekuasaan dan praktik politik pragmatis.
Melainkan memulai dengan politik gagasan yang selama ini mulai pudar tidak hanya di wajah politik bangsa Indonesia pun menjangkit kepada tubuh IMM DIY dengan pelan tapi pasti. Oleh karenanya pilihan IMM DIY tidak ada selain mencoba kontemplasi mendalam ketika melaksanakan Musyda.
Musyda merupakan gerbang awal perubahan yang lebih baik, jika gerbang awal ini dimulai dengan langkah-langkah yang amat jauh dari nilai-nilai intelektual maka jurang perih itu akan hadir untuk wajah IMM DIY kedepannya.
Kader-kader IMM tidak lagi hadir dalam wajah politik kotor akan tetapi sesuai dengan jargon Muhammadiyah High Politic. Mengutamakan nilai-nilai moral dan intelektual. Makna moderasi yang ada dalam Risalah Islam Berkemajuan, juga menerangkan tentang kompetensi karakteristik kader Muhammadiyah.
Maka sudah barang tentu pilihan maupun risalah Musyda kali ini mengedepankan nilai-nilai tersebut, tentunya tidak hanya persoalan pergantian kepemimpinan akan tetapi juga rekomendasi serta mengejawantahkan nilai gerakan IMM kedepannya.
Tatkala nir moral, degradasi intelektual dan ketidakpastian hadir IMM DIY tidak boleh jatuh dan terbawa arus sehingga kehilangan jati diri yang telah mengkristal secara pekat dibangun oleh kader-kader terdahulu.
Berangkat dari hal tersebut IMM lebih baik ketika dalam setiap perjalanannya dengan rutin dimulai dengan nurani kebajikan, mengutamakan pendekatan altruisme dan wasathiyah. Sebagai arah gerakan yang diinginkan dalam mewujudkan trilogi IMM dapat berjalan selaras.
Ketika memasuki perjalanan yang panjang IMM DIY perlu menilik setiap aspirasi yang dikemukakan oleh kader-kader, tantangan zaman pergulatan mengenai degradasi moral dan etika, muncul menjadi sebuah ujian untuk kader-kader IMM DIY, pada akhirnya memberikan kepercayaan dan optimisme bahwa kader-kader IMM DIY masih menilik secercah harapan.
Seperti yang termaktub dalam buku “Suluh dari Surau” bahwa Kumpulan-kumpulan pemikiran yang mengalami keterbatasannya, masih ada pula harapan bagi IMM untuk tampil memberi secercah harapan yang begitu dalam untuk menjadi bagian dari perjuangan terhadap nilai-nilai peradaban.
Sehingga semboyan “Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual” dapat teraktualisasi dengan baik oleh wajah IMM DIY kedepannya. Terakhir IMM DIY tidak dapat berkhidmat kepada nilai profetik bilamana tidak membaktikan diri kepada gerakan intelektual.
Menurut Gramsci intelektual bukanlah untuk orang-orang yang cerdas semata, akan tetapi orang-orang yang peduli dalam menjalankan setiap nilai kebaikan yang telah ditanamkan dalam menjalankan kehidupan.
Oleh: Tegar Lesmana (Aktivis IMM Yogyakarta)



Kirim Tulisan Lewat Sini