“Aksi tanpa diskusi, kosong. Diskusi tanpa aksi, omong kosong.”
Modernis.co, Bandung – Tidak banyak orang yang menyukai bidang kepenulisan, tidak banyak orang yang menyukai bidang dialogis, dan tidak banyak orang yang menyukai bidang pergerakan. Padahal, jika kita gabungkan menjadi kata literasi, cukup banyak orang yang unggul dalam bidang literasi.
Pertemuan terakhir dalam agenda pelatihan kepenulisan, bersama Rakanda Kelik di rumahnya tadi malam. Sambil kita mengevaluasi pelatihan selama beberapa pertemuan ini. Kita ngaliwet bersama beliau dan rekan-rekan seperjuangan pelatihan kepenulisan PK IMM FISWAH UIN Bandung. Sungguh sebuah refleksi diri dari berbagai macam keruwetan yang dihadapkan kepada kita, yang sebentar lagi kita menghadapi UAS.
Setiap orang memiliki keterampilan dan keinginan yang berbeda, walaupun sebenarnya kita sama-sama unggul dalam bidang literasi. Mas Kelik -panggilan akrab kita- seakan-akan membaca karakter dari diri kita yang hadir dalam silaturahmi tersebut. Beliau merepresentasikan beberapa tokoh Muhammadiyah sekaligus kader IMM UIN yang berhasil di berbagai bidang literasi.
Ada yang unggul dalam bidang kepenulisan seperti, Pak Hendar Riyadi, Syukron Abdillah -atau Mang Ukon panggilan akrabnya-, Pak Roni Tabroni, dan Mas Kelik itu sendiri, dkk. Kemudian ada juga yang unggul dalam pergerakan seperti, Pak Iu Rusliana, Kang Dian Ciptadi, Kang Agung, Kang Ajis Dzikri, dkk. Ada juga yang unggul dalam bidang diskusi seperti, Pak Taopik, Prof. Dadang Kahmad, dkk.
Dari tokoh-tokoh ketiga bidang literasi itu, beliau menekankan kepada kita untuk terus menjaga tali silaturahmi dengan mereka. Selain kita bersilaturahmi, kita juga pasti akan mendapatkan ilmu tak terduga dari para tokoh tersebut.
Sangat sombong sekali jika kita tidak pernah datang untuk sekedar silaturahmi atau berbagi ilmu dengan tokoh-tokoh tersebut. Dan sungguh sebuah kerugian besar jika tokoh-tokoh tersebut tidak kita kenali dan tidak kita jaga tali silaturahmi-Nnya.
Padahal, ketika kita mendatanginya atau hanya sekedar mengundang mereka dalam agenda-agenda yang kita buat. Mereka sangat antusias dan sangat menunggu momen seperti itu. Karena, di setiap alumni atau tokoh IMM, pasti ada memori yang perlu kita ketuk dan mengingatkan bahwa dia adalah kader IMM, dan dia pernah berjuang di IMM.
Banyak cara untuk menjaga tali silaturahmi dengan para tokoh tersebut, baik itu kita mengadakan dialog dengan para tokoh dengan cara mengundangnya untuk menjadi pembicara, atau bisa saja kita yang datangi ke rumahnya secara langsung.
Dengan demikian, tali silaturahmi kita terjaga, dan ilmu-ilmu yang mereka miliki akan menjadi sebuah amal jariyah yang diwariskan ke dalam kehidupan kita. Orang yang berilmu namun tidak diamalkan, bagaikan pohon yang tak berbuah.
Bagaimana mereka mau mengamalkan ilmunya jika kita tidak pernah meminta ilmu darinya. Jangan selalu menyalahkan pendahulu kita yang tak pernah membimbing kita. Introspeksi diri lah, mengaca diri lah, apakah kita pernah meminta kepada mereka? Kita mahasiswa, bukan lagi pelajar yang harus disuapi atas kebutuhannya.
Kita berhak menentukan pilihan atas kemampuan yang kita miliki. Namun, kita tidak berhak untuk mencela perbedaan jalan pikiran kita. Toh pada akhirnya kita sama-sama aktivis literasi. Baik itu bidang kepenulisan, dialog, maupun pergerakan, dalami lah sesuatu yang kita rasa cocok dengan kemampuan kita.
Jadikanlah tokoh-tokoh tersebut sebagai motivasi diri dalam melangkah. Melangkahlah diawali dengan bacaan bismillahirrahmanirrahim supaya kita tidak pernah merasa sombong dalam langkah yang kita jalani. Dan melangkahlah tanpa basa basi, tanpa keraguan, tanpa ketakutan, tanpa kemunafikan.
“Bawalah nama Allah di setiap apa yang kita kerjakan” KH. Iyon Suryana
*Oleh: Rajawali Bermata Tajam (PK IMM FISWAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung)



Kirim Tulisan Lewat Sini