Catat! Hutang Bisa Masuk Hukum Perdata

hutang dalam hukum perdata

Modernis.co, Jakarta – Ternyata perkara hutang itu bisa masuk ke ranah hukum perdata. Buat yang lebih galak kalau lagi ditagih utangnya awas ya!

Soal hutang ini biasanya terjadi di akhir bulan. Antara orang yang udah saling mengenal. Kalau gak akrab banget kayaknya bakal lebih malu sih buat pinjem.

Tapi ada nih orang-orang yang justru jadiin hutang sebagai sebuah hobi. Semua yang dia kenal bakal dihutangin. Dengan gaya memelas khasnya, dia beraksi.

Saat hari penagihan tiba, dia bakal langsung kena penyakit amnesia dong! Pura-pura gak inget. Pas ditagih langsung mlengos ae.

Nah untuk menghindari hal demikian, sebenarnya hutang ini bisa loh masuk ke ranah hukum perdata. Tapi ada aturan mainnya.

Bacaan ini penting banget sih buat kita renungi dan cermati ulang. Apalagi budaya ngutang tuh masih sering banget kan dilakukan oleh masyarakat +62. 

Kebiasaan ngutang ini juga didukung sama masyarakat kita yang sungkan buat menolak memberi bantuan. Alhasil, kitapun juga mudah ngutangin orang tanpa prosedur yang jelas.

Dalam hukum perdata, utang-piutang punya aturan yang jelas. Jadi, bukan sekadar “yaelah, kan cuma utang”. 

Nah, biar nggak salah langkah, yuk kita bahas 5 hal penting perkara hutang dalam perspektif hukum perdata.

1. Hutang itu Janji, Bukan Omdo!

Dalam hukum perdata, utang-piutang itu masuk ke wilayah perjanjian. Artinya, sejak dua orang sepakat buat ngutang dan ngutangin, maka disitu ada hukum yang mengikat.

Nggak peduli hutangnya mau tertulis di kertas, chat WhatsApp, atau bahkan omongan langsung, selama ada:

  • kesepakatan,
  • pihak yang berutang dan memberi utang,
  • serta objek yang jelas (uang atau barang),

Berarti perjanjian itu sah. Jadi jangan anggap remeh ya. Sekali bilang “iya”, itu bukan cuma janji biasa, tapi bisa jadi tanggung jawab hukum. Nah pembahasan ini nyambung di poin 3.

2. Ada Hak dan Kewajiban

Dalam perkara utang-piutang, hukum perdata tegas banget soal hak dan kewajiban.
Yang ngutang wajib bayar dan yang ngutangin punya hak buat nagih!

Jadi kalau orang yang kamu utangin lebih galak pas ditagih, udah rekamin aja diem-diem buat jadi bukti kalau mau dibawa ke ranah hukum.

Namun ketika menagih hutang harus dilakukan dengan sopan dan cara yang legal. Bukan malah seperti teror atau ancaman. Itu malah kamu yang bakal kena jerat hukum.

Jadi, baik yang ngutang maupun yang nagih harus sama-sama waras dan on the track. Nah adanya hukum perdata yang ngurus soal ini tuh biar utang-piutang gak jadi drama.

3. Bukti Itu Penting, Jangan Asal Akrab

Umumnya seseorang bakal ngutang ke orang lain yang dianggap sudah akrab. Misalnya tetangga, rekan kerja, atau masih saudara.

Tapi inilah kesalahan terbesar sebagian orang yang ngasih utang dengan alasan gak enak karena udah kenal dekat. Ini adalah petaka besar, apalagi kalau nominal pinjemnya gede.

Tiba-tiba dia dateng, minjem 10 juta, 100 juta, 105 juta buat benerin atap rumah gitu kan. Eh taunya buat bayar pinjol. 

Pas hutang gak ada siapa-siapa yang liat, gak ada chat, gak ada kwitansi, voice note, rekaman, dan bukti lainnya. Dia cuma bilang “Tenang bro, minggu depan gue balikin.”

Eh, minggu depan lewat… sebulan lewat… tiga bulan lewat, tahu-tahu yang minjem malah gak tau kemana. Nomor gak aktif. Awalnya sih teman, bahkan saudara. Tapi masalah uang bisa beda broh!

Hukum perdata nggak main asumsi. Semua harus ada buktinya. Makanya, meskipun minjemin ke teman dekat, tetap smart. 

Simpan bukti, bukan karena nggak percaya, tapi biar aman kalau nanti ada plot twist yang nggak di luar nurul. Ngasih kepercayaan boleh, antisipasi lebih penting.

4. Wanprestasi: Ketika Janji Tinggal Janji

Wanprestasi merupakan istilah yang paling sering muncul dalam perjanjian hutang. Singkatnya, wanprestasi itu kondisi ketika orang yang berutang ngelakuin beberapa hal berikut:

  • nggak bayar sama sekali,
  • telat bayar,
  • bayar tapi nggak sesuai kesepakatan,
  • atau melakukan hal yang dilarang dalam perjanjian.

Kalau sudah masuk fase wanprestasi, urusannya nggak lagi soal “sabar aja”. Secara hukum, pihak yang dirugikan bisa menuntut:

  • pembayaran utang,
  • ganti rugi,
  • bahkan pembatalan perjanjian.

Kita juga bisa meminta pihak yang berutang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Jika aparat menemukan unsur penipuan atau penggelapan, kita dapat membawa perkara tersebut ke ranah hukum pidana. Sehingga hukumannya bisa masuk penjara.

Berbeda sama ranah hukum perdata yang pelanggarnya gak bisa dijeblosin ke penjara. Jadi kalau hutang mending segera dibayar ya!

5. Pengadilan Jalan Terakhir

Kabar baiknya, perkara hutang dalam ranah perdata nggak selalu harus berakhir di meja hijau. Hukum perdata membuka ruang penyelesaian damai, seperti:

  • musyawarah,
  • mediasi,
  • atau negosiasi ulang.

Kadang, duduk bareng dan ngobrol baik-baik justru lebih efektif daripada saling ngotot. Pengadilan itu opsi terakhir kalau semua cara damai mentok gak ada win-win solution.

Pada akhirnya, utang-piutang bukan cuma soal uang, tapi soal tanggung jawab. Hukum perdata hadir supaya hubungan antar manusia tetap tertib dan adil.

Buat yang ngutang, bayar tepat waktu itu keren. Buat yang ngasih utang, kamu harus punya aturan yang jelas dan terdokumentasi.

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment