Sarjana AI

sarjana ai

Modernis.co, Malang – Ada obrolan menarik yang saya dapat saat ‘njagong’ di warung kopi bersama dua teman lama saya. Meski keduanya berkarir sebagai dosen di kampus yang berbeda, namun masalah yang dihadapi cukup mirip yakni terkait penggunaan artificial intelligence (AI) yang berlebihan di kalangan mahasiswa. Sedikit-sedikit tanya ke Chat GPT, sedikit-sedikit pakai Bing AI.

Misalnya saja saat diberi tugas untuk menulis essay, mereka cenderung meminta AI untuk mengerjakannya. Tinggal ketik beberapa perintah dan jenis tugasnya, AI bisa langsung menyediakan jawaban lengkap hanya dalam beberapa detik. Luar biasa sekali.

Kejadiannya tidak satu atau dua kali, tapi hampir di setiap kesempatan. Bahkan ada mahasiswa yang nekat menggunakan AI saat presentasi ujian semester. Pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen diketik di kolom Chat GPT agar bisa segera mendapatkan jawaban. Kemudian ia jelaskan langsung di depan penguji. Ini tentu menghilangkan proses berpikir dan kreativitas anak-anak muda. Maka tak salah, jika ada banyak orang yang bilang para sarjana belakangan adalah sarjana AI. Jadi, sebenarnya tantangan dan masalah kecerdasan buatan apa saja yang dunia kampus hadapi?

Menurut penulis, hal pertama dan paling utama adalah ketergantungan mahasiswa akan kemampuan AI. Terbukti dengan data yang dikeluarkan oleh Writer Buddy yang meletakkan Indonesia menjadi negara ketiga penyumbang kunjungan aplikasi dan website AI di dunia. Terhitung, ada 1,4 miliar kunjungan sepanjang tahun 2023. Ini tentu menjadi masalah karena dapat menumpulkan kemampuan berpikir kritis anak-anak muda. Memang, cara ‘instan’ ini seakan menghemat waktu, tapi pada akhirnya akan merugikan mahasiswa di masa depan.

Masalah kedua yang bisa kita temui adalah kurangnya pemahaman mendalam akan materi perkuliahan. Bagaimana mereka bisa belajar jika proses memahami dan mencari tahu sirna karena cenderung mengambil jalan pintas dengan bertanya pada AI. Tugas-tugas yang dosen berikan langsung dituangkan di kolom Chat GPT, kemudian jawabannya disalin tanpa melalui proses berpikir yang baik.

Padahal, tugas seperti menulis essay menjadi ‘tali’ yang mengikat pengetahuan dan teori yang didapat saat berkuliah. Harapannya, para pembelajar tidak mudah lupa akan materi yang diajarkan. Sayangnya, kini ‘tali’ yang seharusnya mengikat malah dibuang begitu saja.

Selain itu, anak-anak muda juga sering tidak sadar jika ketergantungan AI akan menghambat perkembangan soft skill mereka. Bagaimana mana skil bisa meningkat jika jarang melakukan diskusi dengan teman-teman lain atau dosen? Bagaimana mampu menjadi pribadi yang unggul jika tak punya interaksi yang baik dengan manusia lain? Diskusi maupun dialog yang dulu sering dikaitkan dengan mahasiswa, kini nyatanya berkurang. Sebagian anak muda kini lebih suka nongkrong dan menghabiskan waktu untuk bermain. Toh, tugasnya sudah selesai berkat bantuan AI.

Berdasarkan masalah-masalah ini, muncul pertanyaan di benak saya,. Apakah ini tanda bahwa kita harus menghindari dan tidak memperdulikan kemudahan yang diberikan AI? Atau ada cara lain yang bisa dilakukan untuk merangkul tantangan dan potensi kecerdasan buatan?

Berkawan dengan AI

Layaknya pisau bermata dua, kecerdasan buatan juga memiliki sisi potensial yang bisa membantu kehidupan manusia, termasuk dalam hal pendidikan. Untuk bisa mendapatkan potensi terbaik tersebut, kita perlu melakukan sederet usaha. Salah satunya memasukkan pendidikan AI dalam setiap proses pembelajaran. Para mahasiswa seharusnya mampu memahami implikasi etis dari penggunaan teknologi ini dan bagaimana memanfaatkannya dengan bijak. Hal ini sudah dilakukan oleh Universitas Stanford melalui pendirian Human-Centered Artificial Intelligence (AI).

Di Indonesia, satu dari sekian cara yang bisa dicoba yakni dengan menjelaskan aturan penggunaan AI di pertemuan awal kuliah, sehingga mahasiswa mengerti batas-batasan yang perlu diperhatikan. Meski Indonesia belum memiliki aturan khusus terkait AI, namun beberapa materi bisa diambil dari surat edaran nomor 9 tahun 2023 yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) Indonesia.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menyelenggarakan pembelajaran berbasis proyek. Metode ini memaksa mahasiswa untuk memahami dan mengimplementasikan konsep-konsep yang telah dipelajari di dunia nyata. Meski mereka masih memanfaatkan kecerdasan buatan, namun paling tidak ada ilmu yang diserap dan berhasil dipraktikkan.

Proses tersebut akan lebih masif jika banyak pihak yang turut menyelenggarakan kompetisi pemanfaatan AI untuk memecahkan berbagai masalah masyarakat. Hasilnya, anak-anak muda akan didorong untuk lebih kreatif dalam mengembangkan ide serta memanfaatkan AI. Selain itu juga bisa langsung terjun ke masyarakat untuk membantu menemukan solusi tepat.

Terakhir, saya ingin menegaskan bahwa perkembangan teknologi berhasil mengubah hidup manusia. Termasuk di dalamnya kebiasaan dan perilaku anak muda dalam belajar. Maka mau tidak mau, para pendidik juga harus mengubah metode ajarnya. Saya yakin, hadirnya kecerdasan buatan memberikan kesempatan besar untuk melahirkan generasi unggul yang cakap digital. Ini tentu menjadi bantuan besar bagi bangsa kita untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Oleh: Hassanalwildan Ahmad Zain (Humas UMM, Alumni Twinning FH-FAI)

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment