Transformasi dalam Konflik Antar Etnis di Babarsari Yogyakarta

Modernis.co, Yogyakarta – Konflik antar etnis merupakan konflik yang sering berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang mendesak mengenai politik, ekonomi, sosial serta budaya. Konflik antar etnis sering kita jumpai dengan bernuansa kekerasan, tetapi bisa juga tidak menimbulkan kekerasan sekalipun. Konflik antar etnis sering kali disebabkan oleh faktor struktural yang lemah dan faktor geografi etnis, konflik antar etnis merupakan salah satu jenis konflik yang sering kita jumpai di Indonesia salah satunya yaitu daerah Babarsari Yogyakarta.

Konflik antar etnis yang terjadi di lingkup tersebut hingga saat ini belum ditemukan sebuah transformasi konflik untuk dapat meredam konflik yang terjadi setiap tahunnya. Kerusuhan yang terjadi di Babarsari Yogyakarta merupakan konflik antar etnis yang melibatkan kelompok pemuda yang berasal dari mahasiswa Maluku, Papua, dan NTT yang sering kali terjadi di sekitar Babarsari Yogyakarta, dalam hal ini respon yang diberikan oleh pihak aparat penegak hukum yaitu dengan mendamaikannya, akan tetapi konflik tersebut tetap saja akan terulang kembali.

Setidaknya sebanyak 18 kasus konflik antar etnis tersebut sudah terjadi di daerah Babarsari Yogyakarta, jika dilihat daripada banyaknya kasus yang terjadi hampir terjadi setiap tahunya yang terutama melibatkan kelompok etnis yang berasal dari NTT, Papua dan Maluku.

Padahal bisa terbilang kelompok-kelompok tersebut merupakan pendatang yang datang ke wilayah Yogyakarta langkah yang seharusnya dilakukan oleh kelompok tersebut seharusnya dapat mengikuti setiap peraturan adat istiadat yang telah lama berlaku di penduduk lokal.

Konflik tersebut dipicu dengan adanya ketimpangan akses serta pertarungan yang melibatkan kekuasaan antar kelompok, konflik tersebut terjadi karena kelompok satu dengan yang lainya belum mendapatkan akses yang adil yang berkaitan dengan kekuasaan pusat ekonomi di wilayah tersebut, maka daripada tersebut memicu timbulnya sebuah konflik, jika dilihat daripada hal yang memicu konflik tersebut bisa disimpulkan bahwasanya permasalahan antar etnis tersebut lazimnya terkait dengan cara mereka untuk dapat penghidupan.

Konflik di Babarsari Yogyakarta seringkali disebut sebagai Gotham City atau juga bisa disebut sebagai wilayah yang memiliki tingkat kejahatan paling tinggi, maka daripada itu tak heran apabila masyarakat tidak lagi memiliki sikap empati untuk merespon permasalahan konflik tersebut. Oleh karena itu melalui tulisan ini, penulis ingin memberikan dan meninjau bahwa adanya transformasi konflik yang terjadi antara kelompok etnis di Babarsari Yogyakarta.

Dari bentuk kekerasan tersebut dapat menjadi sebuah solusi sebelum konflik yang berkelanjutan terjadi kembali setiap tahunya. maka daripada itu kita dapat menciptakan sebuah visi komunikasi yang intens, hal ini merupakan langkah awal daripada sebuah transformasi konflik antar etnis di Babarsari Yogyakarta komunikasi yang dilakukan yaitu dengan dengan melibatkan beberapa pihak yang bersangkutan dengan kelompok yang berkonflik tersebut yang notabene merupakan warga pendatang untuk dapat terlibat dalam hal yang membangun wilayah Yogyakarta lebih memiliki rasa kebersamaan serta saling menjaga satu dengan lainya.

Dalam hal ini perangkat desa dapat memberikan sebuah wadah dalam berkomunikasi antara institusi dengan warga pendatang seperti konflik antar etnis di Babarsari tersebut, sehingga adanya keselarasan antara perangkat desa dengan warga pendatang. hal ini juga berkaitan dengan permasalahan yang terjadi karena dengan adanya wadah komunikasi tersebut perangkat desa dapat mengetahui setiap akar permasalahan terdahulu bukan hanya menyelesaikan permasalahan yang berada di permukaan.

Karena jika menyelesaikan permasalahan tidak daripada akarnya akan sama saja hasil yang diberikan, karena sedikit adanya pemantik konflik tersebut akan terjadi lagi dan kekerasan akan timbul. Jika melihat konflik antar etnis di Babarsari tersebut yang bisa dikatakan beberapa kelompok yang bersangkutan tidak mengikut daripada adat istiadat daripada hukum yang berlaku.

Oleh karena itu penulis memberikan transformasi konflik dengan mempopulerkan budaya srawung merupakan salah satu daripada adat istiadat yang berada di Yogyakarta yang berkaitan dengan ciri daripada suatu masyarakat yang toleran, guyub, serta adanya tingkat kepedulian tinggi antara warga dengan warga lainya, semakin intens dilakukan nya budaya srawung antar warga lokal dengan masyarakat pendatang maka dapat mengubah pola pikir daripada masyarakat pendatang dengan individu lainya sehingga dapat melaksanakan fungsi kontrol sosialnya.

Dengan melakukan budaya srawung dengan intens sangat membantu dalam menekan pemahaman yang radikal karena hal ini berkaitan dengan menempatkan perhatian kepada setiap individu dengan baik serta hal ini juga berkaitan dengan langkah untuk memperbaiki terkait dengan melakukan kontrol kepada setiap nilai-nilai yang dianggap bertentangan dengan aturan atau hukum yang ada di masyarakat tersebut.

Sehingga konflik antar etnis dapat diredam dengan beberapa langkah tersebut agar terjadi keselarasan antar etnis yang berada di Indonesia untuk menghindari daripada sebuah kekerasan yang dapat menimbulkan korban jiwa.

Oleh : Wahyu Dwi Pambagyo, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan fikiran-fikiran anda via website kami!

Related posts

Leave a Comment