Pemuda, Kuliah, Kerja, dan Wanita

pemuda dan pekerjaan

Modernis.co, Malang – Kuliah tidak akan memberi dampak apa-apa dalam hidup kita, kecuali kita sebagai mahasiswa berani untuk menyelami lautan ilmu yang ada di dalam dan di luar kampus. Banyak orang kuliah namun ia menyesal di akhir semester lantaran ia tidak menggerakkan dirinya untuk turut andil dalam dunia aktivisme.

Memang bukan sebuah kewajiban bagi seorang mahasiswa untuk terlibat aktif di dalam dunia organisasi kemahasiswaan. Namun amat merugilah ketika biaya kampus yang mahal tidak kita manfaatkan status kita sebagai mahasiswa untuk bergerak bersama orang-orang hebat di sekitar kita, yakni para aktivis mahasiswa.

Menjadi mahasiswa adalah masa yang paling indah, dimana masa ini adalah masa yang menjadi sebuah impian bagi sebagian orang yang ingin merasakan dalamnya sumber ilmu pengetahuan. Ketika awal masuk kampus, segalanya sangat berbeda dengan apa yang kualami sebelum-sebelumnya.

Berbagai teman dari latar belakang yang berbeda-beda menjadi satu dalam ruang-ruang akademik. Kehidupan kampus ikut membawa pola kehidupanku berubah seketika dari yang awalnya belum pernah ku alami. Selama menjadi mahasiswa hal yang tidak pernah kulupakan dari hidup ini adalah ketika ku memutuskan untuk bergabung dengan salah satu organisasi kemahasiswaan yang bernama IMM.

Sejak aku masuk IMM, aku memulai kehidupan baru, segala sesuatunya berbeda dari yang sebelumnya. Kultur organisasi yang sama sekali berbeda dengan kultur mahasiswa lainnya turut mempengaruhi pola pikir serta semakin membuat idealisme dalam diri ini menyala-nyala. Asam manisnya perkuliahan semuanya kurasakan ketika aku aktif di IMM.

Meskipun teman-temanku selalu memandang sebelah mata serta memberi stigma-stigma negatif pada mahasiswa yang aktif di organisasi, namun hal itu tidak membuat asa kami pudar. Kata-kata yang selalu mereka lontarkan adalah, buang-buang waktu, sok aktivis, mencari eksistensi, dan lain sebagainya.

Cibiran demi cibiran baik dari dosen maupun mahasiswa sudah biasa terdengar di telinga kami . Satu alasan yang membuat kami tetap bertahan dalam payung organisasi berlogo pena merah ini adalah kita hidup tidak sendiri. Ada orang lain di sekeliling kita yang perlu kita junjung harkat dan martabatnya.

Serta di lain sisi ada orang yang belum merasakan indahnya dunia, itulah mengapa kami tetap berdiri tegar untuk senantiasa setia pada ladang perjuangan ini.

Perjalananku selama menjadi Aktivis Mahasiswa kutuliskan dalam cerita ini, harapannya dari hal ini dapat memberi inspirasi serta menambah motivasi kawan-kawan semua untuk terus berjuang di jalan penuh dengan tikungan yang tajam guna mengasah diri agar pandai berbelok dan menjadi orang yang beruntung dengan melewati semua tantangannya.

Walaupun baru satu tahun merasakan kultur dunia aktivisme tentu sangat berpengaruh sekali terhadap diri saya. Berbagai hal yang ada di organisasi menjadi pijakan saya dalam menjalani hidup. Sebuah nikmat dan anugerah terindah dalam hidup ini ketika kita masih punya kesempatan untuk berjuang dengan teman-teman yang memiliki asa yang sama untuk terus memperjuangkan hak-hak masyarakat di sekeliling kita.

Masalah memang sering muncul di internal organisasi, tapi justru itu yang membuat kami menjadi semakin dewasa dalam menyelesaikan sebuah masalah. Kami tidak berpikir ego dan emosi dalam menghadapi cibiran, sindiran, dan permasalahan. Kami hanya berpikir kalau sudah terbiasa Terbentur, Terbentur, dan Terbentur sehingga kami Terbentuk. (Tan Malaka).

Kami tau di luar sana banyak teman yang awalnya mengabdikan diri di dalam organisasi namun di tengah perjalanan terhenti hanya karena tak mampu untuk saling memaafkan satu sama lain, tidak bisa terima stigma-stigma yang berbeda dengan yang lain, cemburu antara satu dengan yang lain, dan banyak lagi permasalahan lainnya yang membuat mereka apatis dan merasa puas dengan apa yang mereka punya.

Mereka adalah orang-orang dungu yang tidak tau apa tujuan ilmu. Nur Cholis Majid menyatakan “apa gunanya ilmu jika ia tidak mampu melebarkan jiwa sehingga iya berlaku selayaknya samudra yang menampung sampah-sampah”. Ikatan yang terbentuk dari pengetahuan akan menjadi suatu keyakinan yang kokoh untuk dipertahankan.

Walaupun di lain pihak memandang bahwa pergaulan dalam organisasi dan persaudaraan dalam ikatan adalah sebagian orang yang latar belakang serta sering berpikir aneh-aneh nan jauh.

Iya, memang seperti itulah kami sebagai organ dan anggota organisasi, karena organisasi adalah wadah untuk menampung sekumpulan orang-orang tertentu, aturan tertentu, tatanan tertentu dengan tujuan tertentu. Hanya karena perbedaan tujuan dan kebutuhan tertentu. Maka wajar kalau kami dikelompokkan sebagai orang yang berbeda dengan kebanyakan mahasiswa lainnya.

Kebutuhan kami bukan untuk kami, kami tidak memikirkan jalan singkat menjadi PNS, lulus cepat jadi Pegawai, bersaing ketat demi IP yang tinggi serta tidak mau terkekang dengan dogma-dogma akademik. Tujuan kami untuk orang miskin, rakyat melarat, kaum buruh, petani, wanita yang tertindas, dan pengangguran yang merambat bagai jamur di tanah kaya dan jaya ini.

Kami tidak berpikir berapa lama kami jadi mahasiswa, mau berapa lama kami berjuang tanpa harapkan iba, karena lulus bukan tujuan utama, tapi ilmu untuk diterapkan agar terciptanya kesejahteraan bersama itulah yang selalu kami perjuangkan demi mencapai keadilan yang merata walaupun kami sudah viral dan terkenal sebagai anak lama.

Kami berbeda dengan kamu yang hanya patuh dengan kebijakan dosen semata, kadang galau karena asmara, gundah gulana terpisah jauh dari gadis yang kamu cinta. Kami terbiasa bersama tanpa ada rasa kecewa sekalipun harus di tinggal nikah hanya karena kami tidak bisa menafkahi mereka lantaran telat dapatkan dan masuk dunia kerja.

Semua itu tidak jadi masalah karena tidak ada ruginya menyelam di dunia organisasi dan menjadi salah satu dari sekian aktivis di IMM. Senior-senior sudah sering berkata “besar keuntungan menjadi kader IMM”, jika benar maka akan mendapatkan dua pahala, jika salah maka akan dapatkan satu Immawatinya.

Immawan punya tanggung jawab dan misi yang besar. Kewajiban mereka adalah menjaga Immawati karena, Immawati sebagai tolak ukur wanita dalam bingkai Negara. Mereka adalah wanita tangguh dengan idealis yang jauh. Mereka kuat dengan semangat yang tak terjangkau.

Dan mereka adalah ibu generasi baru yang akan mengubah hukum dan kebijakan yang sudah lama beku. Merawat wanita berarti merawat masyarakat dan bangsa, karena wanita punya pengaruh yang besar dalam kehidupan dunia maka harus dijaga agar tidak menjadi kerusakan yang menjalar kemana-mana.

Karena wanita merupakan harta terindah yang berharga penyejuk mata dalam hidup berkeluarga. Karena wanita adalah penyempurna agama dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shaleha, yea, merekalah Immawati yang selalu kita jaga.

Oleh: Syarif R. S. (Mahasiswa UMM & Kader IMM)



Redaksi
Redaksi

Mari narasikan pikiran-pikiran anda via website kami!

Related posts

Leave a Comment