Modernis.co,Malang-Dewasa ini, obrolan tentang kehidupan yang sifatnya menuju keabadian agaknya mulai dinegasikan. Keabadian bagi manusia hanya dianggap sesuatu yang fana, bahkan tidak ada yang benar-benar abadi jika orientasi kehidupan hanya bermuara pada dunia. Mengingat, kehidupan manusia di dunia hanyalah satu kali dan sangat sementara.
Kehidupan manusia terpenjara oleh ruang dan waktu. Sehingga dirinya akan lenyap jika nafas terakhir sudah dihembuskan. Manusia kian terjebak dalam dikotomi, lingkaran batas-batas yang lambat laun akan memudar dan menghilang tanpa bekas. Kemudian berakhirlah kehidupan manusia, dan sampai di situ tidak pernah diketahui lagi keberadaannya.
Akan tetapi, ada manusia yang wujud dan jasadnya sudak tidak ada, namun ia mampu melewati batas ruang dan waktu. Ia mampu melampaui norma sosial yang mengganggap kehidupan adalah fana. Dirinya akan selalu bersemi dalam ingatan manusia dan terus menerus pikirannya akan tetap ada.
Bentuk fisiknya sudah hilang, namun ruhnya tetap ada dan dibawa dalam obrolan-obrolan penting dan di tengah kehidupan manusia. Semasa hidupnya, tentu ia tidak memilih menjalani kehidupan untuk bisa sekedar hidup. Dia adalah manusia yang memahami esensi jiwa dan bermetamorfosa menjadi aftertaste.
Aftertaste: Jalan Menuju Keabadian
Aftertaste boleh kita pahami sebagai sebuah rasa yang ditinggalkan oleh sesuatu. Ia bisa berwujud apapun. Sebagai permisalan, contohnya adalah ketika minum kopi, meskipun kopi ketika diminum sudah berada di dalam perut, namun masih ada rasa yang tertinggal di mulut. Apabila manusia yang fana hendak menjadi abadi, maka jalan yang ditempu adalah dengan menjadi sebuah rasa.
Ingat, kita adalah manusia yang katanya dibekali oleh akal. Tapi pertanyaannya kemudian adalah mampukah kita mempergunakan akal tersebut secara optimal?. Pada hakikatnya, akal yang dimiliki oleh manusia adalah berfungsi untuk berpikir. Di Eropa sana, lahir seorang filsuf yang bernama Rene Descrates, beliau pernah mengatakan ”Cogito ergo sum”.
Lanjut, Descrates juga mengatakan bahwa alam semesta ini tiada penuh kepastian kecuali kita mampu berpikir. Lalu yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita dapat menjelma menjadi sebuah ‘rasa’ agar supaya manusia benar-benar menjadi sesuatu yang abadi. Sebenarnya caranya banyak sekali.
Oke, salah satu diantaranya adalah kita harus berhenti menjadi manusia yang hanya mengikuti arus, dan mulailah menjadi ide, gagasan, opini dan pendapat. Cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan memulai untuk menulis atau gagasan dan ide kita dituliskan orang lain. Barulah kita dapat menembus batas-batas ke-fana-an dunia dan menjadi abadi.
Menulis terkadang memang pekerjaan yang sulit kalau tidak dimulai dengan kebiasaan atau terbiasa untuk menulis. Banyak sekali tokoh ataupun orang yang sekarang wujudnya sudah tidak ada, namun ia menjelma menjadi sebuah rasa yang kian abadi. Ada Karl Marx, Rene Descartes, Friedrich Nietzsche dan lainya. Mereka banyak menulis serta dituliskan, lewat ide dan gagasannya.
Mungkin kawan-kawan mengenal Pramoedya Ananta Toer, beliau pernah mengataka “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakaat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadiaan”. Sudah tidak terelakkan lagi, bahwa menjadi abadi adalah dengan menjadi ide, opini dan gagasan yang dituangkan lewat tulisan.
Mari menjadi aftertaste dalam kehidupan ini. Mulailah untuk menulis. Mulailah bekerja untuk keabadian. Mari menjadi sebuah rasa yang akan terus menerus dikenal oleh masyarakat dan kehidupan. Ingat yang pernah dikatakan oleh Peter Ustinov, “Tidak ada gunanya mati jika anda tidak menghantui ingatan seseorang. Jika anda tidak meninggalkan secercah rasa”.
Terakhir, hal yang juga tidak kalah penting ketika ingin menjadi manusia yang abadi yang menjelma lewat tulisan adalah dengan membaca ‘literasi’. Membaca dan menulis merupakan dua hal yang menjadi kesatuan organik. Artinya, tidak mungkin kita dapat menuangkan ide, gagasan dan opini lewat tulisan kalau kita tidak punya budaya membaca.
Membaca tidak hanya sekedar dimaknai membaca sebuah teks. Lebih dari itu. Dengan dibingkai dengan nalar kritis, kita karus mampu membaca persoalan, realitas sosial, simbo dan pikiran manusia. Setelah itu, barulah hasil pembacaan tersebut dituangkan lewat tulisan.
*Oleh: Wahyu Hendra (Ketua Komisariat IMM Raushan Fikr Malang)
Kirim Tulisan Lewat Sini