Wasatiyah Al-Islamiyah dan Upaya Mencegah Ekstrimisme Beragama

Modernis.co Malang – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah, IMM Jawa Timur beserta Cangkir Opini mengadakan kegiatan yang bertema “Islam Moderat sebagai Upaya Mencegah Ekstrimisme Berbasis Agama,”.

Islam moderat dalam berbagai terminologi dipahami sebagai islam yang berada ditengah, mengedepankan ilmu dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kegiatan ini mengundang pemateri dari kalangan akademisi dan kalangan ulama, dari kalangan akademisi IMM dan Cangkir Opini mengundang Prof. Biyanto selaku Guru Besar

Dalam penjelasan Prof. Biaynto, mengutip dari apa yang dikatakan oleh Mukti Ali yang mengatakan bahwa Muhammadiyah memiliki wajah yang beragam, artinya Muhammadiyah sangat terbuka oleh siapapun, meskipun dalam hal ini menjadi kelemahan karena sangat mudah dimanfaatkan. Namun pada prinsipnya Muhammadiyah memiliki sikap keagamaan yang moderat, Prof Haidar Nahsir menyebut sebagai moderat berkemajuan.

Moderat memiliki makna jalan tengah, dia berada di tengah dua sifat yang buruk. Begitupun dalam konteks beragama, di mana Muhammaduyah menjadikan agama islam sebagai agama tengahan yang terbuka untuk semua kalangan. Menurut John L Eposito, islam moderat adalah islam yang progresif, terbuka dan memiliki prinsip-prinsip tengahan.

Menurut Prof. Biyanto, agama islam harusnya menjadi agama yang moderat, moderat bisa diwujudkan dengan berbagai macam cara, seperti sikap, pikiran, dan gerakan. Sehingga dalam konteks apapun, moderasi islam bisa diterapkan dalam lini kehidupan apapun.

Rasulullah pun menekankan pada spirit keagamaan yang moderat dan selalu menepatkan diri di tengah. Apalagi di era digital, klaim kebenaran seringkali digunakan oleh kelompok agama dalam membenarkan tindakannya, khususnya dengan paham-paham ekstrim yang banyak tersebar di media social.

Prof. Biyanto juga memberikan masukan kepada IMM bahwa dalam penyebutan radikalisme bisa diganti dengan istilah ekstrimisme. Dalam perspektif filsafat istilah radikal memiliki makna yang positif, tapi termnya berubah ketika banyak aksi kekerasan disandingkan dengan istilah. Teologi tengahan yang hadir di antara dua titik ekstrim.

Untuk itu, perlu tema-tema yang popular di masyarakat dengan istilah islam aswaja, islam yang dipahami oleh Muhammadiyah sebetulnya memiliki makna yang sama dengan aswaja, ia sangat luwes dan luas. Artyinya pemahaman agama harus sangat luas, spectrum interaksinya harus beragama dan pergaulannya harus intens. Amin Abdullah menyebut dengan sebagai kognitf fleksibelity.

Prof Biyanto juga menjelaskan bahwa kelompok ektrimisme sangat kuat menyebarkan paham penolakan terhadap kelompok yang bukan darinya. Ada istilah al wala’ wal bara’ (kesetiaan dan penolakan), yang dimana paham ini sangat setia hanya pada kelompoknya saja. Dalam pandangan lain kelompok ekstrimisme sangat keras, literalis, anti perbedaan dan suka mengkafirkan serta menganggap enteng pembunuhan. Tindakan mereka justru sangat takut hidup dan berani mati.

Ada perspektif bahwa islam eksrimisme sangat dipenuhi dengan amarah, menghadirkan ketakutan hingga aksi terorisme. Umat Islam di Indonesia sejak tahun 1970an sudah mulai terpolarisasi dengan pemikiran islam yang kanan dan kiri, hal ini juga didukung dengan aksi tarik menarik  kepentingan politik yang dibalut dengan agama.

Diakhir, Biyanto menekankan pada teman-teman diskusi untuk menggeser islamophobia ke islamofilia. Gerakan ini harus dijadikans ebagai agenda utama oleh ormas maenstrem seperti Muhammadiyah dan NU. Muhammadiyah pada khsusunya dapat menjadi mediator dari berbagai paham atau mazhab. Selain itu, gerakan ini juga harus dikuatkan dengan gerakan ilmu.

Pendekatan Moderasi Agama Menurut KH. Tafsir

Moderasi beragama adalah hal yang paling sering dibahas dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya sebelum bicara moderasi, kita harus memahami bahwa agama memiliki sisi dilematis, di mana kita harus menjaga teks dan disisi lain harus dipahami sesuai dengan konteks. Semua agama juga memiliki berbagai kelompok, kelompok radikal, liberal, dan kelompok moderat. Muhammadiyah dalam hal ini memilih untuk berada di kelompok moderat, hal ini sesuai dengan hadis Khairul umuri awsaatuha.

Ada banyak sebetulnya yang perlu diamati dalam melihat konteks beragama, khususnya dalil-dalil yang banyak dipahami secara tekstual. Padahal agama harus mampu berafilisasi dengan berbagai macam aspek, seperti budaya. Menurut KH Tafsir, agama yang paling kultural adalah agama yang paling banyak mengikut. Hal ini berlaku bagi semua agama, sehingga ciri-ciri kelompok yang ekstim adalah kelompok yang tidak kultural.

Ada dua model kembali ke quran sunnah, yaitu interpretative dan mekanistik. Muhammadiyah memilih untuk interpretative agar pemahaman islam sesuai dengan konteks zaman yang ada. Moderasi Muhammadiyah dalam hal ini semuanya moderat, baik agama dan budaya. Dalam menyemarakkan paham moderat, kita harus menguatkan gerakan pada symbol-simbol budaya. Kreativitas budaya harus digerakkan oleh umat islam sebagai penyampai pesan. Karena Muhammadiyah sangat lemah dengan gerakan jihad budya. Kita kalah dengan agama-agama lain, menciptkan symbol moderasi harus disandingkan dengan symbol agama.

Kelompok puritan sangat miskin dengan budaya, hal ini terjadi di semua kelompok yang agama yang ekstrim. Sehingga dalam memaknai dalil harus dilakukan dengan cara-cara interpretative yang mendalam agar tidak mudah menghukumi orang-orang yang menggunakan budaya sebagai pendekatan dalam berdakwah.

Konsep ketiga adalah moderasi politik, di mana Muhammadiyah menempatkan diri pada posisi bukan sebagai loyalis bukan juga sebagai oposan. Hal ini dilakukan untuk menguatkan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang moderat dalam semua hal, sehingga bisa berperan dinamis dalam menyikapi setiap perbedaan-perbedaan yang ditimbulkan oleh politik.

Oleh sebab itu, kita sebagai umat islam atau warga muhammadiyah harus mengedepankan prinsip-prinsip moderasi dalam tiga hal, yaitu budaya, politik, dan agama. Paradigm yang dibangun harus adalah paradigm kultural yang kuta agar narasi moderasi dapat dibangun dengan kuat, menciptakan symbol-simbol budaya sebagai sarana dakwah, dan menguasasi ilmu dan teknologi. Mengarusutamakan paham moderat harus diperkuat dalam berbagai lini kehidupan masyarakat. Dengan begitu, paham-paham ekstrimisme menjadi kecil, dan akhirnya tidak polis lagi di masyarakat. Apalagi paham agama sangat dinamis, dalam Bahasa agama disebut sebagai Al Islamu Solihun Ala Kulli Zaman wal Makan.

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment