Gelap tiada lagi bercahaya… Meraba jalan yang sering terlewati Lampu-lampu tak lagi ditemui Tanda-tanda peringatan juga sudah rusak tak berbekas Langkah pun kian terseok… Terbalut cahaya hitam pekat Semuanya ditutupi rapat-rapat Hingga secercah cahaya tiada menampakkan diri Takut dan rasa nekad saling berdebat… Mencari kata yang pantas untuk diperjuangkan Pulang mencari pencahaya ? Atau diam menunggu pagi Semuanya tak bermakna lagi Karena yang nampak adalah kegelapan Indah bak lagi mitos Ditelan kebencian yang mengakar Menjadi hijab-hijab kekal… Melantunkan permusuhan Menyebar kebencian Menyulut kemarahan _Dae Lambitu_
Baca SelengkapnyaKategori: Puisi
Perempuanku
Perempuan Dia menyebut dirinya senja Padahal matanya lebih kilau dari jingga Meski saat setengah tubuhmu ditelan gelombang tenang lautan Perempuan Engkau bukan sekedar pemilik umurku di dunia Di surga pun namamu terpahat di rumah peraduan akhir kita Perempuan Maaf jika cemburu seringkali membabi buta Namun aku hanya pecinta biasa yang tak bisa mencintaimu sekali saja Perempuan Garis senyummu saat tertidur Itulah lekuk pelangi terindah yang pernah aku lihat seumur hidup Perempuan Hidupku hanya sekali Namun ijinkan aku untuk mencintaimu berkali-kali Perempuan Dadamu adalah lelap Tempat lelah menyelinap dan mengendap Perjalanan…
Baca SelengkapnyaBunga sirih
Benih tumbuh di bulan dua.Ditetesi taburan embun-embun, kasihnya merembas ke akar jiwa.Layaknya sebuah lentera,Pancaran nampak nyata, memberi arah baru yang telah lama dalam kelam.Hitamku menyingsing.Bergeser tempat tanpa sadar.Hilang, terbawa terbang oleh sari bunga-bunga.Kakiku kupukul, pipiku kucubit.Inikah mimpi?Khayalan dewa syiwa, sedang mendamba dewi parwati jauh menghilang.Datang ke pertapaan kailas, disambut batara nandi membawa cawan.Dibangunkan, batara naradha menghaturkan pasowananan. Bagaimana tidak, memintaku, memberi jalan lurus. Disambut hangat, dibukakan pintu, diberikan tempat seluas samudra, senyaman hati. Merangkai selembar angan indah. Sertakan selimut lembut dan sifat tidak lupa. Dari negeri awan didatangkan, tumbuh subur.…
Baca SelengkapnyaSedap Malam
Penghias rembulan, Pelukis kebijaksanaan di atas awan, Pemberi restu di empat penjuru semesta. Alam memanggil… berhembus bersama tarian nyiur beralaskan rambut pena Tuhan. Di pagi buta mulai bercerita, Seruling bambu mengiringi lagu indah, pelataran candi pun bergembira. Langkah pengembara, bekal seadanya. Tertatih memikul, Semampunya mendengar sabda, kumpulan kalimat bijak untuk nantinya. Beberapa uraian keringat tidak akan berada, karena sebuah nilai. Melihat harga? Tentu tidak ada nilai tanpa harga. Kisah tak akan indah tanpa nestapa di awal terbit cahaya. Terasa lebih bernilai dengan kebahagiaan di ujung senja. Setalah berada di sampang,…
Baca SelengkapnyaPersekusi
Apapun itu di persekusi.Doa menjadi polemik jagad media. Libatkan malaikat hingga surga dan neraka. Semua menjadi dukun mandra guna. Semua menjadi seakan-akan. Persetan semua dikau kalian Saling unjuk gigi masing-masing demi ego semata tak berujung pangkal dasar manusia kelas permainan. Ketulusan dalam mengabdi tak lagi jadi opini apalagi obsesiSemua gadungan tak ada yang benar-benar nyata melayani. Bajingan tengik semua orang,seolah olah semua menjadi Alim dan Ulama Akhiri ribut tak berujung substansi.Rakyat tidak butuhkan Itu.Irasional kelas gadungan. Kemanakah rakyat harus mengadu kalau sudah begini lagunya? Siapa yang gaji kalian?Siapa konsultan asingmu?Bedebah,…
Baca SelengkapnyaTujuh Cahaya
Dari langit tujuh cahayaDari bumi tujuh aliranDi langit lintasan fajarDi bumi cahaya berbinar lihat puisi lainnya : Senja Tujuh anggota tubuh ku menghadap AllahSeraya berdiri takbiratulihramDua telapak tangan bersaksiDua bola mata menyaksikanDua telinga disaksikanSatu lisan bersaksi ucapKer dalam qalbuRawang dalam jiwaMenuju satu titik pusatTenggelam dalam senyap“aku bukan milik ku”. lihat puisi lainnya : Perangai Surgawi *Karya Ansar Salihin (Mahasiswa Pascasarjana ISI Padangpanjang, Kabid Infokom HMI Padangpanjang).
Baca SelengkapnyaMau Jadi Apa?
Duhai para kaum akademisi Larut dalam dunia organisatoris Dengan menggandeng sebutan aktivis Sebenarnya kau ingin menjadi apa dan seperti apa ? Menjadi kaum terpelajar ? Dengan harapan kedepannya mendapatkan pekerjaan sebagai pendidik yang akan mendidik tentang materialisme dan hedonisme kepada seluruh siswa didikmu. Menjadi aktivis hukum ? Yang akan melancarkan kepentingan-kepentingan kaum bermodal dan membela hak mereka dengan menindas kaum awam lewat kekuatanmu memainkan irama sebuah aturan. Menjadi dokter ? Sehingga bakal mengutamakan kesehatan orang berduit dengan mengatakan bahwa “orang miskin tak boleh sakit”. Menjadi penguasa? Setelah itu mampu mengeksploitasi…
Baca SelengkapnyaTanggep Ing Sasmito
Riuh Puting beliung mewarnai jagad tanah Jawi. Bak senar gitar berganti satu, petik lainnya. Tragedi Danau toba, Pesawat GT610, Palu Donggala, Selat Sunda Banten, Lampung, Kebumen, Hingga peritiwa-peristiwa mengguncangkan jiwa-jiwa lainnya (nafsul mutmainnah) Di sisi lainnya orang ribut perdebatan suksesi saling caci. Saling serang memenuhi kekosongan republik ini. Semua seolah-olah. Perdulikan Demokrasi, Siapa Capresmu, Siapa Cawapresmu Di sisi lainnya prostitusi online menjadi isu bumbuan, hastag 80 juta mewarnai jaga media. Jernihlah wahai Anak Bangsa melihat banyaknya fenomena. Jangan dikau gegabah ikut andil asal serapah . Berfikirlah apa maknanya, adakah pesan…
Baca SelengkapnyaMahasiswa Milenial
Setiap detik aku berpikir, apa itu mahasiswa.Mahasiswa seperti bayi yang baru lahir, yang tak mengenal apa itu kedengkian.Yang tak terlepas dari perubahan zaman.Yang tak mau hidup dalam kesendirian. Aku tak ingin menyalahkan zaman.Aku juga tak ingin menyalahkan pimpinan.Apalagi menyalahkan teman.Hanya saja aku ingin menyalahkan kepribadian.Yang tak pernah menuruti perkataan Tuhan. Langkah kaki terus berjalan.Menghadapi perubahan.Berjuang demi kemenangan.Bukan malah saling menghancurkan. Mahasiswa agen perubahan katanya.tapi nyatanya mereka tidak memiliki kepedulian dan kepekaan. Mahasiswa kekinian.Memamerkan ketampanan dan kecantikan sebagai simbol kemewahan.Tidak peduli rakyat menderita.Asalkan mereka duduk nyaman dalam ruangan. Belajar jujur dibilang…
Baca SelengkapnyaRuangan itu Pameran Bisu
Ruangan itu adalah pameran bisu…Ruangan itu seketika menjadi pameran kebisuanTak ada lagi yang diajarkan melainkan ketaatanDipasung oleh aturan amat penuh paksaanDalam kesendirian Ku berangan ingin mengajak kawan tuk melawanTernyata mereka sudah terlalu nyaman oleh sesuatu yang tak sedikitpun memberikan rasa nyaman Ruangan itu adalah pameran bisu Kuliah bukan untuk menanamkan kesadaran atas fakta Tapi cara untuk memberi tabir bagi realita Yang telah membenamkan petualangan dan keberanian itu hanyut Kampus mengabadikan kepatuhan ketimbang keberanian dan pembangkangan Ruangan itu adalah pameran bisuTempat penampungan para kaum pemanutBagi para aktivis bagaikan itu adalah penjaraSuara…
Baca Selengkapnya
Kirim Tulisan Lewat Sini