Dewasa ini bibir mencibir marak bergentayang Jari-jari berbicara tanpa khawatir kepalan tangan Licik bersembunyi pada tabir tekhnologi Sapu rata tak peduli tua muda Berbekal kita semua setara Mereka itu berlomba-lomba busung dada, aku juaranya Telukis kepala-kepala kosong bersuara bual Lupa sedianya membaca Enggan sekiranya mendengar Dikiranya mereka itu opininya petuah tuan kebenaran Sungguh peradaban ringkas kita ini Pertiwi pincang di lautan demokrasi Mari buka mata pakai telinga Kasian ibu terus berjibaku Anak-anaknya lalai pakai telinga, lupa buka mata Ditimang kemegahan semu kejayaan Diterbangkan pujian pemodal Terlupa wejangan nenek moyang Oleh:…
Baca SelengkapnyaTag: Sastra Puisi
28 Februariku yang Hilang
Bersama dengan orang-orang yang dulu sama sama sayang. Barangkali kita bisa saling duduk dengan tenang. Hanya sekedar berdiskusi dengan rasa yang telah usang. Halusinasiku memang hebat berharap kau datang. Ketika dulu aku memilih untuk membuang dan menghilang. Kini saat sesal, ku datang. Aku mengharap kau pulang. Bodoh memang! Ketika aku percaya kamu sudah bahagia dan tidak akan pulang untuk mengulang. Terimakasih Februariku yang hilang Dan kamu yang tak kucoba untuk kuhilangkan, Maaf untuk aku yang belum bisa mengucapkan. Selamat datang di dunia yang lebih terang dan tanpa aku di masa…
Baca Selengkapnya
Kirim Tulisan Lewat Sini