Melawan Mortalitas!

salim akbar

Modernis.co, Malang Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Itu dalil awal yang perlu kita cermati pertama kali. Jika kita mengambil kesimpulan bahwa tidak akan abadi setiap yang bernyawa, seketika itu semua orang akan berkata itu benar.

Namun jika kita katakan yang mematikan setiap yang bernyawa adalah Allah, maka akan ada yang tidak setuju, yaitu para penganut ateisme. Ateisme adalah paham orang-orang yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan atau dalam kata lain mereka mengingkari adanya Allah yang maha menciptakan alam semesta.

Akan tetapi percaya atau tidak, bahwa di dalam hati seorang hamba terdapat butir-butir sifat ilahi sebelum dia dilahirkan di muka bumi, yakni fitrah untuk bertuhan dan berbuat baik. Jika kita mencoba menyimpulkan, maka tidak mungkin orang-orangateis ini sanggup melawan fitrahnya sendiri.

Bisa jadi mereka mampu melawan fitrahnya sendiri sebagai manusia dengan ucapan dan tindakan. Namun mereka tidak akan mampu bertahan lama untuk menjaga kebohongan terhadap eksistensi Allah dalam kehidupannya.

Kita kembali lagi kepada fenomena kematian atau mortal. Fenomena kematian ini menjadi legenda dalam kehidupan setiap yang bernyawa, begitu juga dengan manusia. Fenomena kematian ini bagi sebagian manusia  menjadi momok dan penyesalan bagi mereka yang belum sepenuhnya pasrah pada takdir Allah.

Kurang lebih seperti itu. Sehingga tidak heran jika banyak orang yang menyesal begitu dalam ketika melihat saudaranya meninggal dunia. Terlebih jika faktor penyebab kematiannya adalah orang lain, bisa jadi dia tidak segan-segan untuk balas dendam.

baca juga opini lainnya : Asa di Tengah Tangis Masyarakat Indonesia

Bagaimana tidak, sosok Qabil seorang anak nabi saja tega membunuh Habil hanya gara-gara ketidakrelaan si Qabil menerima keputusan bahwa saudara perempuannya yang cantik dan menarik dipasangkan dengan si Habil yang berparas kurang tampan. Apalagi gara-gara kematian seseorang yang dia sayangi.

Oleh sebab itu, tidak jarang ada kasus pembunuhan dilatarbelakangi karena ketidakterimaan seseorang yang dia sayangi direbut atau di bunuh. Kematian adalah fenomena ketetapan Allah yang menyelimuti setiap yang bernyawa.

Allah menyampaikan firmannya di dalam Al-Qur’an tentang kematian “Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Jumu’ah: 8).

Begitu tegas yang Allah katakan di dalam firman-Nya tersebut, bahwa manusia tidak akan bisa lari dari kematian. Dengan kata lain, manusia pasti akan menjumpai suatu kematian. Namun terlepas dari itu, pernahkah kita berfikir bahwa manusia dapat menahan kematiannya, atau berumur lebih panjang dari umumnya?. Tulisan ini akan menjelaskan sedikit tentang pesimisme dan optimisme atas fenomena mortalitas.

Paradigma Menyikapi Fenomena Kematian

Berbicara tentang fenomena kematian, terdapat beberapa paradigma yang digunakan dalam menyikapi fenomena ini. Bagi kaum pertama, kematian adalah suatu keniscayaan yang sudah semestinya terjadi dan tidak bisa dibantah lagi. Meski apapun yang dipertaruhkan demi bertahan hidup, tidak ada gunanya dan tidak ada pengaruhnya jika ketetapan Allah sudah ditegakkan.

Kemanapun, dimanapun, seketat apapun, sekokoh apapun bangunan untuk kita bersembunyi tidak akan mampu mengelak dari kematian. Seperti yang tercantum dalam firman-Nya, (QS. An-Nisa’:78) bahwa “dimana saja kamu berada, kematian akan mendapati kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. Jika kita cermati, bahwa terdapat pesimisme yang menjalar pada diri kaum yang pertama ini.

baca juga opini lainnya : Desa Mandiri Masih Dalam Angan-Angan

Berbeda dengan kaum kedua, mereka memiliki paradigma yang optimis dalam menyikapi kematian, yaitu dengan usaha sekeras mungkin, bahkan merelakan semua hartanya untuk hidup lebih lama. Melepas pemikiran bahwa Allah adalah bukan satu-satunya penyebab fenomena ini. Mereka memandang bahwa kematian adalah bentuk kesalahan teknis bukan semata-mata fasis atau otoritas Allah secara mutlak.

Jantung berhenti memompa darah. Arteri utama tersumbat oleh timbunan lemak. Sel-sel kanker menyebar di hati. Kuman berbiak di paru-paru. Apa yang menjadi penyebab masalah-masalah teknis tersebut?. Jantung berhenti memompa darah karena tidak cukup oksigen yang mencapai otot jantung.

Karena mutasi genetik tiba-tiba menulis ulang instruksi mereka. Seseorang berada di lingkungan kumuh yang tidak layak dihuni. Semuanya tidak ada yang metafisik dalam hal ini. Semuanya adalah masalah teknis.  

Sejauh ini para peneliti berusaha penuh untuk bagaimana cara hidup lebih lama. Bahkan minoritas ilmuwan dan pemikir menyatakan bahwa misi andalan sains modern adalah mengalahkan kematian dan memberi manusia usia muda abadi.

Sekilas kita berpikir bahwa itu tidak mungkin. Karena mengingat bahwa usia semakin tua maka tubuh pun secara tidak langsung ikut melemah. Namun bagi para ilmuwan dan pakar ini, semuanya tidak ada yang tidak mungkin. Kendatipun itu tidak juga mudah.

Perkembangan dalam bidang kesehatan sungguh luar biasa, seperti rekayasa genetik, pengobatan regeneratif, dan teknologi nano memperkuat optimistis kaum kedua ini. Para ahli percaya bahwa manusia akan mengatasi kematian pada tahun 2200, yang lain mengatakan tahun 2100.

Lebih parahnya lagi, para gerontology Aubrey de Grey dan ilmuwan serba bisa Ray Kurzweil (peraih US National Medal of Technology and Innovation tahun 1999) optimis bahwa pada tahun 2050 akan menghasilkan pencapain serius dalam imortalitas dengan menyiasati kematian satu dekade dalam satu waktu.

Selama 10 tahun atau lebih kita akan menuju klinik untuk menerima perawatan perombakan yang bukan hanya menyembuhkan penyakit, namun juga meregenerasi sel-sel yang ada. Tentunya mampu mengembalikan kita seperti sedia kala atau kembali menjadi muda. 

Yang perlu kita pahami di sini adalah bahwa Allah telah menetapkan di dalam Al-Qur’an (QS. Al-Imran: 185) bahwa, “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”, bukan Allah akan mematikan setiap yang bernyawa tanpa sebab. Artinya, Allah hanya menetapkan kematian bagi setiap yang bernyawa. Dengan kata lain, setiap yang bernyawa tidak kekal atau abadi.

Dengan demikian kita bisa mencerna bahwa ada ruang kosong yang perlu dipahami dan sekaligus diperjuangkan oleh makhluk itu sendiri, yaitu Allah tidak menetapkan waktu bagi makhluk untuk meninggal atau mati. Oleh karena itu, HAM memberikan hak untuk hidup. Tidak ada patokan waktu akan hidup itu sendiri. 

Merujuk dari kedua paradigma di atas, hemat saya bahwa kelemahan dari kaum pertama lebih condong menyerahkan penuh fenomena mortalitas kepada Allah, sehingga lupa akan usaha maksimal dalam memperjuangkan toleransi ketetapan Allah atas dirinya. Sedangkan kaum yang kedua memiliki optimistis yang sungguh luar biasa dalam segala peristiwa khususnya kematian.

Akan tetapi yang menjadi kesalahan fatal adalah jika meyakini bahwa Allah tidak memiliki otoritas penuh kepada dirinya. Oleh karena itu, seyogyanya hadir kaum yang ketiga, yakni mengakui bahwa kematian adalah hak prerogatif Allah, namun tetap optimis dalam menghadapi dan pantang menyerah dalam memperjuangkan hidupnya. Termasuk menggunakan solusi yang ditawarkan para ilmuwan dan pakar tersebut. Mengingat bahwa maut memang benar-benar akan hadir menghampiri kita.  

Berbeda dengan Kaum kedua,mereka memiliki paradigma yang optimis dalam menyikapi kematian, yaitu dengan usaha sekeras mungkin, bahkan merelakan semua hartanya untuk hidup lebih lama. Melepas pemikiran bahwa Allah adalah bukan satu-satunya penyebab fenomena ini.

Mereka memandang bahwa kematian adalah bentuk kesalahan teknis bukan semata-mata fasis atau otoritas Allah secara mutlak. Jantung berhenti memompa darah. Arteri utama tersumbat oleh timbunan lemak. Sel-sel kanker menyebar di hati. Kuman berbiak di paru-paru. Apa yang menjadi penyebab masalah-masalah teknis tersebut?.

Jantung berhenti memompa darah karena tidak cukup oksigen yang mencapai otot jantung. Karena mutasi genetik tiba-tiba menulis ulang instruksi mereka. Seseorang berada di lingkungan kumuh yang tidak layak dihuni. Semuanya tidak ada yang metafisik dalam hal ini. Semuanya adalah masalah teknis.  

Sejauh ini para peneliti berusaha penuh untuk bagaimana cara hidup lebih lama. Bahkan minoritas ilmuwan dan pemikir menyatakan bahwa misi andalan sains modern adalah mengalahkan kematian dan memberi manusia usia muda abadi. Sekilas kita berpikir bahwa itu tidak mungkin, karena mengingat bahwa usia semakin tua maka tubuh pun secara tidak langsung ikut melemah.

Namun bagi para ilmuwan dan pakar ini, semuanya tidak ada yang tidak mungkin, kendatipun itu tidak juga mudah. Perkembangan dalam bidang kesehatan sungguh luar biasa, seperti rekayasa genetik, pengobatan regeneratif, dan teknologi nano memperkuat optimistik kaum kedua ini.

Oleh karena itu seyogyanya hadir kaum yang ketiga, yakni mengakui bahwa kematian adalah hak prerogatif Allah, namun tetap optimis dalam menghadapi tanpa menyerah dalam memperjuangkan hidupnya, termasuk menggunakan solusi yang ditawarkan para ilmuwan dan pakar tersebut. Mengingat maut banar-benar akan hadir menghampiri kita. 

baca juga opini lainnya : Imperialisme 4.0 Semiotic Terancamnya Eksistensi Manusia

Akhir kata, Perlu kita pahami bahwa Allah tidak tidur dan sangat menghargai usaha, serta kerja keras seorang hamba. Percaya atau tidak bahwa siapapun tidak akan mampu menahan kekuasan dan kebesaran-Nya dalam setiap sudut kehidupan. Tidak akan mampu menghalangi rahmat-Nya ketika sayap rahmat itu sudah dikibaskan.

Oleh: Salim Akbar (Aktivis IMM Tamaddun/Peneliti di PeaceLink Malang)

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan pikiran-pikiran anda via website kami!

Leave a Comment