Pacaran Perspektif Aktivis

aktivis imm

Modernis.co, Malang– Usia muda merupakan usia yang penuh dengan gejolak-gejolak asmara dan rasa keingintahuan yang sangat mendalam, segala sesuatu dari apa yang pernah didengar dan dilihat ingin dikuasai dalam waktu yang relatif singkat.

Banyak orang mengatakan bahwa usia muda adalah usia yang tinggi akan imajinasi, tinggi produktivitas karya, dan berbagai macam kreatifitasnya. Sedikit singgungan, saya akan membahas tipologi usia muda yang memiliki perbedaan cara dan sudut pandang dalam mencintai ketika memasuki dunia perkuliahan dan aktif dengan pergaulan.

Baik dengan teman angkatan, senior, kader, atau organisasi kemahasiswaan serta lembaga-lembaga kampus lainnya. Di usia yang memasuki tahap awal untuk bersikap dewasa ini penuh dengan kisah-kisah romantika dan tautan rasa.

Perspektif terhadap asmara dan cara mencintai juga berbeda-beda pada golongan ini. Ada yang mencintai dengan membabi-buta hingga melebur jauh perasaan dan tak membatasi perasaan serta jarak dengan pasangannya. Hingga sering ditemukan kalau pacaran jenis ini banyak yang tidak menyelesaikan masa kuliahnya karena keburu punya anak di luar pernikahan.

Kadang ada juga yang mencintai dengan malu-malu sehingga hubungan mereka jarang diketahui oleh orang lain, bahkan teman dekatnya sekalipun. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada pasangan jenis ini. Pertama, sama dengan jenis cinta yang di atas, diam-diam tapi ketahuan punya anak. Kedua, diam-diam, kemudian tiba-tiba berdampingan nama dalam satu surat undangan.

Selain itu, ada cara mencintai yang berlainan dari jenis-jenis di atas, disini saya katakan pacaran perspektif aktivis, mereka saling mencintai sebagaimana pemuda pada umumnya hanya saja cara mereka menjalankan hubungan berbeda, yaitu lebih banyak dihabiskan dengan berdiskusi masalah sosial, persoalan tugas perkuliahan, pembahasan tentang gerakan feminisme, dan lain-lain.

Perbedaan pacaran jenis ini dengan pacaran ala islami yang lagi viral sekarang ini hanya pada masalah keagamaan. Kalau pacaran ala islami yang dipahami oleh kebanyakan pemuda sekarang ini.

Terutama saya sendiri, lebih kepada hubungan yang saling mengingatkan kepada kebaikan, motivasi-motivasi untuk beribadah, dorongan agar sering beramal, serta nasihat untuk memperdalam hubungan mereka dengan Allah SWT. (terlepas dari kontradiksi para ustad dan ustadzah, bahwa tidak ada yang namanya pacaran dalam islam/tidak boleh pacaran dalam islam).

Sementara pacaran ala aktivis sangat mendukung dalam proses mencapai tujuan dengan besarnya motivasi dan adanya apresiasi dari orang yang kita cintai. Semangat untuk mengembangkan potensi diri akan semakin besar, usaha untuk bisa dan harus bisa ketika melakukan segala sesuatu  semakin kuat. Karena adanya rasa sungkan terhadap pacar apabila lebih aktif dan lebih pandai.

Aktivis sangat sering menghabiskan waktu untuk merancang suatu metode dan sudut pandang baru dalam menata ruang lingkup masyarakat dan selalu berusaha untuk tampil lebih dari yang lain karena mereka mengklaim dirinya sebagai agen perubahan dan pemimpin masa depan guna merealisasikan kesejahteraan dan kesetaraan sosial.

Dengan adanya hal tersebut maka diskusi, kajian, dan belajar di tempat manapun mereka selalu siap. Selain dari itu, di via telpon dan chat whatsapp juga merupakan kesempatan emas bagi mereka untuk mengeluarkan pendapat, beretorika, adu argumentasi, dan debat cari solusi .

Ketika kebanyakan pasangan lainnya sibuk dengan kata-kata romantisme dan rayuan yang meluluh-lantarkan serta mengebu-gebukan perasaan pasangannya. Hal itu sangat jarang ditemukan pada isi pembicaraan aktivis yang selalu membahas teori-teori yang baru, teori-teori besar, berbagai aliran pemikiran parah tokoh ternama, aliran-aliran filsafat, dan banyak lainnya.

Berjalan bersama, berdampingan, dan berduaan serta makan bersama agar semakin langgeng dan agar tidak mudah selingkuh karena padatnya waktu beraktivitas yang dihabiskan bersama adalah hal yang sering ditemukan pada pasangan lain, sementara aktivis selalu selingkuh dengan banyak buku dan esai di HP-nya.

Chat-chatan dengan kata-kata sayang yang so sweet serasa jadi musuh bagi mereka, yang ada, belajar dan membela masyarakat lemah, mengubah kedudukan kaum buruh, pemberantasan korupsi, dan meminimalisir kemelaratan adalah prioritas mereka.

Untuk mendukung dan mensosialisasikan prioritas tersebut harus ada teman dan anggota guna bersama-sama merancang dan mendiskusikan sumber penyebabnya terlebih dahulu. Lalu bagaimana jika hal tersebut tidak terpenuhi,?  Di sinilah peran kekasih baginya untuk jadi wadah guna meluahkan perasaan resah, galau, gundah-gulana serta mendukung proses rancangan yang diupayakan.

Bagi mereka hal itu adalah puncaknya kebahagiaan, kehakikian kemesraan, dan dalamnya curahan kasih sayang dalam berpacaran. Sungguh sebuah perspektif yang sangat miris, tapi itulah mereka yang apa adanya dengan segala kesibukannya, menghabiskan waktu untuk berfikir, merumuskan dan merancang berbagai macam persoalan tapi dibalut dengan kata asmara (pacaran).

Mario Teguh pernah menyatakan bahwa: Cinta itu indah, salah memilih kekasih dan salah cara mencintailah yang merusak keindahan cinta. Juga, Bahruddin Jusuf Habibie atau yang akrab dipanggil B.J. Habibie juga menyatakan: tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya dan tanpa kecerdasan cinta saja tidak cukup.

Kutipan kata-kata cinta islami pun mencantumkan: Di belakang seorang lelaki hebat bukanlah seorang wanita, wanita itu berada di samping laki-laki, dia bersamanya dan selalu bergandengan karena yang namanya pasangan itu selalu senantiasa berdoa bersama dan berjalan bersama beriringan.

Setidaknya dengan ini, Sebagai pemuda yang besar dorongannya untuk menyelami dunia asmara, terutama bagi mahasiswa yang aktivis tidak harus tertekan untuk tidak berpacaran. Karena pacaran bukanlah penghambat dalam beraktivitas dan berintelektualitas. justru dengannya kita akan semakin semangat untuk menyelami dalamnya lautan pengetahuan.

Belajar dan bekerja dengan rasa cinta berarti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri orang lain dan menyatukan diri dengan tuhan. Tapi bagaimanakah belajar dan bekerja dengan rasa cinta itu,? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari lubuk jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakai kain itu kelak.

Oleh: Syarif R. S. (Kader IMM Komisariat Tamaddun FAI UMM) 



Redaksi
Redaksi

Mari narasikan pikiran-pikiran anda via website kami!

Related posts

Leave a Comment