Serupa Bekasi

serupa bekasi

Serupa Bekasi, kau kurindukan saban malam saban kuputar lagu “ketika angin berhembus” bintang di langit aku mencinta sua yang tak pernah hala nyata salahku, hancur hatiku) Serupa Bekasi, kau kurindukan meski terik membakar hatiku rikala kau awangkan kekasih (usah datang! jika kau pergi lagi usah kembali! aku ingin kau bahagia dia pura-pura) Oleh : Aris Setiyanto (Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas)

Baca Selengkapnya

Kita Telah Berpisah, Mey

kita telah berpisah

Kita telah berpisah, Mey. Lupakah kau seluruh daftar mimpi besar yang pernah ingin kita tempuh berdua? Mendaki ke Gunung Huang untuk membuktikan benarkah 60.000 pahatan terpajang pada tumpuk batu di sisinya. Atau berkunjung ke Yangshuo menjelajahi Sungai Li menjelajahi Danau Tian Chi berhari-hari, tanpa henti. Lupakah kau, Mey, lupakah? Sebelum pisah kita pernah ingin punya rumah bertingkat dengan seribu tangga ke atas agar kita leluasa pergi dan pulang ke surga tanpa melalui kematian. Lupakah kau, Mey, lupakah? Sebelum pisah kita pernah ingin ke Kampung Kapitan sambil menyanyikan Tong Hua dengan…

Baca Selengkapnya

Bumi Pertiwi

bumi pertiwi

Salam hangat untukmu Mantan penghuni bumi pertiwi Yang meleburkan tindasan menjadi mimpi Yang menggoreskan pena merdeka histori bangsa ini Adalah kau… Sang penanam awal harapan negeri Salam hangat untukmu Penghalang musnahnya negeri Tentu kau tau Dimensi kami tak lagi sama Berada di perang baru Menghadapi lawan  yang berbeda Merancang strategi bengis Atau mati di tangan sendiri Salam hangat untukmu Pemberontak virus negeri pertiwi Jasad raga ini menyorakkan kemerdekaan Lisan bersyair cinta tanah air seolah hanya ia satu-satunya! Naas, setiap hembusan nafasnya justru mengkikis bumi pertiwi Kirimlah sedikit akal di era…

Baca Selengkapnya

Di Wajah Mulut Semua

wajah mulut semua

Dewasa ini bibir mencibir marak bergentayang Jari-jari berbicara tanpa khawatir kepalan tangan Licik bersembunyi pada tabir tekhnologi Sapu rata tak peduli tua muda Berbekal kita semua setara Mereka itu berlomba-lomba busung dada, aku juaranya Telukis kepala-kepala kosong bersuara bual Lupa sedianya membaca Enggan sekiranya mendengar Dikiranya mereka itu opininya petuah tuan kebenaran Sungguh peradaban ringkas kita ini Pertiwi pincang di lautan demokrasi Mari buka mata pakai telinga Kasian ibu terus berjibaku Anak-anaknya lalai pakai telinga, lupa buka mata Ditimang kemegahan semu kejayaan Diterbangkan pujian pemodal Terlupa wejangan nenek moyang Oleh:…

Baca Selengkapnya

Corona Siapakah Engkau?

corona

Tak pernah menyangka akan kedatangannya, terbesit saja tidak. Tak pernah mendugaakan ada kejadian dimana hidup didunia seperti disandera.Apakah ini Ujian?apakah ini musibah?ataukah ini adzab?atau ini peringatan?atau ini hanya konspirasi buatan ulah manusia?kuasakah manusia membunuh mencerabut nyawa jutaan umat manusia di dunia? Wuhan?Amerika serikat?Korea?kuasakah mereka atas wabah ini? siapa sesungguhnya dirimu?. Kau tidak terlihat, bahkan kami tak bisa mengetahui, kau sekarang ada di sekitar kami atau bahkan didalam tubuh kami?. siapakah dirimu? mengakulah!. Kau paksa penuntut ilmu meninggalkan bangku sekolahnya.Kau paksa penuntut ilmu tinggal diam dirumah.Kau paksa jutaan umat manusia kehilangan…

Baca Selengkapnya

Berpuisi Karena Cinta

puisi cinta (1)

Aku tak tahu darimana ingin menulis… Darimana mulai bercerita.. Tinta di penaku seakan ingin bercerita Betapa berartinya dia bagiku… Ketika aku mulai mengenalnya,.. Yang mengajariku tentang sebuah keikhlasan didalam sebuah arti perjuangan…. Pahit, manis, telah kurasa saat bersamanya… Banyak cinta disetiap harinya yang kurasa.. Kini aku sangat mencintainya.. Sepenuh hatiku, karena kuanggap semua perjuanganku bersamanya adalah bentuk cintaku pada rabb ku.. Susah kugambarkan bagaimana dia teramat berarti bagiku… Dia seperti suaraku, hatiku, perjuanganku, mataku, terlebih terasa seperti nafasku didalam meraih cinta dari Sang Pencipta… Ya, aku teramat mencintai Muhammadiyahku. Kemarin,…

Baca Selengkapnya

Menuju Neraka

menuju neraka

Di suatu petang,Aku sedang berjalanKulihat dan ku jamahi padang alang-alang,Tak ku sangka di tengah ada keanehan. Adek kecil berlari menjumpaiku, Ia berlari sangat kencang dan terburu-buruKatanya “ka jangan ke situ kau akan temui beton dan paku”Ah mungkin adek kecil tadi baru bangun tidur dan masih halu. Berjalan aku terus majuTernyata ku temui tumpukan paku Beton yang sedang tumbuh subur disanaSungguh gersang dan panas, seperti sedang membangun neraka saja. Tetap dengan rasa penasaran dan kebingunganAku terus coba cari tau semuanya perlahan-lahanApakah mereka suruhan tuhanAtau mungkin manusia yang di tunggangi setan yang…

Baca Selengkapnya

Sajak Kaki

sajak kaki

Inilah kaki mahasiswa miskinBerjalan mengembara dalam peradabanMenapaki tiap-tiap tanjakanMenebasi segala semak di depan Inilah kaki mahasiswa miskin Berlari meneriaki para hartawan asaMenendangi pintu lapis baja merekaSambil mengoper asa ke gawang lawan Ini kaki mahasiswa miskinYang miskin akan asaYang hibernasi di tahun ‘98Bangkit jadi calon sarjana Kaki ini bergerak menyusuri kehidupanSatu tokoh yang bertuhan EsaDemi mengalahkan yang tak bertuhanSedang kaki mereka pernah bergerakMenaburi benih-benih pendidikan Pergerakan ini tidak boleh sendirianSedang ada berjuta sarjana nganggurPenuh beban, ditarik gravitasi kasurPergerakan ini harus ditularkan Oleh : Asmaul Afifah Irfindari (Kader Forsifa UMM dan HMI…

Baca Selengkapnya

Ringkih

ringkih

Goresan ufuk senjaMenemani kalbu penuh nestapaIringan serayu bak nadaTertunduk ringkih dengan asa Atma tak sempurna Mengalir penuh harap Berkelana bebas Mendayu lepas Suara yang tak terdengarImpian yang dipenjarakan Gelora perlahan di bungkam Dunia begitu durja Dipenuhi tikus hutan yang lapar Gambaran penuh kesengsaraan Tak ada sela bagi pecundang Dan akulah diantaranya Oleh: Iqrim Maulidatal ‘Ulya (Kader IMM FAI dan Forsifa UMM)

Baca Selengkapnya

Redup Cinta di Februari

cinta di februari

Tak pernah lupa kenangan lalu Hatimu yang hangat sekarang membeku Masih ada rasa yang merawat rindu Meskipun hening, sepi, sendiri Tak pernah tersadar setiap detik Bendungan meleleh di ujung mata kelentik Redupnya cinta di Februari Hambar sudah rasa coklat dan tulisan indah yang kau beri Redup cintaku ini telah menyelimuti Ketika tanganmu tak lagi dapat ku raih Rasa mu telah mati Tak mungkin ku dapat kembali Sikapmu telah beku Tak dapat lagi menyatuh Tak semudah ku tulis kembaliKisah cinta yang telah redup iniHadirku tak mungkin kau sambut lagiIkhlas untuk melepas…

Baca Selengkapnya