Modernis.co, Malang – Ini bukan soal berapa jumlah aset didapat dan dikumpulkan. Tapi soal nyali. Beranikah Gus Mus, Gus Baha, Gus Kautsar dan ulama-ulama pemilik pesantren berkelas lainnya mewakafkan pesantren yang dibangun dengan usaha sendiri buat NU?
Di Kampus 2 UMM tahun 1992 Gus Dur berkelakar: Pengurus Muhammadiyah itu kuru-kuru (kurus-kurus), organisasinya lemu (gemuk). Pengurus NU itu lemu-lemu (gemuk-gemuk), organisasinya kuru (kurus).
NU memakai sistem franchise. NU jualan merk, sebagian besar amal usahanya dikelola keluarga-keluarga dengan merk NU. Di Muhammadiyah semua amal usaha milik Organisasi, pengurus hanya pegang stempel.
Tidak bermaksud mencari mana lebih baik. Ini hanya soal cara mengelola aset. Kedua cara punya kelebihan dan kekurangan.
Apa ada ulama atau kiai membangun pondok pesantren dari pikiran, waktu, tenaga dan harta sendiri setelah besar dan maju diwakafkan buat NU?
Apa ada ulama sunah bekerja keras membangun pesantren ma’had dari harta sendiri setelah maju dan besar diwakafkan kepada organisasi atau yayasan sunnah?
Ini bukan sekedar kata-kata tapi butuh nyali. Dipinggirkan ditepikan dan dilupakan setelah banyak berkurban.
Semua aset Muhammadiyah milik Persyarikatan. Pimpinan hanya bawa stempel, dan kertas kop. Jika ada gegeran (konflik) antar pimpinan yang diperebutkan adalah stempel dan kertas kop bukan aset.
Ada puluhan universitas dan rumah sakit berkelas berdiri jauh setelah Soeharto lengser, orde baru bubar. Muhammadiyah tidak bergantung rezim.
Di Muhammadiyah tidak ada haul untuk mengenang jasa, tidak ada nama disebut karena telah membangun universitas, rumah sakit bernilai puluhan triliun. Semua amal baik dikubur bersama jasadnya. Dihormati kemudian dilupakan.
Oleh: KH. Nurbani Yusuf (Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar Malang/Kiai Muhammadiyah Malang)



Kirim Tulisan Lewat Sini