28 Februariku yang Hilang

wais alqorni

Bersama dengan orang-orang yang dulu sama sama sayang. Barangkali kita bisa saling duduk dengan tenang. Hanya sekedar berdiskusi dengan rasa yang telah usang. Halusinasiku memang hebat berharap kau datang. Ketika dulu aku memilih untuk membuang dan menghilang. Kini saat sesal, ku datang. Aku mengharap kau pulang. Bodoh memang! Ketika aku percaya kamu sudah bahagia dan tidak akan pulang untuk mengulang. Terimakasih Februariku yang hilang Dan kamu yang tak kucoba untuk kuhilangkan, Maaf untuk aku yang belum bisa mengucapkan. Selamat datang di dunia yang lebih terang dan tanpa aku di masa…

Baca Selengkapnya

Pusara Rindu Rindu

Senja memunguti saputangan di semenanjung, menandai ini perpisahan ketigabelas sejak lampu-lampu kota sudah tak lagi mampu memaknai perpisahan, sebagai sesuatu yang perlu dihiasi pelukan-pelukan. Aku berdiri di tepi selokan, barangkali matahari senja yang hendak pensiun itu akan terbenam di sini. Bersama siluet gedung-gedung berlinggi yang mungkin akan mengangkat roknya tinggi-tinggi kala musim banjir tiba dan aku mulai menggali lapangan bulu tangkis mencari tempat tinggal baru, oase baru, kepedihan baru yang lalu dilompat-lompati, selaik mayat perang —dilangkah-langkahi Dahulu, sebelum keangkuhan rutin berlari-lari pagi di sini, kecipak daun-daun masih mencari insang di…

Baca Selengkapnya

Jiwa Dalam Gundah

Entah apa yang menjadi ungkapan pewakil rasa Semua berubah seiring perkembangan massa Jiwa merasa tak tenang dengan melihat fakta di depan mata Akal tak lagi mampu berpikir melahirkan rangkaian kata             Rasa sesal, marah, kecewa dan penuh harap             Dibuatnya bingung sambil meratap Berkecamuk menjadi satu dan tak menentu             Semuanya tak mau diajak kompromi agar menyatu Waktu tak pernah berhenti berputar menari memainkan peran Menginginkan agar semua ikut serta dalam panggung pameran Terkhusus bagi mereka yang mendambakan kedamaian Bukan sebatas dan hanya impian namun akan tetap tersampaikan             Masa…

Baca Selengkapnya

Rekam Pilu Bersama Kawan

pilu kawan

Bangun dari tidur Agak lama ku diam Serasa ada sesuatu yang aneh Ku raih HP yang jaraknya cukup jauh, ku buka pas pada tulisan itu Tersentuh…. Saat ku buka tulisan mu Ku baca dan pahami Semua bercerita tentang kita, namun kau telah mengarsipkanya dalam sebuah tulisan Semoga Kau masih ingat Dulu kita pernah bercerita Malam itu jalan berdua selepas kuliah Bertukar kisah tentang hidup; dari khayalan, harapan dan cita-cita Candaan selalu menyertai Saling mengutuk dan menghujat Tapi itu adalah biasa bagi kita Kala kau bergerutu “andai aku orang kaya!”, ku…

Baca Selengkapnya

Negeri dalam Bahaya

negeri dalam bahaya

Negeri ini dalam bahaya. Korupsi di mana-mana. Yang rugi tidak hanya negara tapi rakyat banyak juga menjadi korbannya. Untuk itu negara tidak boleh lagi bersantai-santai menghadapinya. Sikap keras dan tegas harus ditegakkan karena kalau tidak tikus-tikus lapar ini akan terus bergentayangan dan menggerus keuangan negara baik secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama. Kita selama ini membangun dan berhutang karena kita tahu uang kita kurang dan atau tidak ada. Tetapi ternyata mereka-mereka yang bermental bejat tersebut malah mencuri dan merampoknya. Ini adalah sebuah pengkhianatan besar yang telah mereka lakukan kepada bangsa dan…

Baca Selengkapnya

Langit Harapan

langit harapan

Berulang kali menyuruhmu lurus Tetap bangga dengan kasus tak putus-putus Sampai nyilu kaki menahan tandus Tak jua muak Memasang muka dalam meja retorika Mengetuk palu, mengancang takdir Dan hanyut dalam debat kusir Kami nikmati lumpur dari jalur pengesahan Sekaptis menipis dalam kepungan peradaban Terus dikepung dari hal remeh-temeh Diputar jadi nyeleneh Dari gaduh kekuasaan Kami nikmati rangkaian pekik selokan sempit Kadang disuguhi aroma munafik Topeng-topeng bergelantungan Di langit-langit harapan Sekarang putih besok jadi buram Dari merah kadang jadi hitam Lalu apa perlu kami bayar Langit kian padam Kemerdekaan mungkin mimpi…

Baca Selengkapnya

Murni Suci Seimbang Lurus

murni suci

Dalam riuh belantara sukma Kutitip dirimu dalam do’a Pada pagi yang belum sempurna Kuasingkan diri dalam nestapa Kepada bahagia tanpa bersama Bayang senyum yang sulit terlupa Rasa peduli yang mulai renta Bermula sebab duka dan derita Terjun kedalam relung sukma Waktu tetap bisu tanpa kata Nuansa hati memuja dirinya Pada rindu akan kemurniannya Oleh : M. Rahmannandi Yusuf (Penyair Banten)

Baca Selengkapnya

Ratu Galaksi Andromedaku

Kelabu malam… Hadirkan suasana mempesona yang berujung pada kekosongan Kekosongan hati atas dosa-dosa masa lalu yang menghantui secara kejam Ciptakan ilusi kepedihan yang amat menyayat hati tiap-tiap pendengar insan Berdiri dan bergeming dalam satu sorotan tajam Mengirim sajakku yang tak pernah bisa terlontarkan Sajak-sajak kalbuku mengalir di tengah seluruh asa kepedihan Tertuju hanya untuk seseorang yang amat sepesial, di seluruh otoritas zaman kehidupan Seseorang yang mengertiku sedari dini, tanpa rasa lelah dan amarah murka sang iblis kejahatan Merawatku tanpa pamrih kesombongan, yang mendasar pada kalbu-kalbu terdalam Mendidikku tanpa rasa lelah…

Baca Selengkapnya

Berlalu

berlalu

Senja… Menyengat bumi di ujung angkasa yang hangat Menggiring burung yang lama singgah di ranting pepohonan, beranjak terbang meninggalkan singgahsana kenyamanan Menciptakan barisan keangkuhan nyata nan megah dalam pandang Membuatku kembali mengingat manisnya hadirmu dalam kenangan Hadirmu… Bagaikan senja yang lama berlalu Bagaikan sajakku yang kerap kali hilang dalam bayang-bayang semu Merakitku dalam satu buah kotak kepedihan, yang ku pendam dalam kesendirian kalbu Menjangkitku untuk terus mendambamu dalam rindu Tanpa ada keberdayaan… Hanya ada kesakitan parah yang mencandu Karena semuanya telah berlalu Bagaikan kayu yang dibakar menjadi abu Wahai! Siapapun…

Baca Selengkapnya

Tentang Kau dan Hujan

wais alqorni

Aku kira, senja tak akan menjadi indah karena aku tak melihatnya Aku kira, pelangipun tak akan berwarna karena aku tahu hanyalah tinta hitam legam dalam pandangan Dan aku mengira, dawai hujan akan selalu ternada Apakah kau tahu, apa itu hujan? Hujan inilah yang mengirimkanmu melewati nada rintiknya Yang begitu menenangkan dan mengalirkan melodi dalam nadi ini entah bagaimana caranya Yang aku tahu bahwa tanpamu, hujanpun enggan menjatuhkan rintiknya Kekasihku, apa benar namamu yang dibawa rintik hujan kala itu? Jika iya, maka kedatanganmulah yang memecahkan segala perkiraan yang merisaukan Yang kini…

Baca Selengkapnya