Modernis.co, Bandung – Seperti yang kita ketahui, pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan untuk meningkatkan kapasitas serta meningkatkan kualitas hidup, pendidikan yang baik adalah dambaan semua orang. Tentu saja para orang tua menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang bermutu dan mereka menganggap bahwa orang yang berpendidikan mendapatkan kehidupan yang baik.
Oleh karena itu para pelajar maupun mahasiswa mencari ilmu dengan berbagai macam cara untuk meningkatkan kualitas hidupnya, adapun sebagian besar mereka lebih memilih menjadi rantauan untuk mencari pendidikan yang bermutu dan melihat kondisi perkembangan kota tersebut.
Bahkan dalam agamapun dijelaskan bahwa pendidikan dapat meningkatkan derajat manusia Q.S al-mujadalah (58) ayat: 11 yang artinya: niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Definisi pendidikan sebagaimana yang tertera pada UU No 20 tahun 2003, usaha sadar dan terencana untuk menjadikan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan bukan hanya berupa transfer ilmu pengetahuan dari satu orang ke orang lain, dari guru ke murid, dari dosen ke mahasiswa, tetapi juga mentransformasikan nilai-nilai, bukan hanya nilai 80, 90, di atas kertas putih, dan bukan nilai a, b, c, d, maupun e, melainkan nilai-nilai yang ditransferkan ke dalam jiwa kepribadian dan struktur kesadaran manusia itu sendiri.
Namun, yang terjadi pada pendidikan saat ini menjadi tidak begitu lancar dengan adanya virus corona atau covid-19, dengan menggunakan sistem pembelajaran via daring atau pembelajaran jarak jauh yang dilakukan lewat media online. Adapun beberapa keresahan-keresahan pelajar dan mahasiswa dengan sistem pendidikan via daring yang kurang efektif.
- Kurang memadai akses internet yang membuat belajar mengajar menjadi terhambat.
- Mahalnya biaya kuota untuk melakukan pembelajaran via daring.
- Timbulnya rasa bosan pada kegiatan pembelajaran via daring sehingga kurang aktif.
- Dosen yang selalu memberikan tugas dan jarang bertatap muka menggunakan zoom.
- Turunnya capaian belajar karena banyak yang hanya menitipkan absen di via daring dll.
Dengan biaya pendidikan jenjang tinggi yang cukup mahal tidak sebanding dengan apa yang didapatkan dan tentu saja kita harus melihat outputnya, masih banyak masyarakat berinteraksi diluar sana, dimanapun mereka berada entah di mall, tempat wisata, atau tempat kerumunan lainnya dengan menggunakan protokol yang sesuai diperintahkan.
Mengapa pendidikan tidak diperlakukan seperti di tempat-tempat lainnya yang masih di buka? apakah pendidikan tidak begitu penting saat ini? tentu saja kita bertanya akan hal itu jika dibanding dengan mall atau tempat kerumunan lainnya. Mengapa tidak dibukakan saja? akan tetapi protokol di perketat, kebersihan dijaga, dan pelajar atau mahasiswa harus disterilkan terlebih dahulu sebelum masuk seperti halnya mall atau tempat lainnya.
Harapan orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan kualitas hidup yang baik di suatu saat nanti begitu besar dan harapan itu ada pada genggaman mereka yang sedang berproses menggali kapasitasnya. Begitupun juga bangsa ini menempatkan harapan pada genggaman anak muda untuk mengarahkan bangsa ini ke arah yang lebih baik lagi.
Anak muda bagaikan matahari yang timbul dan para penguasa adalah matahari yang akan terbenam dan semua orang berharap matahari yang akan timbul itu bisa memancarkan kesinarannya untuk berbagi kehangatan pada bangsa dan masyarakat.
Merekalah nahkoda yang akan memimpin arahnya bangsa dan akan ada saatnya siklus pergantian generasi ke generasi akan tiba dan semua orang berharap untuk setiap pergantian tersebut akan membuat bangsa ini semakin baik bukan malah semakin hancur dan tidak tau arah.
Maka dari itu pemuda harus berperan aktif dalam hal apapun mengenai bangsa ini agar bisa menjadi nahkodanya untuk mengarahkan ke arah yang baik, imbasnya bukanlah tertuju pada mereka akan tetapi imbasnya akan tertuju pada generasi selanjutnya yang akan memimpin bangsa ini dari perbuatan penguasa yang sebelumnya.
Sebuah negara bisa hancur jika anak mudanya rusak karena anak muda adalah kunci dari generasi baru yang akan mengendalikan bangsa. Jika bukan pada anak muda lalu kepada siapa yang akan memimpin bangsa ini? maka dari itu anak muda harus mencoba untuk berperan aktif dengan menanggapi permasalahan yang ada.
Dan untuk menjadi pemuda yang berkualitas tentu saja butuh modal dalam hal pengetahuan dan wawasan, maka dari itu pemuda pun butuh pendidikan yang bermutu, dan sistem pembelajaran yang efektif.
Oleh: Ahmad Riyadh (Mahasiswa Manajemen Regular Universitas Sangga Buana Bandung / Aktivis IMM Fastcho)
Kirim Tulisan Lewat Sini