Media Sosial: Tempat Hiburan atau Sumber Stres?

media sosial tempat hiburan

Modernis.co, Jakarta – Berapa kali dalam sehari kamu membuka media sosial? Setiap semenit sekali? Kayak ada yang ngechat aja!

Medsos itu punya kandungan zat aditif yang bikin kamu kecanduan. Awalnya cuma mau lihat satu video. Eh, tahu-tahu satu jam hilang. 

Banyak orang yang menghabiskan waktu mereka untuk scroll media sosial. Banyak informasi yang bisa didapat secara positif.

Ketika konten yang dilihat isinya flexing kehidupan atau hal yang berhubungan dengan informasi negatif, justru bikin seseorang malah dapat negatifnya doang.

Pernah gak sih kamu justru membandingkan dirimu dengan kehidupan orang lain setelah melihat sebuah konten. Sehingga kamu jadi ngerasa minder atau jadi orang paling gak beruntung.

Dari yang semula kamu merasa baik-baik aja. Akan tetapi karena sering membandingkan kehidupan orang lain di medsos, akhirnya kamu merasa kurang.

Menghabiskan waktu di depan layar gadget untuk scroll media sosial bisa dibilang ada plus minusnya nih. Kebanyakan habisin waktu buat mantau medsos bikin kamu jadi penunda aksi.

Timeline habis, baterai low, kerjaan belum kesentuh. Pertanyaannya adalah apakah media sosial itu sebenarnya tempat hiburan yang bermanfaat atau malah sumber stres?

A. Medsos Itu Memang Menghibur

Kita gak bisa munafik keseruan pas lagi buka media sosial. Bisa dibilang, semua hal yang perlu diketahui tentang perkembangan sosial masyarakat bisa didapatkan dari medsos.

Obrolan tongkrongan biasanya juga diambil dari hal-hal yang lagi rame di media sosial bukan?

  • Nonton video lucu yang bikin ngakak sendirian.
  • Lihat konten inspiratif yang bikin semangat.
  • Update kabar teman lama.
  • Belajar hal baru dari konten edukatif.
  • Hal-hal yang lagi banyak dilakukan atau diobrolkan masyarakat.
  • Berita-berita koruptor yang makin gak masuk akal.
  • Berita fiktif terkait pemerintah yang gak bisa ngehargain tenaga honorer.

Bahkan banyak orang dapat rezeki dari situ. Jualan laku, branding naik, relasi makin luas. Media sosial bisa jadi panggung sekaligus pasar.

Beberapa orang bahkan mendapatkan banyak keuntungan lebih dari sekadar menggunakan media sosial sebagai tempat hiburan. Di titik ini, jelas medsos itu tempat hiburan dan peluang.

B. Ketika Media Sosial Jadi Sumber Stres

a. Terlalu Sering Membandingkan Diri

Scroll sedikit, lihat teman liburan ke luar negeri. Scroll lagi, ada yang baru beli mobil. Swip lagi, ada yang tunangan. Akhirnya muncul pikiran: “Kenapa hidup gue gini-gini aja ya?”

Padahal yang kita lihat itu highlight, bukan behind the scene. Namun, kita langsung membandingkan proses hidup kita dengan hasil akhir orang lain. Jelas capek.

b. Takut Ketinggalan (FOMO)

Kalau gak buka media sosial sehari aja, rasanya kayak ketinggalan berita dunia. Takut gak update, takut gak tahu tren terbaru.

Akhirnya kita merasa “harus selalu online”. Akan tetapi makin lama bukan kita yang pegang HP, tapi HP yang pegang kita.

c. Overthinking Karena Komentar

Upload sesuatu, terus nungguin like dan komentar. Kalau sepi, langsung kepikiran. “Kontennya jelek ya?” “Orang-orang gak suka ya?” Media sosial yang tadinya buat senang-senang malah bikin overthinking.

d. Informasi Negatif yang Terlalu Banyak

Setiap hari ada berita konflik, drama, debat panas, saling sindir. Kalau kita konsumsi terus tanpa filter, pikiran jadi penuh. Emosi ikut terkuras.

3. Jadi, Salah Media Sosialnya?

Media sosial itu cuma alat. Kayak pisau dapur. Bisa dipakai masak enak, bisa juga melukai kalau salah pakai. Masalahnya bukan di aplikasinya, tapi di cara kita menggunakannya.

C. Solusi Tengah Biar Tetap Waras

Gak semua orang harus langsung uninstall. Kita cari jalan tengah yang realistis. Titik tengah dimana seseorang hanya perlu melakukan kontrol diri dalam penggunaan medsos.

1. Batasi Waktu, Bukan Dilarang Total

Kamu bisa tentukan waktu khusus buka media sosial. Misalnya 30 menit pagi dan 30 menit malam. Nah ini sih sesuaikan aja sama kebutuhanmu. 

Asal gak berlebihan dan bikin kamu jadi lalai sama tanggungjawab. Di luar itu, fokus ke aktivitas nyata. Pelan-pelan kamu akan merasa lebih ringan.

2. Kurasi Konten

Unfollow atau mute akun yang bikin kamu minder, kesal, overthinking. Follow akun yang mengedukasi, menginspirasi, dan bikin kamu berkembang. Timeline itu bisa kamu atur. Sehingga jangan biarkan algoritma yang sepenuhnya mengatur pikiranmu.

3. Sadar Bahwa Itu Hanya Potongan Cerita

Konten di media sosial orang hanya berisi bagian terbaik dalam hidupnya. Jarang ada yang upload momen gagal, nangis, atau bingung bayar cicilan.

Jadi jangan menilai hidupmu berdasarkan potongan kehidupan orang lain pada reels 15 detik miliknya. Tetap bersyukur atas apa yang kamu miliki hari ini.

4. Prioritaskan Interaksi Nyata

Ngopi bareng teman, ngobrol langsung, atau sekadar jalan sore tanpa pegang HP. Hal itu jauh lebih menenangkan dibanding 100 like.

Hubungan nyata memberi energi yang lebih kuat. Sedangkan notifikasi cuma ngasih sensasi senang sesaat saja.

5. Gunakan Media Sosial dengan Tujuan

Setiap kali buka, tanya diri sendiri “Aku mau apa?”

Sehingga kalau kamu lagi cari hiburan, cari ilmu, atau mau promosi dan jualan. Kalau udah dapat apa yang kamu inginkan, yaudah selesai. Jangan lanjut scroll tanpa tujuan yang jelas.

Jadi, Hiburan atau Sumber Stres

Mau difungsikan jadi tempat untuk mencari hiburan atau malah bikin stress itu tergantung kamu saat menggunakannya.

Media sosial bisa jadi tempat healing, belajar, dan berkembang. Tapi juga bisa jadi sumber tekanan kalau kita kehilangan kontrol. Kuncinya bukan berhenti total. Kuncinya adalah sadar dan seimbang.

Karena pada akhirnya, hidupmu yang nyata jauh lebih penting daripada story yang cuma bertahan 24 jam. Penggunaan media sosial itu hanya soal kontrol diri.

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment