Sarkasme : Perselingkuhan Agama dan Politik

IMM Malang

Danyang Tanah Jawa tak pernah mengijinkan orang seberang berkuasa

Modernis.co, Malang – Sejarah kita ditulis oleh siapa? Pertanyaan sederhana untuk menjelaskan kepada generasi mendatang bahwa kita pernah ada. Mungkin kita perlu belajar pada para founding father–Ahlu Sunah–ketika mereka menulis tentang sejarah ditunjuknya Abu Bakar sebagai khalifah pengganti nabi saw atau sejarah kontroversial perang antara Ali dan Mu’awiyah.

Mu’awiyah bukan saja memenangi pertarungan dan merebut kursi khalifah tapi juga berhasil menulis sejarahnya sendiri dengan amat baik. Awalnya Mu’awiyah hanya mengakui tiga khalifah tanpa Ali. Sebuah pikiran politis yang sangat strategis untuk menghapus Ali. Sebelum kemudian di rehabilitasi khalifah Marwan bin Hakam. Juga pilihan politis untuk menulis sejarahnya sendiri.

Ini cara ampuh untuk menentukan sejarahnya sendiri. Bahkan kemudian berkembang menjadi semacam keyakinan teologis yang rigid. Kebakuan sejarah suni adalah keniscayaan penulisan peristiwa sejarah yang sukses berkembang menjadi sebuah dogma teologis yang di imani. Inilah yang saya bilang bahwa sejarah harus ditulis sendiri.

Gagasan khilafah bukan saja berpotensi menghilangkan peran kesejarahan politik umat Islam sebagai pendiri NKRI tapi juga bakal menjadi picu lahirnya konflik yang meluas. Gagasan khilafah sudah sejak dini menjadi polemik di internal ulama dan mazhab dan sudah pasti bakal dilawan oleh mereka yang bukan Islam. Konflik HTI lebih besar mudharat ketimbang maslahat.

Karl Amstrong memberi catatan khusus betapa kebanyakan konstruksi iman juga berdasar atas sejarah yang dibangun bersandar pada keinginan para ulamanya. Sebut saja sejarah trinitas lewat voting pada concile nichea. Agama pagan juga melakukan yang demikian mereka menulis sejarahnya sendiri untuk diimani bersama sebagai sebuah kebenaran.

Belum jelas benar kaitan antara iman dan politik–bila keduanya berkelindan dalam satu maksud. Sebut saja gerakan purifikasi tauhid yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab–apakah murni gerakan agama atau berbarengan dengan politik kekuasaan. Atau keduanya merupakan satu kesatuan utuh.

Realitasnya, gerakan yang mengatas namakan agama tak ada yang murni berjalan sendiri–sebab politik menjadi suplemen penting yang terus mengiringi. Calvinis dan Lutherian juga sama. Pun dengan fremansory. Jadi bisa saja disimpulkan bahwa sejatinya gerakan agama adalah aktifitas politik. Bergantung siapa yang menulis.

Politik dan agama memang tak lazim, tapi siapa bisa memilah–keduanya seperti mata uang. Bukankah intrik dan siasat sudah dilakukan sejak di surga ketika malaikat bertanya mengapa Tuhan hendak menciptakan makhluk yang bakal menumpahkan darah–sementara iblis merasa eksistensinya bakal terusik dengan kehadiran Adam. Ini konflik klasik ketika makhluk Tuhan masih berjumlah sedikit. Jadi benar manusia memang makhluk politik ‘Zoon Politicon’ kata Socrates yang dihukum mati dengan cara minum racun karena berada dipihak yang kalah.

Benarkah peradaban tegak karena darah yang tumpah para politisi handal semisal Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Mu’awiyah adalah buktinya dan masih banyak lagi termasuk sejarah klasik kekaisaran Romawi dan Yunani. Begitu pula dengan Singasari dan Majapahit atau pembantaian sedikitnya 6000 ulama dan santri oleh Amangkurat 1.

Oleh : Nurbani Yusuf (Pegiat Komunitas Padhang Mahsyar Malang/Kiayi Muhammadiyah Malang)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment