Modernis.co, Jakarta – Tingkatkan penjualan produk lewat Tiktok. Sebuah aplikasi yang pada awal kemunculannya cuma bikin orang skeptis, kini jadi satu pintu untuk mendapatkan cuan. Bahkan jadi sumber penghasilan utama.
Sebuah platform yang awalnya cuma diisi sama konten joget-joget ini, sekarang sudah naik level jadi mesin penghasil cuan.
Banyak brand kecil sampai UMKM yang awalnya cuma iseng upload video, eh tiba-tiba orderan masuk tanpa henti.
Selain itu, banyak orang yang mulai membuat konten. Ketika jumlah pengikut dan like sudah ramai, mereka akan mendapat cuan dari brand yang ingin diendorse.
Banyak pengalaman dan penelitian soal algoritma TikTok yang dinilai lebih cepat untuk mencapai fyp. Sehingga, platoform ini sangat cocok untuk meningkatkan penjualan produk.
Berikut ini cara meningkatkan penjualan produk lewat TikTok, ini sama kayak kamu lagi bajak algoritma biar cepet dapat banyak orderan.
1. Kenali Pasar, Bukan Asal FYP
Pertama-tama, kamu harus tahu dulu siapa yang mau kamu ajak ngobrol. Maksudnya, kamu harus tepat segementasiin target pasarmu.
Apakah anak sekolah? Mahasiswa? Ibu rumah tangga? atau bunda-bunda sosialita? Atau anak nongkrong yang hidupnya nggak jauh dari kopi dan WiFi?
Kalau udah nemu segmentasimu, kamu kudu ngesetting gaya konten dan komunikasimu buat narik minat mereka. Sehingga penjualan produk lewat TikTok bisa dioptimalkan.
Konten TikTok itu sangat dipengaruhi gaya hidup dan pergaulan. Anak yang lingkungannya bebas, sering nongkrong, ikut tren, biasanya suka konten yang berani, jujur, dan apa adanya.
Tapi ingat, bebas bukan berarti kebablasan. Kamu tetap harus jaga nilai dan etika, apalagi kalau targetmu remaja.
2. Pakai Cerita, Bukan Hard Selling
Orang TikTok alergi sama iklan yang terlalu niat. Baru 3 detik, sudah ngomong “beli sekarang juga!”, penonton bakal langsung swipe.
Coba ubah pendekatan jadi lebih alus. Misalnya, kamu cerita dulu. Kasih masalah harian dan hubungin ke produk yang lagi dijual. Hal ini bikin penjualan produk lewat TikTok lebih berhasil.
“Gue tuh dulu insecure banget tiap nongkrong karena jerawatan. Pergaulan makin luas, ketemu banyak orang, jadi sering insecure dan gak pede. Semakin ke sini, penampilan harus lebih dipikirin. Aku pakai …”
Dari situ, kamu masukin produk kamu sebagai solusi. Cerita kayak gini terasa nyata, dekat, dan relevan sama kehidupan sehari-hari.
Kalau produk kamu berhubungan dengan kesehatan, fashion, atau self-improvement, kamu bisa masuk lewat konten edukasi. Lalu hubungkan dengan solusi yang produkmu tawarkan.
Ingat ya, edukasi di TikTok harus singkat, padat, dan relate. Jangan kayak dosen ngajar 2 SKS. Makanya, belajar terus buat bikin konten yang ringkas tapi full info dan tetap menarik.
3. Manfaatkan Tren, Tapi Punya Batas
Platform media sosial TikTok dipenuhi dengan trend yang sangat dinamis. Hari ini trendnya “kalau ada sembilan nyawa”, besok udah tren “ku lepas kacamata”.
Tren bisa dari sound viral, challenge, gaya ngomong, sampai outfit, hook baru. Oleh karena itu, kamu kudu ikutan dan wajib adaptif sama hal baru. Namun, jangan sampai demi views, kamu ngorbanin nilai brand yang udah kamu bangun.

Dinamisnya perubahan fyp konten di TikTok terkadang mendorong konten yang terlalu terbuka atau sensasional. Akan tetapi terlihat kosong makna.
Kalau kamu jualan, fokuslah ke value produk, bukan kontroversinya. Ingat, penjualan produk yang sehat itu yang berkelanjutan, bukan viral sesaat terus tenggelam.
4. Bangun Kepercayaan Lewat Interaksi
Balas komentar, bikin video reply, sapa followers pakai bahasa santai. Anggap aja mereka teman nongkrong, bukan calon pembeli semata.
Di zaman sekarang ini, orang gampang terpengaruh tapi juga gampang curiga. Lebih tepatnya sih waspada ke hal-hal yang mungkin bisa merugikan. Makanya, kepercayaan itu mahal.
Saat kamu mulai konsisten muncul, review jujur produk sendiri, dan terbuka soal kelebihan-kekurangannya, orang bakal lebih respect dan percaya.
5. Live Stream di Tempat Nongkrong + Jualan
Live TikTok itu ibarat tongkrongan virtual. Kamu bisa ngobrol santai, cerita pengalaman, jawab pertanyaan, sambil promosi produk. Gak nembak langsung, tapi sedikit banyak bakal ngaruh ke penjualann produk.
Topik obrolannya bisa ringan, termasuk soal kehidupan sehari-hari, tekanan pergaulan, atau gaya hidup sehat di tengah lingkungan yang bebas.
Selipin pesan positif tanpa menggurui. Orang suka penjual yang terasa manusiawi, bukan kaku kayak robot iklan. Gapapa lah jadiin live TikTok buat jadi manusia pada umumnya.
Meningkatkan penjualan lewat TikTok itu bukan cuma soal algoritma, akan tetapi soal hubungan sosial digitialmu dengan followers dan calon pembeli.
Kalau kamu bisa hadir sebagai brand yang asik, jujur, dan punya nilai, kamu nggak cuma dapet pembeli, tapi juga komunitas sosial yang solid ke produkmu.
Dan dari situlah penjualan bisa jalan terus, bukan cuma numpang lewat di FYP yang iklimnya musiman. Gimana menurutmu?




Kirim Tulisan Lewat Sini