Modernis.co, Malang – “Idealis-Pragmatis” seiring dengan perkembangan zaman diiringi pula berbagai macam perubahan terutama perubahan sosial dan teknologi. Sehingga akibat dari perubahan-perubahan tersebut memunculkan era baru untuk menyesuaikan diri.
Sebagai generasi milenial, konsekuensi terbesar adalah segala yang dibutuhkan harus bersandar dan bergantung pada teknologi. Alhasil teknologi menjadi alternatif primer dalam menunjang kebutuhan masyarakat. Ketergantungan tersebut mendorong kita untuk menggunakan teknologi secara besar-besaran.
Bahkan semua yang dilakukan harus menggunakan teknologi. Sebagai seorang mahasiswa yang juga merupakan bagian terkecil dari masyarakat sebagai agen perubahan. Maka secara metodik maupun aplikatifnya tetap menggunakan teknologi sebagai alat gerakan. Oleh karenanya fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan tersebut tetap tersampai pada masyarakat.
Dalam memulai sebuah gerakan harus kritis dan mampu mengidentifikasi secara mendalam pokok masalah yang terjadi dalam masyarakat. Untuk membangun kesadaran secara kritis agar dapat melakukan perubahan dalam masyarakat tidak mudah. Ketika tidak ada rasa kepekaan atau sensitivitas yang didasarkan pada ideologi.
Maka untuk memunculkan kepekaan tersebut harus matang secara ideologi agar mampu membaca, memahami, serta menilai siapa yang membutuhkan pertolongan. Siapa yang ditindas, siapa yang dihisap, dan siapa yang dimarjinalkan. Serta mampu melihat dan menilai siapa yang menindas, siapa yang memarjinal dan siapa yang menghisap.
Kematangan secara ideologi sangat diperlukan dalam membentuk idealisme. Agar terbentuknya rasa kepekaan terhadap kemiskinan yang tertindas secara struktural atas kebijakan birokrasi yang tidak pro terhadap masyarakat kecil. Serta kemiskinan secara kultural yang disebabkan karena keturunan.
Untuk menjawab persoalan-persoalan pokok yang terjadi di masyarakat, tentu solusi-solusi yang dihadirkan harus kreatif dan inovatif. Sehingga solusi tersebut disesuaikan dengan perkembangan zaman dan memberikan kebermanfaatan.

Kebermanfaatan yang menjadi tujuan akhir dari gerakan perubahan itu secara pragmatik tetap dinikmati oleh pelaku perubahan. Artinya, pelaku perubahan tetap dapat menikmati hasil dari usaha perubahan tersebut.
Agar tetap terjaganya idealisme dan independensi, secara ekonomi pelaku perubahan harus tercukupi. Supaya tidak mudah disusupi oleh kepentingan sepihak. Sehingga idealisme itu tetap ada dan tidak tergadaikan hanya kepentingan pribadi yang sesaat.
Mengkolaborasikan antara idealisme dan pragmatisme harus menjadi pola baru dalam gerakan hari ini. Dikarenakan tuntutan zaman yang semakin kompleks, sikap individualisme dan pragmatisme belaka menjadi penyakit terbesar. Munculnya apatis terhadap kepentingan sosial maka perpaduan antara idealisme dan pragmatisme harus dijadikan landasan gerak hari ini.
Dalam melakukan perubahan tentu kepentingan secara pribadi tetap ada yang menimbulkan persaingan. Sehingga antara yang satu dengan yang lain merupakan lawan yang mengakibatkan “Homo sacral homus” manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain. Kepentingan dan ego individu yang tidak bisa dihilangkan memunculkan persaingan yang ketat. Sehingga ada yang menganggap diri yang paling superior dan yang lain dianggap inferior.
Pola lama yang dikembangkan seharusnya hari ini sudah tidak dipakai lagi. Dikarenakan persaingan tersebut secara tidak langsung menghambat yang lain untuk ikut serta dalam membangun dan berkontribusi secara aktif dalam melakukan perubahan.
Agar tercapainya substansi gerakan untuk mencapai perubahan, paradigma persaingan harus diubah. Harus mencoba membangun paradigma baru dari paradigma persaingan menjadi paradigma kolaboratif. Sehingga antara yang satu dengan yang saling mendukung dan saling membesarkan.

Kolaboratif dengan memposisikan yang lain sebagai partner gerakan perubahan untuk menunjang pembangunan. Selama ini yang menjadi penghambat perubahan adalah saling bersaing tanpa mengenal batas-batas kewajaran. Menimbulkan persaingan tidak sehat yang menyebabkan saling menjatuhkan antara yang satu dengan yang lain.
Padahal tujuan yang diperjuangkan sama-sama untuk rakyat demi pembangunan yang berkemajuan dan sejahtera. Agar terbentuknya sinergitas gerakan dengan kolaborasi antara satu dengan yang lain.
Secara psikologi gerakan dan psikologi subjek dan objek serta agar lebih mudah dan efisiensi efektifitas gerakan perlu adanya formula gerakan melalui gerakan komunitas. Gerakan komunitas secara struktur tidak terlalu terikat artinya gerakan ini ada karena adanya kesukarelaan dalam suatu komunitas tersebut.
Ketidakterikatan seseorang terhadap formalistik struktural membuat setiap anggota tidak terbebani dengan tanggung jawab yang mengikat dir. Mereka secara periodik serta tidak perlu adanya laporan pertanggung jawaban atas program kerja yang terlaksana maupun tidak terlaksana.
Gerakan komunitas yang atas dasar kesukarelaan setiap anggota ternyata dewasa ini banyak sekali yang meminatinya. Terutama di kalangan generasi milenia dikarenakan gerakan komunitas kebanyakan langsung terjun ke masyarakat secara proaktif dan sangat simpel dan relatif terjangkau oleh setiap mahasiswa.
Dalam menjawab problematika sosial melalui gerakan komunitas. Maka perlu dilihat secara kritis pula apa yang menjadi sumber kemiskinan tersebut lantas penanggulangannya tidak bisa diberdayakan melalui sumbangan ekonomi. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan ketergantungan yang mengakibatkan kurangnya kreativitas dan inovasi.
Gerakan pemberdayaan harus melalui penyadaran dan pemberdayaan pola pikir masyarakat. Melalui pengembangan potensi diri sehingga produktif. Pada akhirnya dapat mandiri dan memberdayakan yang lain. Pola saling menyadarkan dan memberdayakan potensi diri menjadi simbiosis mutualisme.
Untuk mengakhiri tulisan ini. Penulis menekankan bahwa setiap gerakan yang dilakukan tentu bertujuan untuk kepentingan bersama. Dalam hal ini kami menilai gerakan-gerakan yang dilakukan dengan berbagai strategi dan taktik hampir sama.
Pada umumnya pola vertikal dan horizontal, dalam tulisan ini kami mencoba menawarkan pola gerakan idealis pragmatis atas landasan keefektifitasan dan efisiensi gerakan. Berpegang teguh pada idealisme dan pemenuhan kebutuhan pelaku gerakan tentu sasaran dan tujuannya tetap sama.
Oleh : Firdaus (Ketua Bidang Hikmah, IMM Tamaddun FAI 2017-2018).

Kirim Tulisan Lewat Sini