5 Realita Pahit Anak Kos yang Jarang Diceritakan di Rumah

realita pahit anak kos

Modernis.co, Jakarta – Anak kos menyimpan segudang realita pahit kehidupan yang jarang banget diceritain pas di rumah. Alasannya, mereka takut bikin orang rumah kecewa dan kepikiran.

Bagi sebagian anak muda, mungkin menjadi penghuni kos itu bakal jadi momen yang campur aduk. Ada rasa senang, sedih, dan ovt!

Di satu sisi senang karena akhirnya bisa ngerasain hidup mandiri, bebas ngatur waktu, bebas mau ngapain aja. Kamu bisa nentuin dan ngambil keputusan sendiri.

Tapi di sisi lain, anak kos sering menyimpan banyak realita rapat-rapat dan nggak pernah menceritakannya ke orang rumah.

Bukan karena pengen bohong, tapi lebih ke “ah, nanti aja deh ceritanya” atau “nggak usah bikin orang rumah kepikiran”. Relate kan?

Hampir semua anak kos pernah ngalamin fase ini. Bahkan di poin terakhir, tidak sedikit anak kos yang justru terjerumus ke dunia gelap! 

Yuk bahas satu-satu 5 realita pahit anak kos yang jarang diceritain ke orang rumah! Se-related apa sama pengalamanmu?

1. Hidup Mandiri Itu Nggak Seindah di Story Instagram

Di rumah, kita sering bilang, “Aku baik-baik aja kok.” Padahal kenyataannya, anak kos sering bangun kesiangan, telat makan, lebih sering rebahan sambil scroll, dan bikin kamar kosnya lebih pantas disebut gudang daripada tempat tinggal.

Tidak jarang, anak kos memulai pengalaman mandiri untuk pertama kalinya. Sehingga, mereka kudu belajar semua sendiri,.

Mulai dari nyuci baju, nyetrika (kalau niat), merencanakan kegiatan sehari-hari biar berjalan lancar semua, bersih-bersih rumah, sampai ngatur duit biar cukup sebulan.

Awalnya sok jago, lama-lama baru sadar kalau hidup mandiri itu butuh mental kuat. Nggak ada ibu yang bangunin tidur, nggak ada yang nyiapin makan, nggak ada ayah yang ngingetin pulang cepat. 

Semua serba self-control.

2. Hemat Demi Tetap Makan

Kalau di rumah makan bisa tiga kali sehari dengan lauk lengkap, di kos beda cerita. Anak kos sering kompromi sama perut. 

Indomie jadi sahabat setia, nasi telur jadi menu andalan. Apalagi kalaulagi bokek banget gitu, biskuit sama air putih pun jadi penyelamat.

Tapi mending stok telur sama kerupuk deh, minimal kamu dapat sumber protein yang bagus. Di tambah kriuk kerupuk yang bikin makan tetep slay!

3. Sering Merasa Sendiri

Tinggal sendiri di kamar kos bikin banyak dari mereka akrab sama yang namanya sepi. Apalagi pas malam, hujan turun, dan lampu kamar cuma satu. 

Rasa kangen rumah datang tanpa permisi. Tapi jarang banget ada yang jujur soal ini ke orang rumah. Takut dibilang cengeng atau disuruh pulang.

Akhirnya, anak kos belajar pura-pura kuat. Video call seperlunya, chat singkat, lalu kembali menatap tembok kamar sambil mikir, “Kapan ya pulang?”

Jadi kalau kamu merupakan orang tua dan punya anak yang lagi ngekos, ketika anak gak ngehubungin kamu buat ngabarin. Please hubungin duluan, mereka cuma gengsi kok!

Banyak juga anak kos yang mulai membatasi interaksi dengan keluarga di rumah, bukan karena gak sayang. Akan tetapi karena takut tambah kangen. Huhu, sedih ya.

4. Duit Cepat Habis, Tapi Malu Ngaku

Poin keempat ini jadi hal yang paling klasik. Sebab, kebutuhan anak kos di perantauan tuh ada aja cobaannya. 

Awal bulan merasa jadi sultan, pertengahan bulan mulai mikir, akhir bulan jadi mode hemat ekstrem. Bahkan terkadang kebutuhan tak terduga bisa ngabisin setengah dari jatah bulanan.

Anak kos sering salah ngatur keuangan, apalagi kalau baru pertama kali pegang uang sendiri. Kalau uang udah tinggal sisa-sisa, mereka bakal putar akal buat nyukupin sampai di transfer lagi!

Nanti pas lagi telfon orang tuanya, mereka bakal ngobrol kayak biasanya dan seolah-olah gak terjadi apa-apa. Hebat bukan?

5. Pergaulan Bebas, Godaan yang Nyata

Pergaulan bebas menjadi hal yang paling sensitif dan jarang dibahas di rumah. Banyak anak kos sengaja menutupi keterlibatan mereka dalam pergaulan bebas.

Lingkungan kos itu isinya macam-macam orang dengan latar belakang berbeda. Bukan hanya circle kos, kadang temen dari sekolah, kampus, atau kantor bisa jadi penyebab utama pergaulan bebas.

Di sela-sela kehidupan anak kos yang mereka jalani untuk belajar maupun bekerja, mereka sering mengisi harinya dengan kebebasan yang super luas.

Anak kos gampang banget ketemu ajakan nongkrong sampai larut malam, pesta kecil-kecilan, minum minuman setan, bahkan hubungan yang kelewat batas. 

Apalagi kalau kontrol diri lagi lemah dan nggak ada yang ngawasin. Sekali ikut, rasanya “yaudah keterusan” dan gak bisa nolak.

Yang bikin ngeri, pergaulan bebas sering datang tanpa terasa. Awalnya cuma nongkrong, lanjut curhat, lalu pelan-pelan batasan mulai kabur. 

Banyak anak kos ingin di terima di lingkungan pertemanannya. Sehingga mereka bakal ngelakuin banyak cara agar diterima, meskipun ia tahu kalau itu gak bener. Akhirnya mereka memilih untuk terbawa arus.

Jadi bagi orang tua, awasi keluargamu yang lagi di kota orang. Fenomena negatif ini nyata dan mengincar mereka. Sedihnya, mereka yang udah terjerumus biasanya jago banget nutupin rahasia ini.

Di balik semua drama itu, mereka sebenarnya lagi belajar banyak hal. Mereka belajar tanggung jawab, belajar memilih pergaulan, belajar nolak hal yang nggak baik, dan belajar berdiri sendiri meski lagi capek.

Nggak semua anak kos jatuh ke hal negatif. Banyak juga yang mulai tumbuh lebih bijaksana dan dewasa. Menjadi versi diri yang lebih baik.

Jadi, kalau kamu ngerasa hidupmu lagi berat, tenang, kamu nggak sendirian. Kamu perlu cari pergaulan yang positif dan bisa ngajak buat tumbuh. Sehingga, bisa bikin kamu terhindari hal-hal negatif.

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment