Uji Coba Vaksin Sinovac dari China

Modernis.co, Malang – Kenaikan secara signifikan orang yang terinfeksi Covid-19 tidak menunjukkan adanya penurunan. Dengan bertambahnya klaster-klaster baru. Per 9 Januari terjadi peningkatan sekitar 10.046 pasien sehingga jumlah total terinfeksi yaitu 818.386.

Menurut Wordometer jumlah ini membawa RI (Republik Indonesa) di peringkat 121 dunia, ke-3 Tertinggi di Asia. Untuk itu pemerintah telah malakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya kenaikan pasien.

Upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan dilarangnya pembelajaran tatap muka. Padahal sekolah offline ditunggu oleh siswa maupun mahasiswa.

Diberlakukanya kembali PSBB Jawa-Bali, selain hal tersebut pemerintah juga mengadakan program vaksinasi dengan  mendatangkan vaksin dari China.

Vaksin tersebut diproduksi langsung dari perusahaan di Beijing, China. Yaitu Sinovac Biotech Ltd. Sehingga dikenal dengan vaksin Sinovac.

Pada 6 Desember 2020, vaksin Sinovac telah sampai di Indonesia tepatnya di Bandara  Soekarno Hatta.

Vaksin yang diimpor dari negara tirai bambu ini sekitar 1,2 jt akan didatangkan kembali pada Januari 2021 sekitar 1,8  jt vaksin.

Pertanyaannya, apakah vaksin Sinovac ini aman digunakan?

Tenang, jangan khawatir karena vaksin Sinovac ini tidak akan langsung diedarkan ke masyarakat. Melainkan akan mengalami uji klinis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Tentunya badan yang berkewenangan  akan melakukan serangkain uji coba, hingga nanti siap di distribusikan kepada masyarakat umum. Sehingga masyarakat tak perlu khawatir lagi tentang keamanan vaksin Sinovac ini.

Prof Soedjatmiko juga menambahkan bahwa menurut publikasi di media internasional, Uji klinik fase 1 vaksin Sinovac yang dilakukan di Tiongkok pada 143 orang dewasa dengan tujuan menilai keamanan.

Hasilnya hanya ada sedikit keluhan dari subjek.Hal ini dikarenakan uji klinik fase 1 terbukti aman. Maka oleh badan-badan yang mengawasi uji klinik vaksin Covid-19 mengizinkan untuk dilakukan uji klinik fase ke-dua.

Prof Soedjatmiko menjelaskan bahwa uji klinik fase ke-dua dilakukan terhadap 600 orang dewasa untuk menilai 2 hal. Pertama menilai keamanan dari vaksin Sinovac dan hasilnya terbukti aman.

Efek yang timbul hanya ada nyeri di bekas suntikan dan itu merupakan hal yang wajar.

Fase ke-dua menilai imunogenisitas dari vaksin tersebut. Hasilnya pasca dua kali di suntik dengan dosis rendah yakni 3 mikrogram berjarak 14 hari. Terlihat mampu meningkatkan kekebalan atau antibodi pada 92 persen subjek.

Kemudian dengan jarak 28 hari dapat meningkatkan antibodi 97 persen subjek. Kadar antibodi NAB sekitar 23.8 – 65.4 padahal dibutuhkan minimal 8.

“Setelah fase ke-dua terbukti aman serta mampu meningkatkan kekebalan pada 92-97 persen orang yang disuntik dua kali.

Maka oleh badan-badan yang mengawasi di izinkan melanjutkan ke fase ke-tiga,” imbuh Prof Soedjatmiko

Selanjutnya, Prof Soedjatmiko menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari tim riset uji klinik vaksin Covid-19 pada uji klinik fase ke-tiga di Bandung. Telah dilakukan terhadap 1.570 hingga 1.620 orang yang telah disuntik dua kali.

JHasilnya sampai sekarang tidak ada keluhan ketika kontrol pada hari ke 3 ke 14 dan ke 28.

Tujuan dari uji klinik fase ke-tiga sama, yakni uji keamanan, hasilnya terbukti aman. Selain itu pada beberapa orang hanya ditemukan keluhan nyeri dan demam.

Tujuan berikutnya adalah uji Kekebalan yang ditimbulkan dengan cara mengukur kadar antibodi didalam darah.

Yakni sebelum dan sesudah dua kali imunisasi. Keseluruhan hasil ini rencananya dilaporkan awal Januari 2021.

“Uji klinik di Bandung seperti halnya di negara lain diawasi oleh banyak badan pengawas yaitu BPOM, Data Safety Monitor Board (DSMB) dan Komite Etik FK Unpad.

Hal ini perlu dilakukan agar memastikan keamanan serta efektivitas dari Vaksin Covid-19 yang saat ini tengah dikembangkan oleh Biofarma – Sinovac,” Jelas Prof Soedjatmiko. (dikutip dari RadarSulbar)

Untuk harga dari vaksin ini sendiri perdosis nya Rp.200.000, harga ini berdasarkan ketetapan Biofarma. Cara kerja dari vaksin ini dengan cara memicu respon kekebalan tubuh dengan cepat.

Jika dibandingkan dengan hidup kita sendiri harganya, Rp. 200.000 ini tentunya tidak berarti apa-apa. Terdapat pepatah yang mengatakan:

“Uang bisa dicari namun kesehatan tidak”

Untuk itu jika nanti memang harganya Rp. 200.000 ayo mulai menabung dari sekarang.

Dapat kita ketahui dari pernyataan tersebut bahwa vaksin Sinovac ini akan di distribusikan kepada masyarakat umum jika sudah lulus uji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Efek samping yang dihasilkan juga sama sekali tidak merugikan relawan.

Efek samping yang dialami relawan ditemukan dalam skala kecil sehingga pada saat didistribusikan vaksin ini aman digunakan.

***Penulis : Ainayya Nabila S ( Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam – Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment