Telaah Makna dalam Visi Misi Paslon Pilbub Malang 2020

Modernis.co, Malang – Kontestasi politik tahun 2020 diwarnai dengan Pilkada Serentak yang diikuti sebanyak 270 daerah kabupaten-kota. Penyelenggaran pilkada di tengah pandemi bukan tanpa alasan. Alasan tetap dilaksanakannya Pilkada di masa pandemi ini adalah menetapkan kepala daerah baru untuk mengganti kepala daerah yang sudah habis masa jabatanya. Pelaksanaan kampanye juga tetap dilaksanakan meskipun dengan berbagai aturan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.


Pasangan calon beramai-ramai menyuarakan program kerja beserta visi dan misinya. Sangat beraneka ragam jika melihat visi dan misi Paslon dalam pilkada serentak tahun 2020 ini. Kabupaten Malang sendiri memiliki 3 pasangan calon Bupati yang akan saling bertarung di Pilkada Malang.

Ketiga pasangan calon memiliki keunggulan visi dan misi masing-masing. Dari visi dan misi itulah kemudian memiliki daya tarik untuk dilihat dari aspek kebahasaanya. Aspek kebahasaan yang dimaksud terkait dengan segi pergeseran makna yang ada dalam visi dan misi pasangan calon Bupati Malang. Pergeseran makna yang diangkat adalah mengenai ameliorasi dan peyorasi.


Ameliorasi adalah kata yang mengalami peninggian makna, atau memiliki makna yang lebih baik dari sebelumnya. Peninggian makna yang dimaksud adalah ketika suatu kata mengalami perubahan atau pergeseran makna menjadi lebih baik, lebih halus, dan juga lebih terhormat. Contoh kata ameliorasi diantaranya ada kata “tunanetra” yang sebelumnya lebih menggunakan kata “buta”.


Kata “tunanetra” mengalami peninggian makna dari yang sebelumnya yaitu kata “buta”. Dua kata tersebut memiliki makna yang sepadan, hanya saja kata “tunanetra” dianggap lebih baik dan lebih etis. Contoh lain yaitu pada kata “pria” yang bergeser makna menjadi kata “laki-laki”. Penjelasanya juga sama, kata “pria” dianggap lebih kasar dan tidak etis.


Sedangkan peyorasi adalah kata yang mengalami penurunan makna atau yang memiliki makna lebih buruk dari sebelumnya. Penurunan makna yang dimaksud adalah kata-kata yang mengalami pergeseran makna menuju lebih buruk, lebih rendah, dan lebih hina. Contoh peyorasi seperti pada kata “kroni” yang pemaknaanya sepadan dengan kata “kawan, teman, golongan, dll”. Kata “kroni” dianggap kasar dan berakna buruk.


Lalu apakah ada pergeseran makna ameliorasi dan peyorasi dalam visi dan misi Paslon Pilkada Malang? Dalam visi dan misi pada paslon nomor urut 2 dan 3, terdapat kata “berdaya”. Jika dilihat dari sudut pandang pergeseran makna, kata “berdaya” ini termasuk ameliorasi dari kata “bertenaga” atau “berkekuatan”. Dalam konteks tersebut, kata “berdaya” dianggap lebih tinggi maknanya. Kemudian kata yang ditemukan berikutnya adalah kata “lahir batin”.


Kata “lahir batin” ini mengalami peyorasi dari kata “setulus hati” kata “lahir batin” dianggap memiliki makna lebih rendah dari kata “setulus hati”. Kedua kata tersebut ada pada visi pasangan calon nomor urut 2. Contoh lain adalah kata “dipangkas” merupakan ameliorasi dari kata “dipotong”. Kata “dipangkas” dianggap memiliki peninggian makna daripada kata “dipotong”.


Kata tersebut ada pada misi Paslon nomor urut 1 yang berbunyi “penghambat investasi akan dipangkas”. Kata lain yang termasuk dalam ameliorasi adalah kata “perempuan”. Kata tersebut dianggap mengalami peninggian makna dari kata sebelumya yaitu “wanita”. Kata tersebut ada dalam misi Paslon nomor urut 1 yang berbunyi “meningkatkan ksejahteraan keluarga, perempuan dan perlindungan anak”.
Sebagai tambahan wawasan tentang kebahasaan, tulisan ini dianggap penting.

Alasannya yaitu karena bisa menjadi tambahan informasi tentang pemaknaan sebuah kata ataupun kalimat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang tidak pernah terlepas dari bahasa, baik bahasa tulis maupun lisan. Oleh sebab itu, wawasan tentang kebahasaan harus senantiasa ditingkatkan. Bahasa selalu memiliki sesuatu yang menarik untuk dibahas dan dikaji lebih dalam.


Salah satunya yaitu tentang pergeseran makna ameliorasi dan peyorasi yang sudah dijelaskan di atas. Pergeseran makna memang bisa saja terjadi jika melihat sifat bahasa yang sangat dinamis dan bisa berubah seiring perkembangan zaman. Oleh karena itulah pemaknaan suatu kata tidak selamanya sama dari masa ke masa.


Perubahan dan pergeseran makna tidak melulu tentang ameliorasi dan peyorasi, namun juga bisa dikaji dari aspek kebahasaan lainnya yang memiliki keterkaitan dengan masalah yang akan diangkat.


Dalam penggunaan bahasa, siapa pun pasti pernah mengalami kesalahan dalam memilih kata, baik ditulis maupun diucapkan. Sering kali kesalahan tersebut menjadi pemakluman karena telah berkembang di masyarakat dan menjadi penggunaan sehari-hari.


Penggunaan bahasa yang “salah kaprah” ini memang sulit dihindari dan perlu pembiasaan serta adaptasi untuk mengubah kebiasaan menggunakan bahasa yang salah. Atau fenomena yang terjadi dalam kesalahan pemilihan kata ini berupa ketidaksesuaian kata jika digabungkan dengan kata lain, serta penggunaan yang tidak tepat dalam konteks tertentu.


Maka solusi agar kesalahan dalam pemilihan kata dapat diminimalisir yaitu dengan selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, membaca banyak literatur, serta melakukan pembiasaan dalam menggunakan bahasa yang benar dimana pun. Tidak ada salahnya jika kita selalu belajar dan mencari tahu mengenai bahasa kita sendiri.


Opini ini diharapkan dapat memberikan informasi atau ilmu tentang kebahasaan, khususnya yang dalam pemaknaan suatu kata dan pergeseran makna dalam suatu kata. Tulisan ini hanya sebatas opini yang didasari bidang bahasa yang digeluti oleh penulis. Ada beberapa rujukan yang diambil guna membuat opini kebahasaan tentang penyelenggaraan Pilkada serentak 2020 khususnya Pilkada di Kabupaten Malang dan kaitanya dengan bidang kebahasaan.


Mempelajari bahasa selalu memiliki manfaat tersendiri. Salah satu manfaat dari mempelajari bahasa adalah mengetahui pola komunikasi seseorang. Manfaat lain bisa berupa kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.


Opini ini tidak bisa menjadi rujukan utama dalam kaitanya dengan pembelajaran bahasa. Harus ada rujukan lain yang lebih memiliki kualitas dari segi keilmuan. Penulis mengucapkan permohonan maaf apabila ada kesalahan pendapat atau kata yang ada dalam tulisan ini.

Oleh : Candra Ayu Dyah K. N. (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UMM)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment