Ketergantungan Internet dan Gaya Hidup Remaja

ketergantungan internet

Modernis.co, Jakarta – Pesatnya perubahan dan dampak yang dibawa oleh era globalisasi dipermudah oleh kemajuan teknologi yang semakin pesat. Adanya komputer yang dilengkapi dengan layanan internet dan berbagai media lainnya menjadi hal yang tidak asing bagi setiap kelompok masyarakat, utamanya bagi remaja, salah satunya dengan tingginya penggunaan gadget.

Aktivitas tersebut membuka peluang bagi masuknya budaya-budaya dan gaya hidup dari negara lain yang mempengaruhi perubahan perilaku remaja. Penulisan ini bertujuan untuk melihat seperti apa pengaruh dari ketergantungan internet dan penggunaan gadget terhadap gaya hidup bebas remaja. Kecanduan gadget yang dialami oleh para remaja sebagian besar disebabkan oleh kurangnya kontrol diri.

Kontrol diri merupakan proses untuk mengendalikan diri sehingga dapat dihasilkannya kesesuaian yang optimal dalam berperilaku. Berbagai dampak yang ditimbulkan akibat kurangnya kontrol terhadap penggunaan gadget pada remaja ialah tingkat prestasi belajar dan keterampilan dalam berperilaku sosial. Gadget sangat mudah sekali mempengaruhi pola perilaku anak terhadap lingkungan yang mempengaruhi gaya hidup.

Di usia sekolah (remaja) kerentanan terhadap bahaya gadget terhadap gaya hidup bebas (narkoba, brutalisme atau premanisme, seks bebas, kriminalitas) dikalangan remaja sangatlah besar, salah satunya adalah di lingkungan teman sebaya di lingkup sekolah. Perilaku yang hanya dilakukan beberapa siswa ini tentu mempengaruhi siswa lain yang membuatnya melakukan hal yang sama.

Berdasarkan hal tersebut, pengawasan dari orang tua menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah ketergantungan terhadap gadget. Beberapa faktor penyebab perubahan perilaku remaja seperti kurangnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar, tersebarnya konten negatif di internet, dan terpengaruh terhadap budaya asing akibat ketergantungan internet dapat ditangani dengan melakukan konseling dengan profesional, terapi kognitif, dan memperbanyak literasi digital.

Pada zaman modern saat ini, globalisasi menjadi sebuah alasan bergesernya nilai-nilai budaya pada suatu bangsa. Globalisasi memungkinkan adanya pertukaran budaya antar negara di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, globalisasi mampu memberikan dampak positif dan negatif tidak hanya kepada aspek sosial budaya melainkan juga aspek politik, ekonomi dan lain-lain.

Pesatnya perubahan dan dampak yang dibawa oleh era globalisasi inipun turut dipermudah oleh kemajuan teknologi yang semakin pesat. Adanya komputer yang dilengkapi dengan layanan internet dan berbagai media lainnya menjadi hal yang tidak asing bagi setiap kelompok masyarakat, utamanya bagi remaja. Hal ini kemudian membuka peluang bagi masuknya budaya-budaya dan gaya hidup dari negara lain. (Rismala et al., 2021).

Pola didik orang tua saat ini juga dipengaruhi oleh masuknya internet akibat globalisasi. Dahulu, orang tua masih membiarkan anaknya untuk bermain di luar rumah dengan permainan tradisional bersama teman lainnya. Akan tetapi, orang tua zaman sekarang cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk mengalihkan permainan tradisional dengan mengandalkan teknologi sebagai media online untuk anak yang digunakan kapan saja dan dimana saja melalui gadget. Hal tersebut tanpa dipungkiri memberikan efek buruk terhadap pola perilku anak yang menyebabkan ketergantungan. (Bintari, 2021).

Dikutip dari website kominfo.go.id berdasarkan data terbaru, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Hasil studi menemukan bahwa 80 persen responden yang disurvei merupakan pengguna internet, dengan bukti kesenjangan digital yang kuat antara mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih sejahtera di Indonesia, dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan (dan kurang sejahtera).

Berbagai dampak yang ditimbulkan akibat kurangnya kontrol terhadap penggunaan gadget pada remaja ialah tingkat prestasi belajar dan keterampilan dalam berperilaku sosial. Gadget sangat mudah sekali menarik perhatian dan minat anak dan sudah menjadi hal yang biasa karena anak-anak sudah memakai gadget dalam kehidupan sehari-hari. (Gero & Hamu, 2022).

Di usia sekolah (remaja) kerentanan terhadap bahaya gadget terhadap gaya hidup bebas (narkoba, brutalisme atau premanisme, seks bebas, kriminalitas) dikalangan remaja sangatlah besar, salah satunya adalah di lingkungan teman sebaya di lingkup sekolah. Terkait pergaulan kelompok teman sebaya di lingkungan sekolah, contohnya ketika pelajaran berlangsung, beberapa siswa akan mencari kesempatan untuk memainkan gadget-nya untuk bermain game online atau bermedia sosial walaupun sedang diberikan tugas atau sedang ada guru yang menjelaskan di depan kelas. Perilaku yang hanya dilakukan beberapa siswa ini tentu mempengaruhi siswa lain yang membuatnya melakukan hal yang sama. (Hadipramana et al., 2019).

Fakta lainnya, penggunaan gadget sebagai alat komunikasi atau bersosialisasi merupakan hal yang tanpa disadari menuntut remaja untuk ketergantungan. Beberapa hal seperti belajar, berkomunikasi dengan teman, ataupun guru dilakukan dengan memanfaatkan gadget, sehingga mau tidak mau seorang remaja harus melekat dengan gadget yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab ketergantungan.

Berdasarkan penjelasan  tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui dampak ketergantungan internet dan penggunaan gadget terhadap gaya hidup bebas remaja.

Gaya Hidup Bebas Remaja

Gaya hidup bisa dikatakan sebagai tata cara yang dijalani orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Banyak para ahli yang memberi pengertian tentang gaya hidup ini. Kottler (Sakinah, 2002:78) misalnya, Ia menjelaskan bahwa, “Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya”. Gambaran keseluruhan diri tersebut merupakan perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku.

Berdasarkan berbagai pengertian gaya hidup di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa gaya hidup merupakan ciri khas masing-masing individu yang menggambarkan keseluruhan diri dan pola interaksi seseorang yang diungkapkan dalam kegiatan, minat, dan pendapatnya sehari-hari. (Yanti et al., 2016).

Pergaulan bebas merupakan suatu kasus yang semakin mengkhawatirkan terutama bagi remaja yang telah terjerat dengan perilaku-perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan nilai atau norma agama, adat istiadat serta kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Remaja merupakan individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan, pengetahuan yang minim, dan ajakan teman-teman yang bergaul bebas membuat makin berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam kemajuan bangsa. (Hadipramana et al., 2019).

Salah satu budaya dan gaya yang sedang berkembang di tengah-tengah remaja saat ini adalah gaya hidup hedonis. Menurut Kartono (1997:43), hedonis berasal dari kata hedonisme yang berarti gaya hidup atau pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Orang yang memilik gaya hidup hedonis cenderung menjalani kehidupan dengan mengutamakan kesenangan, pesta pora, pelesiran dan berbagai hal lainnya yang sarat akan kemewahan.

Orang yang mengikuti pemahaman dan gaya hedonis menjalani hidup dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi berbagai keinginannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Supelli (2003:30) yang mengungkapkan bahwa: hedonisme merupakan sebuah penyakit yang ditimbulkan akibat adanya virus hedon, hedonis merupakan satu sebutan yang dialamatkan kepada orang yang terkena penyakit hedonisme tersebut. Hedonisme itu sendiri merupakan perilaku yang menuhankan kenikmatan dan kesenangan pribadi, kemewahan, dan kemapanan di atas segalanya. (Daiyana & Winarti, 2020).

Gaya hidup hedonisme yang cenderung mengejar kesenangan ini seringkali meluas tidak hanya pada ketergantungan akan banyaknya materi, melainkan juga kesenangan akan pemuasan hasrat tubuh. Salah satu masalah dari gaya hidup hedonis ini adalah meluasnya prilaku seks bebas. Pada saat ini, bebasnya pergaulan akibat gaya hidup hedonis dapat dilihat dari munculnya kebiasaan baru yang tidak mencirikan kebudayaan tanah air seperti pacaran. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian sering terjadi perbuatan yang berbau negatif sebagai alasan untuk kesetiaan dan mempertahankan cinta. (Munawaroh, 2022).

Gaya hidup bebas yang berkembang di kalangan remaja lainnya adalah seks bebas. Seks bebas merupakan suatu istilah yang seringkali erat kaitannya dengan penyakit masyarakat dewasa ini. Perilaku seks bebas merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan norma ketimuran dan pengaruhnya mampu merusak lingkungan sekitar.

Pengaruh Ketergantungan Gadget Terhadap Gaya Hidup Bebas Remaja

Terlepas dari sistem operasinya, kepemilikan perangkat seperti smartphone dan tablet sudah tidak asing lagi di kalangan anak muda. remaja saat ini menggunakan gadget tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga untuk tujuan lain. Pengguna perangkat dapat menggunakan salah satu kamera untuk mengabadikan momen pribadi, dan kemampuan media sosial juga merupakan daya tarik besar bagi remaja yang ingin berjejaring atau mengekspresikan kreativitas mereka. Kebanyakan anak muda sudah memiliki teknologi. Siswa yang memiliki perangkat sering kali membawanya ke kelas. Mereka biasanya menggunakan teknologi di kelas. (Khaled et al., n.d.).

Manfaat dari gadget sendiri bermacam-macam: untuk menghitung, mengakses internet, mengirim pesan, bermain games, dan jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Tapi mereka sering mengaksesnya saat proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tanda-tanda seorang remaja sudah ketergantungan gadget yaitu penggunan gadget dalam sehari bisa lebih dari 6 sampai 8 jam bahkan lebih. Dampak lain dapat mengubah perilaku anak menjadi individualisme yaitu lebih senang bermain dengan ponsel daripada bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Kecanduan gadget juga dapat berdampak pada kesehatan yang membuat aktivitas fisik mulai menurun sebab kurang banyak bergerak. (Wasa et al., 2019).

Pengaruh lainnya, adanya internet memudahkan untuk mengakses jenis macam budaya yang tidak sesuai dengan norma ketimuran. Sehingga mudahnya anak untuk mengerti akan perbuatan yang mengandung konten pornografi mengakibatkan terjerumusnya anak kedalam pergaulan bebas. (Pratiwi & Malwa, 2021).

Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Perilaku Remaja Terkait Ketergantungan Internet Dan Penggunaan Gadget

Kecanduan gadget yang dialami oleh para remaja sebagian besar disebabkan oleh kurangnya kontrol diri. (Pratiwi & Malwa, 2021). Kontrol diri merupakan proses untuk mengendalikan diri sehingga dapat dihasilkannya kesesuaian yang optimal dalam berperilaku. Beberapa penyebabnya adalah :

  • Kurangnya Sosialisasi Secara Langsung dengan Lingkungan

Berkomunikasi secara tatap muka (face to face) sudah mulai berkurang, interaksi sosial terhadap lingkungan pun berkurang. Remaja saat ini lebih senang bermain smartphone hingga dini hari, jika sudah asik dengan smartphone mereka jarang sekali untuk menyapa seseorang, baik yang muda maupun yang lebih tua. Terkadang di dalam sebuah perkumpulan remaja tidak adanya komunikasi, dalam kumpulnya tersebut remaja asik dengan smartphone-nya masing-masing. Ini merupakan kejadian bisa menghilangkan budaya manusia, karena manusia pada umumnya makhluk sosial. Perilaku remaja menjadi malas-malasan, sering begadang, dan selalu menunda-nunda pekerjaan. (Prasetiyo et al., 2019).

  • Tersebarnya Konten Internet yang Negatif

Hadirnya media sosial melalui jaringan internet memberikan andil besar terhadap penyebaran konten negatif seperti pornografi, karena internet telah menawarkan keberagaman dan kebebasan akan akses informasi bagi penggunanya tanpa harus terikat dengan pembatasan dan sensor. Fakta membuktikan bahwa sepanjang tahun 2019, Kementerian Kominfo menerima 431.065 aduan masyarakat terkait konten bermuatan negatif. Dari jumlah tersebut aduan terbanyak adalah konten pornografi dengan total 244.738. (Shofiyah, 2020).

Berbagai konten pornografi yang muncul melalui iklan, media sosial, games, film, video klip, ataupun tontonan di atas awalnya akan membangkitkan rasa penasaran terlebih dahulu pada anak, bahkan saat tidak sengaja melihat sekalipun. Rasa penasaran inilah yang menjadi dorongan anak-anak untuk melihat lebih banyak konten pornografi lainnya. Selain itu, kecanduan ini dipicu oleh pengeluaran hormon dopamin pada otak sehingga akan menimbulkan perasaan bahagia ketika menonton konten pornografi. Apabila tidak segera dicegah, bukan tidak mungkin kecanduan terhadap pornografi dapat terjadi pada remaja. (Sapty Rahayu et al., 2019).

Pornografi dapat merusak otak anak, tepatnya pada salah satu bagian otak depan yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC). Hal ini disebabkan karena bagian PFC yang ada di otak anak belum matang dengan sempurna. Jika bagian otak ini rusak, maka dapat mengakibatkan konsentrasi menurun, sulit memahami benar dan salah, sulit berpikir kritis, sulit menahan diri, sulit menunda kepuasan, dan sulit merencanakan masa depan.

Dampak lain yang dirasakan anak setelah melihat pornografi adalah keinginan untuk mencoba dan meniru. Ini berkaitan dengan terpengaruhnya mirror neuron. Mirror neuron adalah sel-sel otak yang mampu membuat anak seperti merasakan atau mengalami apa yang ditontonnya, termasuk pornografi. Hal ini dapat mendorong anak untuk mencoba dan meniru apa yang dilihatnya. (Shofiyah, 2020).

  • Terpengaruh Budaya Asing

Akses internet yang sangat mudah dan luas, tentu meperbesar kemungkinan masuknya penyebaran budaya dari negara lain yang mungkin masih sulit untuk dibedakan mana yang baik dan buruknya oleh remaja. Pengaruh negatif dari budaya asing terhadap remaja sangat beragam, seperti minum minuman keras, berpakaian terbuka, pemerkosaan, dan tindakan kriminal lainnya, bahkan tidak banyak yang sudah terseret narkoba.

Pengaruh negatif tersebut akan berpengaruh besar pada generasi muda di Indonesia mengingat anak muda jaman sekarang dengan gampangnya terbuai oleh rayuan-rayuan perduniawian, dimana anak remaja masih rentan mencari jati dirinya sendiri . Tidak sedikit yang bahkan sudah terjerumus arus negatif budaya asing. (Irmania et al., 2021).

Penanganan Terhadap Remaja Yang Ketergantungan Internet Dan Penggunaan Gadget

  • Konseling Individu Melalui Pendekatan Terapi Realitas

Kecanduan gadget yang dialami oleh para remaja sebagian besar disebabkan oleh kurangnya kontrol diri. Individu yang mengalami manajemen kontrol yang rendah diperlukan penanganan agar dia mampu untuk mengontrol dirinya dan bertanggung jawab terhadap setiap perilaku, serta aktivitas yang dilakukannya. Terapi realitas merupakan terapi yang difokuskan pada tingkah lakunya saat ini. Terapi realitas ini bertujuan agar seseorang mampu bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya saat ini. (Nurjannah, 2022).

  • Terapi Cognitive Behavior

Pada perkembangannya Cognitive Behavior Therapy merupakan penggabungan dua teknik terapi yaitu teknik Behavior Therapy dikembangkan oleh Wolpe dan ahli lainnya pada tahun 1950-an, dan Cognitive Therapy dikembangkan A.T Beck di awal 1960-an. Behavior Therapy muncul karena kritik atau sanggahan yang menganggap bahwa teori psikoanalisa dari Sigmun Freud dianggap kurang empiris dan dalam Cognitive Behavioral Therapy berfokus pada usaha untuk mengubah pikiran atau pembicaraan diri.

Terapi cognitive behavior merupakan salah satu bentuk konseling yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih sehat, memperoleh pengalaman yang memuaskan, dan dapat memenuhi gaya hidup tertentu, dengan cara memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Pendekatan terapi cognitive behavior berusaha memfokuskan untuk menempatkan suatu pikiran, keyakinan, atas bentuk pembicaraan diri dan perilaku terhadap konsistensi terhadap diri. Terapi cognitive behavior ini adalah pendekatan konseling yang mengacu pada pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis. (Firdaus & Marsudi, 2021).

  • Literasi Digital

Remaja rentan terpapar konten negatif sehingga ruang daring harus diproteksi sedemikian rupa untuk mengontrol arus informasi dan penggunaan internet agar tidak menyimpang dari aturan. Dewasa ini, Indonesia menganut pendekatan ini sehingga berbagai regulasi mengenai UU ITE mengatur jalan dan perputaran roda ruang daring yang ada di Indonesia. Dengan adanya internet positif, pemblokiran konten judi dan pornografi, hingga UU mengenai hoaks menjadi sorotan pemerintah akhir-akhir ini. (Rianto, 2019).

Kesimpulan

Berdasarkan penulisan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengaruh internet dalam penggunaan gadget oleh remaja sangat tinggi. Berbagai dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh kurangnya kontrol diri. Berdasarkan hal tersebut, pengawasan dari orang tua menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah ketergantungan terhadap gadget.

Oleh: Lucien Abel Maheswari, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang

Daftar Pustaka

Bintari, R. H. (2021). Kecanduan Gadget di Masa Pandemi covid-19 pada Siswa Kelas XII MIPA SMAN 1 Sutojayan Kabupaten Blitar. Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti, 8(2). https://doi.org/10.47794/jkhws.v8i2.294.

Daiyana, S., & Winarti, Y. (2020). Hubungan Gaya Hidup Hedonisme Dengan Perilaku Seks Bebas pada Remaja di SMA Negeri 16 Samarinda. Borneo Student Research, 1(2), 194–198.

Firdaus, W., & Marsudi, M. S. (2021). Konseling Remaja yang Kecanduan Gadget Melalui Terapi Kognitif Behavior. Studia: Jurnal Hasil Penelitian Mahasiswa, 6(1), 15–24. https://www.lp2msasbabel.ac.id/jurnal/index.php/stu/article/view/1980.

Gero, S., & Hamu, A. H. (2022). Cognitive Commitmen Behavioral Therapy Sebagai Penangkal Kecanduan Gagdet Pada Remaja Pada Masa New Normal Covid 19 Di Panti Asuhan St. Louis De …. Jurnal Pengabdian Masyarakat …, 1(1), 1–10. http://ejournal.pancabhakti.ac.id/index.php/jpmj/article/view/183%0Ahttp://ejournal.pancabhakti.ac.id/index.php/jpmj/article/download/183/88.

Hadipramana, J., Aguslinar, A., Pratiwi, D. N., & Ginting, N. W. (2019). Program Pendampingan Remaja Terhadap Dampak Teknologi Digital Terhadap Gaya Hidup di Desa Sidodadi Ramunia, Kabupaten Deli Serdang. Prosiding Seminar Nasional Kewirausahaan, 1(1), 378–383.

Irmania, E., Trisiana, A., & Salsabila, C. (2021). Upaya mengatasi pengaruh negatif budaya asing terhadap generasi muda di Indonesia Seperti Indonesia mempunyai banyak sekali kebudayaan , mengingat Indonesia Bangsa Indonesia memiliki beragam budaya yang tak terhitung jumlahnnya . patut dilirik bangsa lain. Dinamika Sosial Budaya, 23(1), 148–160.

Munawaroh, M. (2022). Hedonisme Remaja Sosialita (Life Style Remaja Sosialita Kalangan Mahasiswa Di Pedesaan Lamongan). Jurnal Studi Pendidikan Islam, 5(2), 194–210.

Nurjannah, N. (2022). Terapi Realitas Untuk Remaja Yang Kecanduan Gadget Individual Counseling Through Approach Reality Therapy For Those WHO Pendahuluan. 5(2), 109–122.

Prasetiyo, A. R. I., Dakwah, F., Ilmu, D. A. N., & Lampung, R. I. (2019). Terhadap Perilaku Sosial Remaja di Perumahan Pt Great Giant Foods Lakop Kecamatan Terbanggi Besar Terhadap Perilaku Sosial Remaja di Perumahan PT Great Giant Foods Lakop.

Pratiwi, R. G., & Malwa, R. U. (2021). Faktor yang Mempengaruhi Kecanduan Gadget terhadap Perilaku Remaja. Jurnal Ilmiah Psyche, 15(2), 105–112. https://doi.org/10.33557/jpsyche.v15i2.1550

Rianto, P. (2019). Literasi Digital Dan Etika Media Sosial Di Era Post-Truth. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(2), 24. https://doi.org/10.14710/interaksi.8.2.24-35.

Rismala, Y., Aguswan, Priyantoro, D. E., & Suryadi. (2021). Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini. El-Athfal : Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Anak, 1(01), 46–55. https://doi.org/10.56872/elathfal.v1i01.273.

Sapty Rahayu, F., Kristiani, L., & Fuhrensia Wersemetawar, S. (2019). Dampak Media Sosial terhadap Perilaku Sosial Remaja di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Seminar Nasional Inovasi Teknolog UN PGRI Kediri, 2018, 39–46. https://proceeding.unpkediri.ac.id/index.php/inotek/article/download/511/423/1241.

Shofiyah. (2020). Dampak Media Sosial dan Pornografi Terhadap Perilaku Seks Bebas Anak di Bawah Umur. Alamtara: Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 4(1), 57–68. https://ejournal.iai-tabah.ac.id/index.php/alamtaraok/article/download/503/373/.

Wasa, M. E., Sulistyo, & Afian, A. (2019). Pengaruh Penggunaan Gadget Dan Lingkungan Pada Mata Pelajaran IPS. Riset Pendidikan Ekonomi, 4(2), 1–7.

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan pikiran-pikiran anda via website kami!

Leave a Comment