Ketidakseimbangan Gerakan Aktivis Mahasiswa

hakekat mahasiswa

Modernis.co, Malang – Seorang mahasiswa sebagaimana kita tahu memiliki peran sebagai Agent of change, Iron stock, Moral force, Social control. Namun, terkadang kita terlalu terlena dengan peran dan fungsi mahasiswa hingga kita melupakan kewajiban kita sebagai mahasiswa yaitu kuliah. Sebagai seorang mahasiswa, seharusnya kita tidak hanya menuntut hak-hak yang seharusnya kita dapat tapi juga kita menjalankan kewajiban kita sebagai seorang mahasiswa.

Mengapa menuntut hak-hak jika tidak melaksanakan kewajiban dengan benar? Lalu, hak seperti apa yang dimaksud?

Akhir-akhir ini telah marak berbagai aksi yang dilakukan oleh mahasiswa seluruh indonesia. Para mahasiswa ini melakukan aksi ketika perkuliahan tetap berlangsung, beberapa kampus memang mengeluarkan kebijakan untuk libur ketika mahasiswanya sedang aksi, namun bagaimana nasib mahasiswa yang kampusnya tidak meliburkan perkuliahan? Tentu saja beberapa mahasiswa memilih untuk bolos kuliah dan turun aksi.

Hal tersebut tidaklah haram, yang saya resahkan ketika mahasiswa yang memilih untuk turun aksi dan meninggalkan kelas perkuliahan memperkosa hak-hak mahasiswa lain yang ingin tetap menjalankan kewajibannya untuk kuliah. Mereka memperkosa hak temannya untuk kuliah dengan berbagai macam kata, bahkan tidak sedikit yang mengancam dengan konsekuensi sosial sehingga mahasiswa yang tidak ikut aksi kebanyakan takut untuk memasuki kelas perkuliahan akibat ancaman tersebut.

Bahkan, mahasiswa yang tetap memasuki kelas perkuliahan dikatakan “cari muka” ke dosen oleh mahasiswa-mahasiswa yang turun aksi, menurut saya ini sangatlah lucu kawan.

Wahai mahasiswa, ketika kalian turun aksi dan meninggalkan kelas tentu kalian sudah tau konsekuensi yang akan didapatkan, bodoh rasanya sebagai mahasiswa apabila mengambil keputusan tanpa tau apa konsekuensinya. Jadi, sangat hina ketika kalian mengkoarkan dengan masif supaya teman kalian yang tidak turun aksi ikut tidak memasuki kelas perkuliahan dengan harapan kalian semua yang ikut aksi terbebaskan dari konsekuensi yang sudah kalian ketahui.

Apakah bukan pengecut itu namanya? Apa bedanya kalian dengan orang-orang yang kalian demo?

Kalian menuntut kewajiban pemerintah namun kalian meninggalkan kewajiban kalian sendiri sebagai seorang mahasiswa. Aksi boleh saja tapi jangan lupakan kewajiban, ketika lebih memilih aksi daripada kewajiban berkuliah maka jangan menyeret paksa teman-teman kalian untuk  tidak menghadiri kelas perkuliahan.

Apa salahnya mereka memilih untuk menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa? Apa bedanya kalian dengan orang-orang yang kalian tuntut karena melanggar hak-hak? Kalian sendiri yang melanggar hak-hak teman seperjuangan, ibu pertiwi diperkosa putranya sendiri dan kalian juga yang ikut memperkosanya. Diam bukan berarti bungkam, turun bukan berarti benar, semua punya pilihan dan ideologi masing-masing, tak bijak jika saling menghakimi karena bukan soal apatis atau peduli tapi sama-sama menginginkan yang terbaik untuk negeri.

Saya menulis ini bukan berarti saya golongan kanan ataupun golongan kiri. Saya tidak “mengharamkan” aksi ketika perkuliahan berlangsung, saya hanya menyuarakan apa yang harus disuarakan, meluruskan apa yang perlu diluruskan, dan membela beberapa mahasiswa yang mengeluhkan hal ini kepada saya. Ingat kawan “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Tunduk tertindas atau bangkit melawan karena diam adalah bentuk pekhianatan.

Lalu, perlawanan apa yang kau maksud? Pengkhianatan seperti apa yang kau tak suka? Bangkit seperti apa yang kau inginkan? Tunduk seperti apa yang kau enggan?.

Saya pribadi merasa ganjal dengan aksi saat ini, semua permasalahan seolah sudah disusun secara sistematis sejak presiden baru terpilih. Dari permasalahan papua, kebakaran hutan, hingga kini permasalahan RUU. Saya memiliki beberapa pandangan. Pertama, saya rasa RUU ini hanya sekedar pengalihan isu saja agar permasalahan kebakaran hutan tenggelam. Pemerintah sudah tidak bisa mengatasi permasalahan kebakaran hutan sehingga mengalihkan isu ke persoalan RUU, dikarenakan permasalahan RUU ini dapat diotak-atik dengan mudah oleh pemerintah.

Cerdas sekali menggunakan suatu hal yang sangat mudah diatur namun sangat menarik perhatian sehingga hal-hal lain tenggelam dalam media. Mengapa saya memiliki pandangan seperti itu? Karena sangat tidak logis ketika para DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) yang terdiri dari banyak orang sehingga banyak pemikiran mengeluarkan RUU yang isinya sangat lucu, saya yakin sebenarnya mereka tau bahwa pasal-pasal tersebut akan dipermasalahkan oleh jutaan ribu masyarakat Indonesia namun mereka tetap mengeluarkan pasal-pasal tersebut.

Apalagi kalau bukan suatu pengalihan?. Pandangan yang kedua saya, semua permasalahan selama ini memang sudah diagendakan oleh pihak oposisi untuk membatalkan pelantikan presiden baru, mengapa demikian? Karena ini semua sangat sistematis, terstruktur, dan masif. Pihak oposisi ingin membangun opini ke masyarakat bahwa pemimpin saat ini sangat kacau. Ketika jokowi berhasil dilengserkan maka tentu saja akan ada nama baru yang menggantikan dan kita semua sudah tau siapa nama tersebut.

Negara ini memang berisikan orang kapitalis, masyarakat selalu menangis, pemerintah tidak menggubris, malah asik main-main ladies, ketika masyarakat bicara selalu berujung anarkis, seolah aparat antagonis, para DPR masih bisa meringis. Sungguh miris sekali, Negara ini sengaja dibuat kacau oleh orang yang ambisius dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Pendangan saya yang ketiga lebih mensorot RUU KPK. Seperti yang saya bilang tadi, terdapat beberapa pasal yang sangat lucu dan tidak logis seorang DPR memunculkan pasal-pasal seperti itu.

Jadi, pasal-pasal tersebut sengaja dimunculkan sebagai “backup” RUU KPK, mereka sengaja memunculkan pasal-pasal lucu tersebut bersamaan dengan RUU KPK supaya apabila ada aksi menolak RUU KPK maka akan jadi satu dengan penolakan pasal-pasal lucu, lalu yang akan dibatalkan hanya pasal-pasal lucu itu saja dan tetap akan mengesahkan RUU KPK, pasal-pasal tersebut hanya pengecoh supaya terlihat pemerintah mengkabulkan tuntutan massa aksi meskipun tidak semua.

Kesimpulan dari pandangan saya, aksi saat ini sudah menjadi settingan orang-orang pemegang kuasa dan orang-orang yang ingin memegang kuasa. Ketika beberapa orang tidak ikut aksi mungkin mereka memiliki pandangan yang sama dengan saya, diam bukan bentuk pengkhianatan tetapi diam adalah suatu kebingungan orang-orang yang sadar akan kepudaran kebenaran saat ini. Yang saya sesalkan lagi, media yang membelokkan berita terkait aksi saat ini, mereka membuat seolah aparat sangat antagonis supaya mahasiswa bentrok dengan aparat dan DPR atau pemerintah bisa duduk manis sambil minum kopi menikmati senja.

Saya mengajak para mahasiswa untuk berpikir matang-matang sebelum bertindak dan jangan bertindak hanya karena ingin dipandang orang lain. Dalam hal ini tidak ada yang salah, hanya kita yang tak saling mengerti.

Oleh : Sabila Jannata Fatiananda (Sekretaris Bidang Hikmah IMM Restorasi)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment