Takut Mati Karena Berjabat Tangan

Brand Muhammadiyah

Modernis.co, Jambi – Di negara asalnya. Kabarnya pandemi itu sudah mereda. Walaupun trauma kerena virus itu jelas masih tampak. Namun. Di negara kita. Tampaknya terus meningkat. Korban yang terinfeksi. Mungkin karena penanganannya kurang baik. Tidak seperti di negara asalnya.

Soal baik atau buruknya penanganan. Saya tidak ingin bicara lebih jauh soal itu. Itu urusan orang-orang yang punya otoritas. Bukan urusan orang seperti saya ini. Lebih asik bicara soal sikap orang-orang di Desa. Ada pelajaran yang bisa diambil.

Ya. Virus itu belum juga mereda. Bahkan, hingga di pelosok desa-desa. Virus itu makin dikenal. Sebagai benda yang paling menakutkan. Sebagai benda yang paling mematikan. Yang bisa menyebabkan mereka mati. Dalam hitungan hari.

Kebanyakan orang merasa mereka paling steril. Seakan dirinya tidak terinfeksi. Dan orang lain jelas terinfeksi. Sehingga mereka harus menghindari. Dengan cara apapun. Takut bukan kepayang. Seakan orang lain yang mendekat itu adalah virusnya. Atau paling tidak dia membawa virus. Sudah terinfeksi.

Apa lagi jika tau. Seseorang itu baru saja dari luar kota. Atau berasal dari daerah dengan tingkat infeksi tinggi. Mereka sangat menjaga jarak. Mereka menjaga kontak fisik. Walau sekedar berjabat tangan. Seakan orang tersebut sudah terinfeksi. Dan dia manusia paling steril di muka bumi ini.

Adapun jika terpaksa harus berkontak fisik. Atau mungkin karena tidak sengaja bersentuhan. Mereka capt-cepat membersihkan tangan mereka. Padahal, siapa yang menjamin. Kalau dia tidak terinfeksi. Bisa saja dia yang justru yang terinfeksi. Membawa virus.

Memang. Menjaga kontak fisik. Itu dianjurkan. Tapi ekspresi mereka itu yang tampak lucu. Betapa takutnya mereka dengan kematian. Pada kondisi seperti itu. Betapa tampak sifat aslinya. Takut mati. Betapa mereka tidak bisa merelakan. Kehidupan dunia ini. Betapa mereka tidak bisa merelakan. Segala sesuatu yang mereka kumpulkan di dunia ini.

Saya mesti acungi dua jempol. Untuk orang-orang yang sudah siap dengan kematian. Terbukti dengan sangat akurat. Betapa tebalnya iman mereka. Apa yang mereka katakan? “Saya tidak perlu pakai masker. Atau menjaga agar tidak berjabat tangan. Jika saya mati. Itu sudah takdir saya. Bukan karena virus. Atau karena berjabat tangan.”

Orang-orang seperti ini menawarkan diri. Ketika bertemu. Apakah yang mereka temui itu akan berjabat tanga dengannya atau tidak. Jika tidak. Tidak masalah. Jika iya. Mereka tidak keberatan. Untuk berjabat tangan. Tanpa harus menyinggung orang lain. Dengan berkata dalam hati, “Anda terinfeksi virus. Saya tidak mau berjabat tangan dengan Anda. Saya belum mau mati.” Betapa menyakitkan kalimat seperti ini. Walau hanya diucapkan dalam hati.

Memang. Mereka ini sudah siap. Jika sewaktu-waktu mereka harus meninggalkan dunia. Yang menurut sebagian orang nyaman ini. Mereka sudah siap. Untuk berpisah dengan harta yang mereka miliki. Bukan pasrah. Tapi sikap satria. Berani mati. Jika takdir memanggil.

Orang-orang seperti ini memang orang-orang pilihan. Orang-orang yang tegas. Bersikukuh dengan yang diimani. Terbukti dalam kehidupan nyata. Bahkan mungkin itu yang terbaik. Menurut mereka. Jika memang tiba waktunya. Mereka dipanggil.

Jadi bagaimana? Berjabat tangan atau tidak? Atau cukup mengganti jabat tangan dengan gerakan-gerakan yang dicontohkan itu? Membungkuk sambil tersenyum. Atau menempelkan kedua tangan di depan dada. Sambil tersenyum?  Atau gerakan-gerakan lain yang bisa menggantikan salam dan jabat tangan?

Alangkah baiknya. Di tengah menyebarnya pandemi ini. Jika tetap menjaga jarak. Dan tidak bersentuhan dengan yang lain. Untuk antisipasi. Meminimalisir penyebaran benda mematikan itu. Tanpa menyinggung perasaan orang lain. Tanpa menganggap dirinya manusia paling steril di planet ini. Dan orang lain paling terinfeksi. Jika tidak sengaja bersentuhan tangan. Jangan Tunjukkan eskpresi yang menyinggung. Anggaplah tak terjadi apa-apa. Lalu bersihkan diam-diam. []

Oleh: M. Khusnul Khuluq (Pegiat Filsafat)

M. Khusnul Khuluq
M. Khusnul Khuluq

Muhammad Khusnul Khuluq, S.Sy., M.H. Alumnus Jurusan Syariah Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2015. Peraih The Asia Foundation Scholarship of Master Program on Syaria and Human Right Studies.

Bagikan di

Leave a Comment