Modernis.co, Jakarta – Salah satu penyabab anak kecanduan gadget adalah faktor keluarga. Kecanduan gadget pada anak bukanlah masalah yang timbul begitu saja.
Sering kali akar masalahnya justru berasal dari lingkungan terdekat mereka. Lingkungan keluarga bisa menjadi penyebab utama kecanduan gadget pada anak.
Pola komunikasi atau interaksi dan kebiasaan yang terjadi di dalam keluarga justru bisa menjadi pemicu utama mengapa anak sulit lepas dari layar.
Berikut adalah lima penyebab utama kecanduan gadget pada anak yang berasal dari faktor keluarga.
1. Orang Tua sebagai Contoh
Anak adalah peniru ulung bagi apapun yang mereka lihat dan dengar. Anak akan meniru hal yang sama dengan apa yang orang tua lakukan. Termasuk jika orang tua terbiasa menghabiskan waktu luang dengan gadget.
Hal ini bisa terjadi karena anak menilai perilaku tersebut bisa ditiru. Bahkan ketika dilarang untuk bermain gadget itu hanya akan sia-sia.
Mereka akan berpikir, “Jika ayah dan ibu melakukannya, mengapa aku tidak boleh?”. Tanpa disadari perilaku kita sehari-hari menjadi acuan bagi mereka.
2. Kurangnya Interaksi dan Komunikasi
Gadget sering dijadikan pengalihan instan untuk menenangkan anak ketika orang tua sibuk dengan pekerjaan atau urusan pribadi. Padahal hal ini adalah kesalahan besar yang sangat fatal.
Tidak ada ruginya jika kamu bisa memberikan perhatian sebentar dan beri arahan pada anak agar lebih tenang daripada sekadar memberikannya gadget.
Hal ini membuat anak merasa bahwa interaksi dengan orang tuanya itu lebih bermakna. Apalagi jika arahan yang diberikan orang tuanya disampaikan dengan bijaksana.
3. Tidak Ada Batasan dan Aturan yang Jelas
Tanpa adanya aturan yang tegas anak akan menganggap bahwa bermain gadget tidak memiliki batasan. Mereka menganggap bisa menggunakannya kapanpun dan dimanapun.

Orang tua perlu memiliki aturan yang jelas dan diterapkan secara konsisten. Sebab anak akan menganggap sepele jika aturan yang dibuat tidak diterapkan dengan konsisten dan tegas.
Misalnya hari ini melarang tetapi besok membiarkan. Aturan yang dilaksanakan seperti ini justru akan membuat anak bingung dan sulit disiplin.
Jelaskan secara gamblang aturan yang orang tua buat. Anak perlu tahu kapan mereka boleh menggunakan gadget dan kapan harus berhenti, serta konsekuensi jika melanggar aturan tersebut.
4. Gadget sebagai Hadiah atau Hukuman
Beberapa orang tua menggunakan gadget sebagai alat negosiasi dengan anaknya. Contohnya seperti “Kalau kamu mau makan, boleh main game” atau “Kalau nilaimu bagus, nanti ayah belikan tablet baru.”
Cara ini justru menempatkan gadget sebagai sesuatu yang sangat berharga dan diinginkan. Anak akan menilai gadget sebagai sesuatu yang dinanti-nanti.
Sebaliknya jika gadget dijadikan hukuman misalnya, “Kalau nakal, HP-nya disita”, justru membuat anak akan merasa dendam dan semakin terobsesi untuk mendapatkannya kembali.
5. Kurangnya Alternatif Aktivitas Positif
Di era digital ini banyak keluarga yang lupa menyediakan alternatif kegiatan yang menarik di dunia nyata. Sehingga anak bisa terbiasa tanpa gadget atau paling tidak mengontrol penggunaannya.
Anak sangat butuh stimulasi dari berbagai sumber, seperti bermain di luar rumah, membaca buku, melukis, atau melakukan hobi.
Kecanduan gadget pada anak seringkali diakibatkan dari orang tua yang cuek akan bakat dan minat anak. Orang tua perlu menggali potensi anaknya dan memfasilitasinya.
Karena dengan memiliki kegiatan nyata yang bermanfaat akan secara otomatis mengalihkan perhatian anak dari gadget ke kegiatan nyata.
Mengatasi kecanduan gadget pada anak memerlukan kerja sama dan kesadaran dari seluruh anggota keluarga. Bahkan jika perlu kamu harus memiliki strategi jauh-jauh hari sebelum memiliki anak.
Memulai dengan memperbaiki kebiasaan diri sendiri, membuat aturan yang jelas, dan menyediakan lebih banyak waktu berkualitas bersama adalah langkah awal yang bisa dilakukan.
Dengan begitu kita sebagai orang tua bisa membantu anak menemukan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata. (IF)



Kirim Tulisan Lewat Sini