Modernis.co, Jakarta – Latar belakang berdirinya Pemuda Muhammadiyah syarat historis yang mendalam. Sebuah gagasan besar di tengah kondisi masyarakat yang pada awal abad ke-20 masih tergolong sulit. Termasuk untuk mendirikan sebuah organisasi.
Coba bayangin suasana Indonesia awal abad ke-20. Negeri ini masih dijajah, pendidikan masih terbatas, dan banyak anak muda yang sebenarnya punya semangat gede, akan tetapi belum punya wadah buat bergerak bareng.
Di tengah situasi itu, Muhammadiyah yang berdiri tahun 1912 sudah mulai aktif membangun sekolah, rumah sakit, dan gerakan dakwah pembaruan Islam.
Akan tetapi ada satu pertanyaan pentings terkait iapa yang bakal nerusin perjuangan di Persyarikatan Muhammadiyah kalau bukan anak mudanya?
Nah, dari situlah cerita Pemuda Muhammadiyah dimulai.
Dari Kesadaran Regenerasi
Muhammadiyah sadar betul, gerakan sebesar ini gak bisa cuma bertumpu pada tokoh-tokoh senior. Harus ada regenerasi. Harus ada anak-anak muda yang bukan cuma semangat, tapi juga punya visi, akhlak, dan keberanian.
Apalagi waktu itu, semangat kebangsaan juga lagi menggelora. Organisasi-organisasi pemuda bermunculan. Anak muda Indonesia mulai sadar bahwa mereka punya peran penting dalam perubahan.
Di lingkungan Muhammadiyah sendiri, sebenarnya sudah ada aktivitas kepemudaan. Para remaja dan pemuda sering dilibatkan dalam pengajian, pendidikan, dan kegiatan sosial. Tapi makin lama, kebutuhan akan organisasi yang lebih terstruktur makin terasa.
Anak muda butuh ruang khusus untuk belajar memimpin, berdiskusi, berorganisasi, dan bergerak sesuai karakter mereka yang enerjik dan penuh idealisme.
Akhirnya, pada 2 Mei 1932 di Yogyakarta, lahirlah Pemuda Muhammadiyah. Tanggalnya gak sembarangan, lho. Bangsa Indonesia juga memperingati 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal itu seolah membawa pesan simbolis bahwa kita gak bisa memisahkan pemuda dari pendidikan.
Latar Belakang Berdirinya Pemuda Muhammadiyah
Pertama, kebutuhan regenerasi. Muhammadiyah ingin memastikan perjuangan dakwah dan pembaruan Islam terus berjalan lintas generasi.
Muhammadiyah harus menyiapkan anak muda sejak dini agar mereka memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus wawasan kebangsaan yang luas.
Kedua, semangat kebangkitan nasional. Saat itu, pemuda jadi motor pergerakan. Sumpah Pemuda 1928 sudah mengguncang kesadaran bangsa.
Muhammadiyah gak mau ketinggalan. Organisasi ini ingin anak mudanya juga aktif membangun bangsa, bukan cuma diam di pinggir lapangan.
Ketiga, pembinaan karakter. Pemuda Muhammadiyah hadir untuk membentuk generasi muda yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Jadi bukan cuma pintar secara intelektual, tapi juga kuat secara moral. Karena kalau cuma pintar tanpa akhlak, bisa bahaya. Dan kalau cuma semangat tanpa arah, bisa gampang salah jalan.
Keempat, kebutuhan wadah perjuangan yang sesuai usia. Anak muda punya gaya sendiri. Cara berpikirnya cepat, kadang kritis, kadang meledak-ledak. Kalau gak diarahkan, pemuda bisa jadi liar. Tapi kalau dibina dengan baik, justru jadi energi besar untuk perubahan.
Melebarkan Sayap Dakwah
Sejak awal berdiri, Pemuda Muhammadiyah memposisikan diri sebagai organisasi perkaderan. Artinya, tugas utamanya bukan sekadar bikin kegiatan seru, tapi mencetak kader-kader pemimpin masa depan.
Dari sinilah lahir banyak tokoh yang berperan di masyarakat, bahkan di tingkat nasional. Berlatih kepemimpinan di Pemuda Muhammadiyah membuat mereka lebih siap berperan sebagai pemimpin.
Kalau ditarik ke hari ini, semangat itu sebenarnya masih relevan banget. Dunia terus berubah, tantangan makin kompleks.
Tapi satu hal gak berubah yaitu bangsa ini tetap butuh anak muda yang berani berpikir, berani bergerak, dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam yang mencerahkan.
Jadi, lahirnya Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar sejarah organisasi. Itu adalah jawaban atas kebutuhan zaman. Oleh karena itu juga Pemuda Muhammadiyah melebarkan sayap pergerakan.
Organisasi tersebut dewasa ini mulai bergerak di berbagai bidang. Memberdayakan para pemuda-pemuda untuk terus berkembang sesuai potensi diri dan bakat yang dimiliki.
Mereka bergerak dan bermanfaat bukan untuk kalangan pemuda, tapi semua usia dan berbagai kalangan. Sehingga efek positif dari setiap kegiatan bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Langkah itu menegaskan bahwa masa depan berada di tangan pemuda, dan kita harus membina pemuda yang kuat sejak awal.
Pada akhirnya, anak-anak muda yang berani berkata, “Kita siap melanjutkan perjuangan,” selalu memulai setiap gerakan besar.




Kirim Tulisan Lewat Sini