Terjadi Kembali Konflik Agraria dan Tambang, Begini Catatan DPP IMM  

konflik agraria

Modernis.co, Jakarta – Selang sehari Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) bersama Kader IMM Seluruh Indonesia (IMM DKI, IMM Banten, Dan IMM Jawa Barat), melakukan aksi pada  02 Maret 2022 di Gerbang Istana Negara, Jakarta. Salah satu poin penting tuntutan IMM dalam kuliah umum di depan istana kemarin berkenaan konflik agraria dan pertambangan. Namun, lagi-lagi terulang kembali konflik agraria ataupun pertambangan di Konawe, Sulawesi Tenggara pada tanggal 03 Maret 2022.

Ketua DPP IMM Bidang Hikmah, Politik, Dan Kajian Publik IMMawan Baikuni Alsafa, menjelaskan dimana Perusahaan yang patut diduga berstatus ilegal PT. Gema Kreasi Perdana (GKP) kembali merampas paksa lahan milik petani Wawoni di Ruko-Ruko Raya, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara pada Kamis 3 Maret 2022. Mereka juga dibantu dengan sejumlah aparat kepolisian dari Polda Kendari dan TNI AD.

“Semakin dipertegas hasil analisa DPP IMM bahwa penyumbang konflik sosial di masyarakat itu adalah berasal dari perampasan tanah dan pertambangan yang saat ini terjadi di Konawe Sulawesi Tengah,” ungkap Bai.

Bai juga menjelaskan DPP IMM berikan catatan bahwa searah persoalan tersebut akan terus terjadi di belah daerah di Indonesia, seperti yang masih hangat persoalan konflik sosial soal tambang batu andesit di Wadas, Purworejo Jawa Tengah pada 8 Februari 2022. Serta konflik pertambangan di Parigi, Moutung-Sulawesi Tengah hingga merenggut nyawa salah satu pejuang penolak tambang pada tgl 15 Februari 2022.

“Info berkenaan konflik agraria ini disampaikan langsung oleh IMM Sulawesi Tenggara, dimana sejumlah warga pemilik lahan kemudian mencoba mempertahankan lahan milik mereka dengan berbagai cara, salah satunya dengan aksi spontan ibu-ibu yang membuka pakaian sebagai bentuk usaha maksimal yang dapat dilakukan oleh perempuan Petani Wawonii,” Imbuh Bai.

Berikut kronologis yang disampaikan langsung oleh IMM Sul-Tra kepada DPP IMM;

Penyerobotan tanah rakyat hari ini (3/03/22) terjadi di lahan milik La Dani dan Ibu Sahria, dua warga yang sejak awal telah menentang kehadiran tambang di Pulau Wawonii. Kejadian hari ini adalah penyerobotan kelima kalinya, sejak: [1] Selasa, 9 Juli 2019, sekitar Pkl. 11.00 Wita di lahan milik Ibu Marwah;  [2] Selasa, 16 Juli 2019, sekitar Pkl. 15.00 di lahan milik Bapak Idris; [3] Kamis, 22 Agustus 2019 di lahan milik Pak Amin, Bu Wa Ana, dan Pak Labaa (Alm) dan; [4] Selasa, 1 Maret 2022 di lahan milik La Dani dan Sahria.

Akibat penyerobotan lahan itu, sebagian warga yang mempertahankan lahannya jatuh-pingsan. Ironisnya, aparat kepolisian dan TNI yang berada di lokasi cenderung membiarkan tindakan penyerobotan lahan yang dilakukan perusahaan. Kejadian ini sudah terjadi berkali-kali sejak tahun 2019. Polisi, TNI dan beberapa orang dari perusahaan juga melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap Petani Wawonii. (PY)          

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment