Tradisi Kupat Qunutan di Perkampungan

ahmad

Modernis.co, Banten – “Bulan Ramadhan bulan ampunan, memaknainya harus dengan renungan, spirit perjuangan jangan sampai terkalahkan, mari jaga sampai hari kemenangan”

Di pertengahan bulan Ramadhan terdapat peristiwa unik dan luar biasa baik dalam pandangan Allah maupun pandangan manusia. Peristiwa itu hanyalah menjadi hal sia-sia jika tidak disambut dan direspon oleh amal baik manusia.

Peristiwa luar biasa yang terjadi dalam bulan Ramadhan itu, diantaranya pada tanggal 17 Ramadhan kita kenal hari Nuzulul Qur’an, dan malam lailatul Qadar yang dirahasiakan ketentuannya. Tidak hanya itu, tradisi unik juga menghiasi masyarakat Indonesia khususnya daerah Banten mayoritas memakai tradisi kupat atau ‘ngaleupeut’ (bahasa sunda) dipertengahan bulan Ramadhan, tepatnya tanggal ke lima belas Ramadhan.

Para masyarakat dari masing-masing keluarga membuat kupat dari daun kelapa muda. Tradisi kupat ini dikenal dengan istilah ‘Qunutan’ atau kupat qunutan.

Jika dilihat dari sudut pandang estetika, ternyata ketupat memiliki kesenian yang unik dan khas dengan berbagai macam jenis nama-nama ketupat yang dibuat oleh masyarakat.

Di kampung saya, secara garis besar kupat terbagi dua jenis. Pertama, kupat panjang (leupeut beber dalam bahasa sunda) dan kedua, kupat bulat. Kedua jenis kupat ini berbeda bahan pokoknya, jika kupat panjang terbuat dari beras ketan putih atau hitam, dicampur kelapa yang sudah dihaluskan menjadi ampas dan kacang kedelai.

Kupat bulat terbuat dari beras biasa (bukan ketan), kupat bulat ini ada beberapa jenis nama-nama yang terkenal diperkampungan, ada kupat yang seperti jantung, namanya “kupat jantung”, ada kupat Koja, kupat balencong, kupat bawang, kupat candi, kupat manuk, kupat keba, kupat kikik, dan kupat pasar yang banyak beredar di pasaran sekitar.

Ketupat-ketupat yang sudah matang dibawa ke masjid menjelang shalat isya dan kemudian dibagikan kembali kepada jemaah setelah shalat tarawih selesai yang dikemas dengan acara kumpul bersama (ngariung) sekaligus doa bersama memohon keberkahan dibulan ramadhan kepada Allah swt. Uniknya, yang dibawa hanya ketupat, tanpa ada sayur atau lauk lainnya.

Tradisi kupat itu dikenal “kupat qunutan” karena imam membacakan doa qunut pada rakaat terakhir pelaksanaan shalat witir. Qunutan adalah tradisi lama yang masih diwariskan hingga saat ini. Penulis berpendapat dengan bersedekah berupa kupat merupakan bentuk representatif bentuk syukur umat muslim karena berhasil menjalani separuh Ramadhan serta berharap bisa menjalani puasa yang tersisa tanpa ada hambatan yang tentunya ingin meraih malam lailatul qadar yang ada pada penghujung ramadhan.

Qunutan masih berlangsung hampir di seluruh wilayah Banten. Biasanya, ketupat yang didapat dari masjid tersebut dibawa ke rumah dan dimakan dengan sayur berkuah seperti sayur melinjo atau opor ayam.

Kupat dan Nilai Kebersamaan

Suasana perkampungan sangat kental dengan kebersamaan, istilah “Ririungan” sudah menjadi adat kebiasaan.

Kondisi masyarakat dibulan ramadhan berbeda dengan bulan-bulan yang lain, bulan ramadhan suasana masjid sangat ramai, apalagi ketika hari pertama menjelang shalat tarawih, tetapi semakin kesini makin sedikit pengunjung masjid.

Suasana masjid ramai kembali, ketika pertengahan ramadhan datang, dengan adanya tradisi kupat, masyarakat antusias memakmurkan masjid baik dikalangan orang tua, dewasa, dan anak-anak.

Tak bisa dipungkiri tradisi kupat bisa mempersatukan dengan peduli sesama untuk saling tolong menolong, saling membantu, dan saling berbagi kebaikan. Maka marilah kita berbagi dibulan mulia ini, semoga ibadah puasa kita diterima dan mendapat ridho Allah swt.

Oleh : Ahmad Syafaat (Pegiat Media Sosial)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment