Modernis.co, Lamongan – Membaca adalah inti dari pendidikan, sayangnya budaya membaca di Indonesia masih sangat rendah. Data The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan budaya membaca di Indonesia termasuk yang paling rendah dari tahun ke tahun.
Fathan Faris Saputro, Owner Api Literasi Publishing, mengatakan, perlu ada kesadaran akan pentingnya penguasaan literasi membaca sejak dini, oleh semua pihak.
“Reading is the heart of education, anak yang tiap hari sekolah tapi tidak membaca, sebenarnya dia tidak mendapat pendidikan. Tidak ada gunanya guru berbicara dan mengajar setiap hari, karena dengan hanya mendangar maka anak-anak tidak mendapat pendidikan,” ungkapnya saat memberikan materi motivasi literasi ‘Motivasi meningkatkan minat baca siswa’, Senin (14/12).
Dampak dari budaya literasi yang rendah bisa dilihat dari status Indonesia sebagai pengirim buruh migran terbesar. TKI Indonesia sudah mencapai 9 juta. Karena kemampuan literasi rendah, tidak mampu menggerakkan roda perekonomian negara. Literasi rendah juga mengakibatkan hoax dan hate speech merajalela.
Menurut Faris, sebenarnya anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang sama besarnya dengan negara lain. Hal itu karena sejak kecil dan selama sekolah, anak-anak Indonesia tidak diwajibkan membaca buku.
“Bandingkan dengan di Thailand. Siswa SMA di sana wajib membaca 5 judul buku, di Amerika Serikat 32 judul buku, di SMA Indonesia, 0 judul. Ini fakta yang sangat menyakitkan. Jadi anak-anak kita rabun membaca dan tidak menulis. Prestasinya rendah. Dari 41 negara, kita hanya peringakt 39 PISA,” ujar Faris.
Sementara itu, Kepala sekolah SMP Muhammadiyah 4 Maduran Imro’atun Ma’rufah mengatakan membaca adalah salah satu stimulasi untuk memaksimalkan perkembangan otak anak.
“Di negara-negara maju, minat baca sudah dimulai jauh sebelum mereka bisa membaca. Hasilnya, anak-anak yang suka membaca tidak memiliki kesulitan ketika bersekolah, sebaliknya, anak yang tidak suka membaca ternyata dikaitkan dengan tingkat kriminalitas yang cenderung lebih tinggi ketika mereka dewasa,” jelasnya.
Untuk mendukung percepatan ketertinggalan tersebut, Imro’atun mengatakan pihaknya menghadirkan gerakan literasi.
“Salah satu kegiatan budaya literasi di SMPM 4 Maduran adalah mengadakan kompetisi membaca di mana kegiatan membaca bisa menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Hal itu bertujuan agar setiap anak mencapai potensi penuh belajar mereka dan ini selaras dengan dukungan pihaknya pada pemerintah untuk menekan angka stunting,” tutupnya. (FF)
Kirim Tulisan Lewat Sini