Modernis.co, Lamongan – Lamongan sering digambarkan sebagai daerah yang kaya potensi. Tanahnya subur, lautnya luas, masyarakatnya religius, dan posisinya strategis di jalur pantura Jawa Timur. Namun di balik semua itu, masih tersimpan sejumlah problem mendasar yang terus membayangi kehidupan masyarakat.
Persoalan ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga menyangkut pendidikan, kesehatan, tata kelola pemerintahan, hingga budaya dan lingkungan hidup.
Ketergantungan Ekonomi yang Rentan
Sebagian besar masyarakat Lamongan masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perikanan. Pertanian padi, jagung, dan tebu menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan. Di wilayah pesisir, ribuan nelayan bergantung pada hasil laut dan tambak. Sayangnya, kesejahteraan mereka sering terkendala oleh fluktuasi harga dan ketergantungan pada tengkulak.
Ketika musim panen tiba, harga gabah jatuh. Nelayan pun sering menjual hasil tangkapannya dengan harga rendah karena tidak punya akses pasar yang lebih luas. Kondisi ini membuat kesejahteraan petani dan nelayan stagnan, sementara rantai distribusi keuntungan justru dikuasai pihak perantara.
Lamongan membutuhkan diversifikasi ekonomi. Potensi UMKM, industri kreatif, dan wisata bahari bisa menjadi jalan keluar. Produk lokal seperti soto Lamongan, bandeng presto, dan olahan hasil laut bisa dikembangkan menjadi komoditas unggulan yang mampu menembus pasar nasional bahkan global.
Kemiskinan Struktural
Problem klasik lain adalah kemiskinan struktural. Meski posisinya dekat dengan kawasan industri Gresik dan Surabaya, pertumbuhan ekonomi Lamongan belum mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan. Lapangan kerja non-pertanian masih terbatas, sementara banyak anak muda memilih merantau ke kota besar atau luar negeri.
Solusinya tidak bisa hanya berupa bantuan sosial sesaat. Diperlukan penguatan ekonomi desa melalui BUMDes, akses kredit murah untuk petani dan nelayan, serta pembangunan kawasan pesisir sebagai sentra maritim terpadu. Dengan begitu, masyarakat desa memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam perekonomian.
Pendidikan dan SDM
Lamongan memiliki banyak sekolah dan pesantren. Namun, kualitas pendidikan belum merata. Di desa-desa, masih banyak sekolah dengan fasilitas terbatas, guru yang terbebani administrasi, serta keterbatasan akses digital.
Untuk menjawab tantangan ini, perlu ada revitalisasi SMK agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja lokal, terutama bidang kelautan, agroindustri, dan pariwisata. Program beasiswa talenta Lamongan juga bisa menjadi solusi agar anak muda yang kuliah di kota besar kembali dan membangun daerahnya.
Pendidikan digital di pelosok perlu dipercepat. Anak-anak Lamongan harus disiapkan tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga inovator yang mampu menciptakan peluang baru di era ekonomi digital.
Kesehatan dan Gizi
Di balik prestasi pembangunan, Lamongan masih menghadapi problem stunting dan gizi buruk. Beberapa wilayah pesisir dan pedesaan menjadi kantong kerentanan gizi. Masalah ini harus menjadi prioritas karena menyangkut kualitas generasi masa depan.
Program Gerakan Anti Stunting harus benar-benar terintegrasi, melibatkan Posyandu, PKK, hingga pemerintah desa. Pola makan sehat berbasis pangan lokal, terutama ikan dan sayuran, perlu digalakkan. Selain itu, layanan kesehatan di pesisir harus diperkuat dengan tenaga medis tetap agar masyarakat tidak kesulitan mengakses fasilitas dasar.
Tata Kelola Pemerintahan
Problem lain yang tak kalah penting adalah budaya patronase politik. Dalam birokrasi, kadang jabatan lebih ditentukan oleh kedekatan politik ketimbang kompetensi. Transparansi anggaran desa juga masih lemah. Jika tata kelola pemerintahan tidak dibenahi, maka program pembangunan tidak akan menyentuh masyarakat secara optimal.
Lamongan membutuhkan reformasi birokrasi berbasis merit system dan penguatan partisipasi publik dalam setiap proses perencanaan. Digitalisasi anggaran desa dapat menjadi instrumen transparansi, sehingga masyarakat bisa ikut mengawasi penggunaan dana secara langsung.
Lingkungan dan Budaya
Kerusakan lingkungan juga menjadi ancaman serius. Di wilayah pantai utara, abrasi terus menggerus daratan. Di beberapa sungai, pencemaran akibat limbah rumah tangga maupun industri kecil masih terjadi. Sementara itu, alih fungsi lahan pertanian untuk perumahan semakin masif.
Pemerintah daerah perlu memperkuat mitigasi bencana dengan penanaman mangrove, bank sampah berbasis desa, serta regulasi tegas terkait penggunaan lahan.
Dari sisi budaya, Lamongan sebenarnya memiliki kekayaan yang luar biasa. Identitas keagamaan yang kuat dari pesantren dan tradisi lokal bisa menjadi fondasi moderasi beragama. Namun, di era globalisasi, generasi muda rentan tercerabut dari akar budaya. Revitalisasi festival budaya dan literasi sejarah lokal sangat penting agar identitas Lamongan tidak hilang.
Jalan Keluar Strategis
Jika ditarik benang merah, problem mendasar masyarakat Lamongan mencakup ekonomi yang rapuh, kemiskinan struktural, kualitas SDM yang belum merata, problem kesehatan, lemahnya tata kelola pemerintahan, kerusakan lingkungan, dan tantangan budaya.
Jalan keluar strategisnya adalah pendekatan terpadu. Ekonomi desa harus diperkuat, pendidikan didorong untuk melahirkan SDM unggul, layanan kesehatan diperluas, birokrasi dibersihkan dari patronase, lingkungan dijaga, dan budaya lokal dilestarikan.
Dengan langkah tersebut, Lamongan tidak hanya bisa keluar dari lingkaran problem struktural, tetapi juga mampu berdiri sejajar dengan daerah lain sebagai pusat pertumbuhan baru di Jawa Timur.
Lamongan punya modal besar: tanah subur, laut kaya, masyarakat religius, dan tradisi pendidikan pesantren yang kuat. Namun modal itu tidak akan berarti jika tidak ada keberanian untuk melakukan transformasi. Saatnya Lamongan keluar dari zona nyaman dan menatap masa depan dengan strategi yang jelas, berpihak pada rakyat, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang.
Oleh: Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I Pemerhati Sosial-Budaya Asal Moropelang Lamongan



Kirim Tulisan Lewat Sini