Modernis.co, Lamongan – “Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi,” (QS. al Mu’min: 55).
Pada suatu pagi, seorang wanita yang bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia tampak uring-uringan. Mobilnya tiba-tiba mogok. Ia memanggil taksi untuk menuju kantor. Kepada supir taksi ia menumpahkan segala kekesalannya.
Tentang pekerjaan yang hampir menyita semua waktunya, jodoh yang belum datang, bos dan rekan kerja yang menyebalkan, berbagai urusan dan kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya, orang tuanya yang sakit-sakitan, dan berbagai hal lain yang rasanya membuat hidupnya seperti neraka. Sopir taksi hanya diam mendengarkan semua keluhan wanita itu.
Lampu lalu lintas menyala merah, taksi berhenti. Saat itu di sisi jalan lewat seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil. Ibu itu berprofesi sebagai mengambil sampah keliling. Ia menarik gerobaknya dibantu seorang anaknya, sedang anak yang satu lagi duduk di atas gerobak. Mereka bercanda, tertawa riang, seolah tidak ada beban.
Sopir taksi hanya berkata: “Ternyata, untuk tertawa itu nggak sulit ya mbak?” Wanita itu kemudian terdiam. Ia malu pada pada keluarga itu, dengan kondisi ekonomi yang jauh berbeda, mereka masih bisa bergembira menikmati hidup ini.
Lampu hijau menyala, mobil pun kembali melaju. Wanita itu sampai juga di kantornya. Sebuah gedung perkantoran yang megah. Belum lama ia duduk di kursi kerjanya, ia mendapat telepon dari bosnya untuk segera menyelesaikan pekerjaan baru. Ia kembali stress.
Sore harinya, saat hendak pulang kantor, seorang teman mengajaknya ke sebuah kafe. Temannya itu ingin curhat, ia sedang mengalami beberapa masalah yang berat. Hari semakin gelap, mereka mengakhiri pembicaraan dengan solusi yang tidak jelas. Waktunya untuk pulang.
Ia pulang lebih malam dari biasanya. Wanita naik ke dalam taksi. Hari-hari yang melelahkan membuat hatinya semakin panas, kepalanya semakin berat. Rasanya walaupun hari ini berakhir tetap saja tidak berguna, karena esok juga akan terasa sama beratnya. Dalam perjalanan pulang ia melewati deretan pertokoan, di sana banyak gelandangan alas seadanya.

Ia kembali tersadar, bahwa apa yang ia alami selama ini belum ada apa-apanya dibandingkan mereka. Ia, dengan semua nikmat dan rahmat yang Allah berikan, masih saja merasa kekurangan. Ternyata masih banyak orang yang hidupnya lebih sulit dari dirinya.
Karena itu, marilah kita bersyukur kepada Allah swt, bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk hidup dengan anugerah-Nya yang luar biasa, maka sangat tidak pantas jika kita selalu mengeluh dalam hidup ini. Bersyukur dan bersabarlah selalu dalam menjalani hidup ini.
Oleh: Fathan Faris Saputro (Founder Rumah Baca Api Literasi)


Kirim Tulisan Lewat Sini