Modernis.co, Jakarta – Kamu pernah dengar istilah Brand Equity nggak, suatu teknik marketing yang bikin konsumen rela merogoh kocek untuk membeli daganganmu bisa terjual jauh lebih mahal.
Kamu pasti pernah menemukan dan sering bertanya-tanya mengapa sepasang sepatu dari merek terkenal bisa berharga jutaan rupiah, sementara sepatu lain dengan fungsi yang sama persis bisa didapatkan dengan harga jauh lebih murah?
Seperti langit dan bumi, kenapa harganya terpaut jauh? Jawabannya terletak pada konsep “jual brand” atau menjual merek, bukan hanya produknya.
Menjual merek adalah strategi bisnis di mana perusahaan tidak hanya menawarkan barang fisik, tetapi juga nilai-nilai tak berwujud yang melekat pada merek tersebut.
Nilai-nilai ini, yang sering disebut sebagai ekuitas merek (brand equity), adalah alasan utama mengapa konsumen rela membayar mahal untuk produk yang secara fungsional serupa dengan produk lain.
Elemen-Elemen yang Membuat Brand Menjadi “Mahal”
Ekuitas merek tidak muncul begitu saja. Ia dibangun dari berbagai elemen yang dikelola secara konsisten oleh perusahaan. Berikut adalah faktor-faktor yang membuat brand besar memiliki harga premium:
1. Reputasi dan Kepercayaan (Trust)
Sebuah brand besar seringkali memiliki reputasi yang kokoh dalam hal kualitas, ketahanan, dan keandalan produk.
Mereka juga menjual cerita atau pengalaman positif yang dikampanyekan oleh pengguna ke pengguna lain, hal ini terjadi selama bertahun-tahun demi membangun kepercayaan.
Ketika kamu membeli produk dari merek ternama, kamu tidak hanya membeli barangnya, tetapi juga jaminan bahwa produk tersebut telah melalui proses kontrol kualitas yang ketat dan akan berfungsi sesuai harapan.
Kepercayaan merupakan pondasi dalam semua lini kehidupan. Untuk membangun kepercayaan, dibutuhkan dedikasi melalui pembuktian dan memberitahu bukti itu kepada orang banyak, salah satunya dengan iklan.
2. Pengalaman dan Status Sosial
Sebuah merek sering kali menjual pengalaman, bukan hanya produk. Merek-merek mewah, misalnya, menjual status sosial, rasa percaya diri, dan identitas.
Konsumen membeli produk tersebut untuk menunjukkan selera, kesuksesan, atau untuk menjadi bagian dari komunitas tertentu, bahkan ciri khas dari style tertentu.
Dalam kasus ini, produk berfungsi sebagai “tanda” atau simbol, yang memiliki nilai lebih dari sekadar kegunaan fisiknya.
3. Pemasaran dan Iklan (Branding)
Kamu tidak bisa menjadi merek besar tanpa upaya pemasaran yang masif. Perusahaan menghabiskan miliaran rupiah untuk kampanye iklan, kerja sama dengan selebritas, dan menciptakan narasi yang kuat seputar merek mereka.
Biaya-biaya ini tentu saja dibebankan ke dalam harga jual produk. Namun, iklan ini berhasil membentuk persepsi di benak konsumen bahwa merek tersebut adalah yang terbaik, paling diinginkan, atau paling bergengsi.
Namun sebagai penjual pemula, kamu dapat memulainya dengan mengajak relasi dan orang penting disekitar jangkauanmu untuk mempromosikan produkmu. Tentu saja, mereka memiliki relasi lain yang akan bermanfaat pada jualanmu.
4. Desain dan Inovasi
Merek-merek besar menginvestasikan dana besar untuk riset, pengembangan, dan desain produk. Mereka mempekerjakan desainer dan insinyur terbaik untuk menciptakan produk yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga memiliki estetika unik dan inovasi teknologi terkini.
Desain yang ikonik dan fitur-fitur mutakhir ini menjadi pembeda yang membuat produk mereka terasa eksklusif dan lebih unggul.
5. Layanan Pelanggan dan Garansi
Brand besar sering kali menawarkan layanan purna jual yang lebih baik, seperti garansi yang lebih lama, layanan perbaikan yang mudah diakses, atau tim dukungan pelanggan yang responsif.
Kualitas layanan ini memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi konsumen, dan mereka bersedia membayar lebih untuk ketenangan pikiran tersebut.
Pada akhirnya, “jual brand” adalah tentang menciptakan nilai yang melampaui produk itu sendiri. Meskipun secara fungsi dasar produk-produk tersebut sama, nilai tambah berupa kepercayaan, reputasi, desain, dan status sosial lah yang membedakan harga dan menjadikannya mahal di mata konsumen.
Dengan kata lain, kita tidak hanya membeli “barang”, tetapi juga “cerita” dan “janji” yang dibawa oleh merek tersebut. Dan dewasa ini, sebuah brand dapat menentukan status sosial di kalangan tertentu yang meyakininya. (IF)




Kirim Tulisan Lewat Sini