Anomali Jelang Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

muktamar imm palembang

Modernis.co, Yogyakarta – Menjelang nafas urat nadi perhelatan Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Palembang pada tanggal 1-3 Maret 2024. Tak terasa IMM akan melaksanakan agenda besar dalam proses regenerasi pemimpin dan juga arah gerakan. 

Tentunya dalam sebuah kepemimpinan ada hal yang baik dan ada pula hal yang perlu dikritisi, pada kepemimpinannya Ketua Umum Abdul Musawir Yahya selama satu periode penuh ini, perlu pula kita merefleksikan kembali apa saja kejadian-kejadian yang bisa menjadi bahan perbaikan apabila diperlukan atau dipertahankan jika memang sudah baik.

Proses muktamar kali ini menjadi amat sangat dinantikan banyak kader, dikarenakan memang tahun ini, menjadi tahun politik nasional sehingga semua mata tertuju pada pemilu yang sedang hiruk pikuk, sebagai bahan perbincangan masyarakat. Hal ini juga terjadi pada tubuh IMM para kader fokus juga menjadi bagian penggembira pesta politik lima tahunan ini. Oleh sebab itu penting untuk tetap ada yang memperhatikan serta menilik proses muktamar IMM, untuk tetap menjaga marwah dan semangat gerakan.

Muktamar IMM tahun ini mengirim dua kader terbaik sebagai calon nahkoda baru. Riyan Betra Delza dan Zaki Nugraha, tidak luput juga 61 Calon Formatur. Kedua calon Ketua Umum ini merupakan kader yang telah memiliki sepak terjang yang panjang dalam IMM, keduanya telah memangku jabatan Dewan Pimpinan Pusat sebelumnya.

Hal menarik yang terjadi pada proses kegiatan Muktamar tentunya dari konfigurasi-konfigurasi politik yang ada, sehingga banyak anasir-anasir yang berhamburan dalam perbincangan kader-kader. Berawal dari penundaan Muktamar sampai Ketua Umum Abdul Musawir Yahya menjadi bagian dari relawan calon presiden hingga mobilisasi proses pemenangan calon Ketua Umum baru. 

Semua konfigurasi politik tersebut terlihat secara vulgar oleh mata. Namun, riak-riak perlawanan yang dilontarkan oleh beberapa kader IMM, tidak mampu memberikan dampak signifikan terhadap tindakan Dewan Pimpinan Pusat.

 Rasanya kondisi yang terjadi pada IMM adalah cerminan dari kondisi rezim penguasa saat ini, yang enggan untuk menjadikan kritikan dan masukan sebagai pintu utama perbaikan, justru sebaliknya kritikan dianggap sebagai bagian dari pembenci serta pendusta, tidak lupa juga pengkondisian yang masif dilakukan agar riak-riak perlawanan tidak memberikan efek begitu besar bagi Dewan Pimpinan Pusat. Padahal kritikan dan masukan merupakan bentuk dari, suara perut yang sudah begitu lama tertekan penuh perjuangan dengan apa saja yang bernama peradaban, etika, moral, intelektual, sosial, dan religiusitas.

Menelisik lebih dalam mengenai persoalan pengkondisian, bisa dianalisis bahwa ini bagian dari upaya calon-calon formatur agar dapat coattail effect dengan melakukan akselerasi terhadap setiap Daerah dan Cabang IMM agar ikut satu komando dalam satu tarikan nafas panjang. Kepentingan politik calon-calon formatur ini dapat terpenuhi apabila mereka mengikuti segala arahan dari gerbong masing-masing calon Ketua Umum.

Seperti yang telah diketahui bahwa ada dua kandidat Ketua Umum maka dapat dipastikan juga gerbong politik kali ini sama pula hanya ada dua gerbong besar, dan dengan observasi dapat dilihat gerbong Riyan Betra Zeta Delza merupakan gerbong yang amat sangat gemuk untuk saat ini. Maka beriringan dengan gerbong Riyan Betra Delza dapat dipastikan pula bahwa gerbong ini adalah besutan dari Ketua Umum Abdul Musawir Yahya. Sedangkan Zaki Nugraha hanya tinggal mengharapkan kemurahan Tuhan Alam Semesta agar bisa menjadikan dirinya sebagai Ketua Umum.

Menurut Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, salah satu bentuk kemunduran demokrasi apabila dalam proses tersebut adanya keterlibatan penyelenggara untuk memenangkan satu kandidat atau kelompok. Maka tidak heran coattail effect, tak hanya soal pengkondisian suara akan tetapi juga upaya untuk memastikan kemenangan mutlak bagi kandidat dan ekor-ekor yang mengikuti.

Dari riwayat keterlibatan pemangku kekuasaan dalam proses pemenangan politik, kiranya amat sangat sedikit jejak sejarah kekalahannya, tentunya didasari oleh kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif. Agaknya negara menjadi percontohan yang baik oleh IMM, akan tetapi tak adil pula jika tidak berprasangka baik bahwa, Dewan Pimpinan Pusat IMM yang menjadi contoh untuk negara saat ini.

 Muktamar memang bukan hanya sekedar soal peralihan struktural, akan tetapi juga berkaitan dengan arah gerakan dan orientasi kebijakan. Namun, sungkar rasanya jika dalam prosesnya hanya dikuasai oleh orang-orang yang sudah kuno. Kuno dalam arti orang yang konservatif pemikirannya tidak terbuka akan perbedaan, serta mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok, ambisi yang berlebihan tanpa arah gerakan yang jelas akan menjadi bumerang nantinya bagi IMM.

Harapan bahwa jangan sampai IMM seperti tubuh yang telah meleleh menggenang sehingga menjadi cairan yang kental dan berbau busuk, genangan itu bergerak pelan, hingga merambat ke wilayah yang lebih luas. Tanah, lautan, udara, daratan yang dilewatinya ikut meleleh. Kemudian secara simultan menyembur tegak ke angkasa raya diiringi suara gerak parau dengan lengkingan kematian yang tajam. Semua itu tiba-tiba hancur dan luluh lantah tak bersisa.

Oleh: Tegar Lesmana Aktivis IMM Yogyakarta

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan fikiran-fikiran anda via website kami!

Related posts

Leave a Comment