UMKM Mampu Bangkit Pada Masa Pandemi

umkm masa pandemi

Modernis.co, Gresik – Pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ada 2 WNI terjangkit Covid-19. Hingga pada 23 Mei 2020 ada 21.745 orang terkonfirmasi positif Covid-19.

Sehingga pemerintah daerah yang mengalami kenaikan warga positif Covid-19 membuat peraturan PSBB. Dengan diberlakukannya PSBB, pasti kegiatan ekonomi akan terganggu dan akan menghancurkan perekonomian daerah serta negara.

Pada krisis 1998, UMKM menjadi bagian dari penyelamat ekonomi di Indonesia. Karena sebagian besar UMKM memproduksi barang – barang konsumsi dan jasa dengan elastisitas permintaan terhadap pendapatan yang rendah.

Sehingga tingkat pendapatan masyarakat tidak berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan. Sebagian besar UMKM tidak mendapat modal dari bank, sehingga keterpurukan sektor perbankan tidak banyak berpengaruh terhadap UMKM.

Menurut Headmaster Mini University Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur Preneur Dedi Priansyah, alasan lain ketahanan UMKM karena loyalitas konsumen dan tidak berhubungan secara langsung dengan sistem saham. Dalam resesi ekonomi, sistem saham di pasar modal kerap anjlok.

Pada era pandemi seperti ini sudah jelas bahwa akan menjadi karpet merah bagi UMKM, padahal UMKM adalah sektor ekonomi yang harus didorong agar meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Para pelaku UMKM harus melakukan banyak strategi sehingga tidak terancam bangkrut. Ada  beberapa strategi dari ilmu akuntansi agar UMKM terus bisa bertahan. Pertama, jangan selalu fokus pada keuntungan saja, tetapi fokus pada penciptaan nilai tambah bagi masyarakat.

Yang kedua, pelaku UMKM harus memisahkan pencatatan serta kekayaan antara keuangan perusahaan dengan keuangan pribadi, sesuai dengan prinsip dasar akuntansi yaitu aset = hutang + modal.

Ketiga, yaitu jangan memulai usaha dengan berhutang, atau bisa juga cari alternatifnya dengan rasio maksimal 30 : 70 = hutang : modal.

Media sosial dan marketplace wajib dipergunakan dalam dunia UMKM. Karena menjadi wadah untuk mempromosikan produk dan jasa, apalagi jika membuat konten pasti akan bertambah banyak pengikut.

Selain konten, dengan desain yang unik juga dapat menarik minat untuk membeli. Tidak hanya itu UMKM harus bisa menjaga citra dari akun penjualan. Agar pembeli dapat percaya produk dan jasa yang dipasarkan.

Adanya pandemi, membuat media sosial serta marketplace sangat penting dalam mendukung keberlangsungan penjualan produk dan jasa di UMKM.

Ada beberapa strategi yang sudah dilakukan oleh pelaku UMKM. Salah satunya dengan melakukan promosi di laman twitter. Cara lainnya karyawan juga diminta untuk memasarkan produk dan jasa oleh pemilik UMKM. Agar tidak merugi serta dapat menghidupi para karyawan.

Pada laman twitter dr Tirta sebagai penggiat UMKM juga banyak melakukan usaha agar UMKM tetap bertahan di tengah pandemi. Dalam tweetnya tanggal 13 April 2020.

“Saya memiliki ide: brand lokal per daerah dialihkan membuat apd + masker. Lalu di standardisasi oleh dinkes dan ditujukan buat warga dan faskes setempat. So brand lokal jalan. UKM jalan. Faskes ga kekurangan APD“, ujarnya.

Ada juga Menteri BUMN Erick Thohir meminta perusahaan pelat merah untuk membuka peluang UMKM mengikuti tender proyek di bawah Rp 14 miliar. Proyek di bawah nilai tersebut harus dikerjasamakan dengan UMKM.

Dengan berkerjasama antara pemerintah, pelaku UMKM dan masyarakat maka UMKM dapat tetap bertahan. Bahkan lebih berkembang dalam pandemi Covid-19 ini. Karena UMKM adalah salah satu faktor agar perekonomian di Indonesia tidak terlalu jatuh.

Indonesia juga memerlukan banyak UMKM baru demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di Indonesia.

Oleh : Vinna Ayus Novaliya (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment