Riuh yang datang mendengus tanpa henti
Rintik pertanda hujan mulai bersiap-siap menerpa bumi
Rindu isyarat tak kasat mata melawan derai hati yang berkeping-keping
Rentetan perjalanan tak menuai ujung
Hari senja menyambut malam pertanda bintang berkilauan diangkasa
Mendung pertanda bintang lenyap satu persatu
Tergantikan oleh awan gelap digelapnya langit malam tak mau kalah bersaing
Lautan kata ribuan suara berkecamuk saling mengadu tentang apa yang terjadi hari ini
Sendu berujung pada penantian abadi yang tak berkesudahan padahal hari sudah menjelang pagi menyambut mentari dengan kehangatan pagi yang tak tergantikan lebih lagi pada hakikat ia hangat dan menyehatkan
Mengapa perang tak berkesudahan menyisihkan luka bengis yang membekas selamanya
Hati terlalu rapuh menopang segalanya
Bumi menangis menyaksikan ketidakharmonisan yang dibungkus kemunafikan
Teriakan-teriakan kaum intelek yang hinggap dibelakang telinga hanyalah alat bernegosiasi tanpa perhitungan
Oleh : Nur Hidayah Rusli (Bendahara satu PC IMM Kepulauan Selayar)
Kirim Tulisan Lewat Sini