Modernis.co, Jakarta – Tanggal 18 September diperingati sebagai Hari Kesetaraan Upah. Peringatan ini menjadi renungan akan besarnya perjuangan pekerja untuk menghidupi keluarganya.
Oleh karena itu, momentum ini sangat penting dilakukan sebagai pengingat pihak perusahaan agar para pekerja mendapatkan upah yang layak.
Perayaan Hari Kesetaraan Upah juga bertujuan untuk menghilangkan diskriminasi upah. Perlu upaya dan komitmen bersama untuk mencapai misi tersebut.
Banyak negara, perusahaan, dan organisasi merayakan hari ini untuk menyoroti kesenjangan upah gender yang masih ada dan untuk mendorong perubahan.
1. Bukan Sekadar Isu Perempuan
Meskipun perempuan paling sering menjadi korban kesenjangan upah, kesetaraan upah sebenarnya isu yang mempengaruhi semua orang. Saat masyarakat mencapai kesetaraan, ekonomi secara keseluruhan akan tumbuh lebih kuat.
Sebuah laporan PBB menunjukkan bahwa menutup kesenjangan upah gender bisa meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global. Sehingga, dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil dan termotivasi, yang pada akhirnya bermanfaat bagi semua pekerja.
2. Latar Belakang Sejarah yang Panjang
Perjuangan untuk kesetaraan upah bukan hal baru. Gerakan buruh dan feminis telah memperjuangkan hak ini selama lebih dari satu abad. Selanjutnya, warna baru perjuangan ini muncul dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2019.
Tanggal 18 September 2019, dipilih secara khusus karena pada tanggal tersebut bertepatan dengan Konvensi Perburuhan Internasional tentang Kesetaraan Upah disahkan. Konvensi ini menjadi landasan hukum bagi banyak negara.
3. Kesetaraan Upah di Atas Kertas Saja Tidak Cukup
Banyak negara sudah memiliki undang-undang yang menjamin kesetaraan upah. Meski demikian, kesenjangan upah gender masih menjadi masalah nyata.
Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan bahwa perempuan masih mendapatkan upah rata-rata 20% lebih rendah daripada laki-laki di seluruh dunia.

Angka ini menunjukkan bahwa kesenjangan upah gender lebih kompleks daripada sekadar perbedaan gaji. Faktor-faktor seperti segregasi pekerjaan, diskriminasi dalam promosi, dan beban kerja rumah tangga yang tidak adil juga ikut berperan.
4. Dampak Positif pada Masyarakat
Mencapai kesetaraan upah memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas. Ketika perempuan menerima upah yang adil, mereka memiliki lebih banyak daya beli.
Hal ini membantu mereka berinvestasi dalam pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga. Kondisi ini pada akhirnya mengurangi kemiskinan dan meningkatkan standar hidup.
Pemberdayaan ekonomi perempuan juga menciptakan masyarakat yang lebih stabil dan sejahtera.
5. Peran Perusahaan dan Individu
Peran perusahaan sangat penting dalam menutup kesenjangan upah. Banyak perusahaan besar telah mulai melakukan audit upah internal untuk mengidentifikasi dan memperbaiki perbedaan gaji yang tidak adil.
Transparansi upah juga menjadi salah satu langkah penting. Tidak hanya itu, setiap individu juga punya andil. Kita bisa mendukung perusahaan yang mempromosikan kesetaraan upah dan menyuarakan pentingnya isu ini di lingkungan kerja.
Hari Internasional Kesetaraan Upah menjadi momen untuk merefleksikan dan bertindak, bukan sekadar merayakan. Hari ini menjadii awal suara-suara keadilan di dunia pekerja yang berhak memiliki pendapatan layak.
Itulah beberapa fakta menarik yang harus kamu tau. Yuk semarakan peringatan momen spesial ini dengan menganalisis dan evaluasi kebijakan upah pekerja di daerah masing-masing. (IF)


Kirim Tulisan Lewat Sini