Peran Mahasiswa dalam Konsep Raushan Fikr

kader IMM

Modernis.co, Malang – Mahasiswa merupakan seorang pembelajar yang menempuh jenjang tertinggi dalam sistem pendidikan formal. Dengan status tersebut, tidak heran jika mahasiswa diklaim memiliki basis intelektual yang kuat. Sejarah juga mencatat, bahwa banyak perubahan yang dihasilkan dari buah pikiran anak muda khususnya mahasiswa.

Dalam kehidupan sosial masyarakat, mahasiswa merupakan variabel yang sangat penting. Karena pada dasarnya mahasiswa dan masyarakat merupakan kesatuan organik yang tidak dapat dipisahkan. Mahasiswa memiliki peran dan fungsi yang strategis di tengah masyarakat, dan peran tersebut harus didasari dengan arah keberpihakan dan nalar yang kritis.

Selain sebagai seorang pembelajar, mahasiswa tidak cukup jika hanya mengabdikan dirinya di ruang kelas yang relatif terbatas. Seorang mahasiswa memiliki peran dan fungsi di tengah masyarakaat yang meliputi mahasiswa sebagai agent of change, agent of sosial control dan iron stock. Peran dan fungsi tersebut tidak hanya sekedar untuk dipahami, namun harus diimplementasikan secara riil dan bertanggung jawab.

Seiring berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi, agaknya peran dan fungsi mahasiswa mulai tereduksi. Mahasiswa cenderung bersikap individualis dan apatis terhadap persoalan yang ada di tengah masyarakaat, sehingga masyarakat merasa teralienasi dengan kehidupan mahasiswa.

Selain itu, telah terjadi disorientasi tentang peran dan fungsi mahasiswa. Tujuan seseorang menempuh pendidikan tinggi tidak lain hanyalah untuk meninggikan status sosial serta untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Lagi-lagi kepentingan pribadi yang selalu dikedepankan.

Berdasarkan kasus tersebut, penulis ingin menawarkan konsep gerakan untuk mempertegas kembali terkait peran dan fungsi mahasiswa yang agaknya kini mulai meredup. Salah satu konsep gerakan yang dapat memantik kembali semangat kita adalah konsep Raushan Fikr tentang tugas seorang intelektual.

Konsep Raushan Fikr, Sebuah Pengetahuan dan Tinjauan Historis

Konsep Raushan Fikr yang kita warisi sampai saat ini tentu tidak lepas dari salah satu tokoh besar revolusi Iran. Adalah Ali Syari’ati, beliau merupakan seorang ideolog, intelek sekaligus pemikir revolusi Iran. Sejak kecil, Ali Syari’ati sudah dekat dengan dunia intektual. Sebab, ayahnya adalah seorang ulama sekaligus guru yang kerapkali mendidiknya sedari kecil.

Perjalanan intelektual Ali Syari’ati terbilang sangat luar biasa, beliau merupakan seorang penulis yang produktif sekaligus pemikir yang revolusioner. Salah satu buah pikirannya yang kemudian akan menjadi pembahasan dalam tulisan ini adalah tentang konsep Raushan Fikr. Term Raushan Fikr sudah dikenal di Iran sejak abad ke-19.

Raushan Fikr berasal dari kata Persia, yang secara harfiah dapat diartikan “pemikir yang tercerahkan”. Dalam terjemahan bahasa Inggris, Raushan Fikr sering disebut sebagai intellectual atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai intelektual. Makna intelektual sendiri memang sangat beragam. Pun, Ali Syari’ati sebagai pemikir, beliau menerjemahkan intelektual dalam konsep Raushan Fikr dengan makna yang cukup revolusioner.

Bagi Ali Syari’ati, seorang dapat disebut sebagai intelektual adalah orang yang sadar akan keadaan manusia (human condition), serta setting sejarah masyarakat yang kemudian memunculkan rasa tanggungjawab. Mereka adalah individu-individu yang sadar dan bertanggung jawab, tujuan dan tanggung jawab utamanya adalah membangkitkan karunia Tuhan yang mulia, yaitu “kesadaran diri” dari kaum tertindas. Karena hanya kesadaran diri lah yang mampu mengubah rakyat yang statis menjadi kekuatan lebih dinamis.

Untuk mengetahuinya agar lebih jelas, Ali Syari’ati memberikan titik pembeda antara makna Raushan Fikr dan ilmuwan. Seorang Ilmuwan menemukan kenyataan. Sedangkan Raushan Fikr menemukan kebenaran. Seorang ilmuwan menampilkan fakta sebagaimana adanya, sedangkan Raushan Fikr menampilkan fakta sebagaimana seharusnya. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa intelektual yang dimaksud dalam konsep Raushan Fikr adalah seorang yang mendayagunakan pikirannya untuk kemaslahatan dan kepentingan bersama.

Spirit Raushan Fikr sebagai Giroh  Perjuangan Mahasiswa

Sebagai seorang yang diklaim memiliki basis intelektual yang kuat, seorang mahasiswa harus memaknai kembali makna intelektual tersebut. Dan kemudian makna tersebut harus dimanifestasikan dalam kehidupan masyarakat. Sebagai mahasiswa jangan sampai terjebak dalam prostitusi akal, dalam artian mereka belajar dan kuliah hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Jika kita menilik kebijakan pemerintah dari awal orde baru sampai orde reformasi saat ini, tidak menempatkan penyelesaian masalah sosial secara intensif sebagai fokus perhatian. Malahan penyelesaian ekonomi yang kemudian lebih didengungkan sampai menegasikan persoalan sosial dan budaya di tengah masyarakaat. Melihat keadaan itu, mahasiswa harus hadir sebagai transportasi sekaligus kompas untuk mengarahkan menuju peradaban yang lebih mencerahkan.

Sesuai dengan spirit Raushan Fikr yang digagas oleh Ali Syari’ati yang mengatakan bahwa para intelektual muslim hanya akan memiliki makna dan fungsi bila mereka selalu berada di tengah-tengah massa rakyat, menerangi masaa, membimbing massa dan bersama-sama melakukan pembaharuan ke arah yang lebih baik.

Dalam buku Tugas cendekiawan Muslim (1998), Ali Syati’ati menekankan pentingnya memahami kultur masyarakaat, kebutuhan dan sebab-sebab yang menjadi persoalan. Setelah semua itu jelas, tanggung jawab seorang yang tercerahkan atau Raushan Fikr adalah menemukan penyebab yang sebenarnya serta menentukan pemecahan masalah yang dapat melepas belenggu masyarakaat dari penjara sosial dan status quo, sehingga masyarakaat menjadi lebih produktif dan tercerahkan.

Pada intinya, jika spirit tersebut dimanifestasikan secara masif, niscaya dapat memperkuat peran dan fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual yang tercerahkan. Mahasiswa tidak lagi terkotak-kotak dalam pemahaman yang sempit mengenai dunianya, dan masyarakaat pun tidak akan merasa teralienasi dengan kehidupan mahasiswa. Bung Hatta juga pernah bilang “Mahasiswa itu akal dan hati dari masyarakaat”.

Wahyu Hendra
Wahyu Hendra

kader IMM Raushan Fikr

Bagikan di

2 Thoughts to “Peran Mahasiswa dalam Konsep Raushan Fikr”

  1. akbar

    kagum, menggugah dan menceraahkan semesta.
    di tunggu tulisan2 terbarunya. hehe

  2. […] Peran Mahasiswa dalam Konsep Raushan Fikr […]

Leave a Comment