Hei, ini September 2018 ! Saat matahari menyingsing Barisan pemuda berjas hijau bersanding Degan gagah meneriakkan propaganda Menyalakkan kesilapan senator Anda Tak ada sangka di antara mereka Aparat berprasangka buruk Mengirim cecunguk berbayar Memadamkan api semangat yang berkobar Menggelapkan kebenaran yang ditebar Barisan pemuda berjas hijau digiring Saat langkah kaki beriring Suara kemerdekaan menggema Membelah langit cakrawala Hei, lusa September 2020 ! Saat terik matahari menyingsing Saat jalanan dipenjara pandemi Setelah bulan kemerdekaan Jangan lagi ada ekuivalen Hei, katamu negara ini merdeka! Oleh: Asmaul Afifah Irfindari (Kader FORSIFA UMM dan…
Baca SelengkapnyaTag: Puisi Indonesia
Kita Telah Berpisah, Mey
Kita telah berpisah, Mey. Lupakah kau seluruh daftar mimpi besar yang pernah ingin kita tempuh berdua? Mendaki ke Gunung Huang untuk membuktikan benarkah 60.000 pahatan terpajang pada tumpuk batu di sisinya. Atau berkunjung ke Yangshuo menjelajahi Sungai Li menjelajahi Danau Tian Chi berhari-hari, tanpa henti. Lupakah kau, Mey, lupakah? Sebelum pisah kita pernah ingin punya rumah bertingkat dengan seribu tangga ke atas agar kita leluasa pergi dan pulang ke surga tanpa melalui kematian. Lupakah kau, Mey, lupakah? Sebelum pisah kita pernah ingin ke Kampung Kapitan sambil menyanyikan Tong Hua dengan…
Baca SelengkapnyaBumi Pertiwi
Salam hangat untukmu Mantan penghuni bumi pertiwi Yang meleburkan tindasan menjadi mimpi Yang menggoreskan pena merdeka histori bangsa ini Adalah kau… Sang penanam awal harapan negeri Salam hangat untukmu Penghalang musnahnya negeri Tentu kau tau Dimensi kami tak lagi sama Berada di perang baru Menghadapi lawan yang berbeda Merancang strategi bengis Atau mati di tangan sendiri Salam hangat untukmu Pemberontak virus negeri pertiwi Jasad raga ini menyorakkan kemerdekaan Lisan bersyair cinta tanah air seolah hanya ia satu-satunya! Naas, setiap hembusan nafasnya justru mengkikis bumi pertiwi Kirimlah sedikit akal di era…
Baca SelengkapnyaDi Wajah Mulut Semua
Dewasa ini bibir mencibir marak bergentayang Jari-jari berbicara tanpa khawatir kepalan tangan Licik bersembunyi pada tabir tekhnologi Sapu rata tak peduli tua muda Berbekal kita semua setara Mereka itu berlomba-lomba busung dada, aku juaranya Telukis kepala-kepala kosong bersuara bual Lupa sedianya membaca Enggan sekiranya mendengar Dikiranya mereka itu opininya petuah tuan kebenaran Sungguh peradaban ringkas kita ini Pertiwi pincang di lautan demokrasi Mari buka mata pakai telinga Kasian ibu terus berjibaku Anak-anaknya lalai pakai telinga, lupa buka mata Ditimang kemegahan semu kejayaan Diterbangkan pujian pemodal Terlupa wejangan nenek moyang Oleh:…
Baca SelengkapnyaLangit Harapan
Berulang kali menyuruhmu lurus Tetap bangga dengan kasus tak putus-putus Sampai nyilu kaki menahan tandus Tak jua muak Memasang muka dalam meja retorika Mengetuk palu, mengancang takdir Dan hanyut dalam debat kusir Kami nikmati lumpur dari jalur pengesahan Sekaptis menipis dalam kepungan peradaban Terus dikepung dari hal remeh-temeh Diputar jadi nyeleneh Dari gaduh kekuasaan Kami nikmati rangkaian pekik selokan sempit Kadang disuguhi aroma munafik Topeng-topeng bergelantungan Di langit-langit harapan Sekarang putih besok jadi buram Dari merah kadang jadi hitam Lalu apa perlu kami bayar Langit kian padam Kemerdekaan mungkin mimpi…
Baca SelengkapnyaMurni Suci Seimbang Lurus
Dalam riuh belantara sukma Kutitip dirimu dalam do’a Pada pagi yang belum sempurna Kuasingkan diri dalam nestapa Kepada bahagia tanpa bersama Bayang senyum yang sulit terlupa Rasa peduli yang mulai renta Bermula sebab duka dan derita Terjun kedalam relung sukma Waktu tetap bisu tanpa kata Nuansa hati memuja dirinya Pada rindu akan kemurniannya Oleh : M. Rahmannandi Yusuf (Penyair Banten)
Baca Selengkapnya
Kirim Tulisan Lewat Sini