Modernis.co, Jakarta – Gangguan belajar pada anak dapat diidentifikasi lebih awal lewat tanda-tanda alami yang terlihat secara kasat mata.
Untuk mengidentifikasinya diperlukan perhatian ekstra dari orang tua pada setiap gerak-gerik anak dan capaian yang telah mereka lakukan.
Perhatian orang tua yang tulus kepada anak akan memberikan ikatan dan feeling yang kuat pada apa yang dialami oleh mereka. Gangguan belajar merupakan masalah yang lebih kompleks dari sekadar “berapa nilai anakmu?”.
Masalah ini muncul dari belum optimalnya fungsi otak pada anak yang mengalami gangguan belajar. Sehingga membuat mereka cukup tertinggal dalam memproses informasi di sekitarnya.
Orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda yang muncul agar bisa memberikan dukungan sedini mungkin, tepat, dan akurat. Berikut adalah lima tanda umum yang menunjukkan anak mungkin mengalami gangguan belajar.
1. Kesulitan Membaca dan Menulis
Salah satu tanda paling jelas dari gangguan belajar adalah kesulitan dalam membaca. Jika anak mengalami keterlambatan membaca, maka dampak buruk yang lain akan mulai muncul.
Membaca adalah satu-satunya pintu bagi anak untuk mendapatkan informasi baru. Ketidakmampuan dalam membaca akan membuat mereka mengalami ketertinggalan belajar yang lain seperti menulis.
Contohnya ketika anak mungkin sering terbalik saat membaca huruf atau kata, misalnya membaca “bola” menjadi “labo”. Atau ketika membaca “tikus” jadi “koruptor”, ups!
Gangguan belajar yang dialami akan membuat mereka kesulitan mengeja kata dengan benar dan sering melewatkan huruf saat menulis. Segeralah menjadi mentor mereka untuk lebih rajin belajar di rumah. Orang tua adalah sekolah pertama bagi anak.
Namun saat ini banyak orang tua yang sibuk bekerja. Sedangkan ketika orang tua pulang, anak sudah dalam keadaan setengah tidur. Jika begini maka perlu mengatur ulang jadwal.
2. Sulit Memahami dan Mengikuti Arahan

Anak dengan gangguan belajar seringkali sulit mengikuti arahan. Terutama jika arahan itu terdiri dari beberapa langkah.
Kesulitan mengikuti arahan ini bukan hanya dalam bentuk sebuah perintah untuk melakukan aktivitas tertentu. Tetapi juga apa yang mereka lihat dan dengar.
Misalnya ketika anak sering bingung ketika mengartikan maksud dari sebuah kalimat atau soal yang didapatkan. Padahal teman sebayanya bisa langsung mengerti dan mulai mengerjakan.
Tandanya adalah sering tidak fokus, melamun, dan asik sendiri di bangkunya sepeti gambar-gambar atau coret-coret buku. Padahal saat itu sebenarnya mereka sedang kesulitan memproses instruksi dari apa yang dilihat dan didengar.
Gangguan belajar akan membuat anak sulit memahami arahan berdampak pada buruknya manajemen kegiatan. Mereka kesulitan mengatur diri sendiri dan menentukan prioritas.
Seperti tidak mampu merapikan buku, mengatur jadwal pelajaran, menyelesaikan tugas, atau mengelola waktu.
Meja belajar mereka seringkali berantakan, mudah kehilangan barang-barang pribadi, lupa membawa barang yang dibutuhkan untuk belajar di kelas, dan lupa mengerjakan tugas.
3. Bermasalah dengan Angka
Gangguan belajar juga bisa mempengaruhi kemampuan anak dalam berhitung. Tanda-tanda diskalkulia meliputi kesulitan memahami konsep dasar matematika, seperti penjumlahan dan pengurangan.
Anak mungkin kesulitan mengenali pola angka, menghafal tabel perkalian, atau memecahkan soal cerita. Mereka seringkali terlihat cemas atau frustrasi saat dihadapkan pada tugas matematika.
Hal paling mudah yang bisa dilakukan untuk mendeteksi gangguan belajar pada poin ini adalah memberikan soal berbeda dengan jawaban sama. Misalnya 5+5=10, 6+4=?, 10-5=5, 7-2=?, 3X4=12, 4X3=? dan seterusnya.
4. Gangguan Belajar Motorik
Terkadang gangguan belajar juga mempengaruhi keterampilan motorik. Anak mungkin memiliki tulisan tangan yang berantakan dan sulit dibaca bahkan oleh dirinya sendiri.
Gangguan belajar juga akan membuat anak sulit melakukan gerakan tertentu. Misalnya mengikat tali sepatu, memasang kancing, melempar dan menangkap bola.
Kesulitan melakukan gerakan tertentu adalah tanda disgrafia. Tanda ini menjadi indikasi otak kesulitan mengkoordinasikan otot-otot halus yang diperlukan untuk mempengaruhi koordinasi gerakan secara keseluruhan.
5. Kurang Berinteraksi dan Emosi Tidak Stabil
Anak dengan gangguan belajar sering merasa frustasi karena kesulitan yang mereka hadapi di kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa berdampak pada hubungan sosial mereka.
Mereka sulit memahami bahasa tubuh atau ekspresi wajah orang lain, sehingga kesulitan menjalin pertemanan. Menganggap semua hal dengan serius dan cenderung sensitif berlebihan.
Dalam beberapa kasus emosi anak mudah meledak. Ketika marah akan teriak tak terkendali atau menyerang semua orang di sekitarnya tanpa sebab.
Frustrasi yang menumpuk juga bisa membuat mereka mudah marah atau tantrum saat menghadapi tugas yang sulit. Oleh karena itu perlu penanganan sedini mungkin agar dampak negatif gangguan belajar anak tidak berkelanjutan.
Jangan panik jika kamu melihat beberapa tanda ini pada buah hati tercinta. Mengidentifikasi masalah gangguan belajar anak adalah langkah pertama sebelum mengambil tindakan.
Jika diperlukan ajak anak ke psikolog atau ahli pendidikan untuk mendapatkan diagnosis dan rekomendasi penanganan yang tepat. Dengan rekomendasi ahli dan dukungan yang tinggi dari orang dewasa di sekitarnya, anak akan berangsur-angsur pulih.
Mereka akan belajar dan memperoleh cara terbaik untuk mengatasi tantangan atau kondisi di sekitarnya. yang sedang hadapi dan meraih keberhasilan di sekolah dan kehidupan. (IF)





Kirim Tulisan Lewat Sini