Suatu Perjalanan Mahasiswa Baru

Siapa dia ?

Modernis.co, Jakarta – Sekedar cerita diri ini dulunya seorang operator warnet di sebuah tempat kecil di daerah yang tidak terkenal sama sekali dan hanyalah orang biasa yang hidupnya sembarangan. Seiring berjalan waktu kadang berfikir bahwa itu adalah hal yang sia-sia.

Berangkat dari situ diri ini pun menjalani lembah kegelapan yang tidak berujung dengan berkeyakinan juara akan jadi terkenal dan dapat gaji. Semua mimpi itu sudah diri ini kubur dalam-dalam hari ini.

Waktu itu pemuda ini telah ditolak dari Universitas Negeri yang katanya adalah kampus bagus dengan modal tes sbmptn ia berangkat menuju Jakarta dengan keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini akan berhasil jika dijalani dengan keyakinan semata.

Pergilah dia menuju Jakarta menaiki pesawat lion air waktu itu pada tanggal 6 Mei 2017, dengan maksud baik ingin kuliah di Universitas Negeri.

Segala hal sudah ia siapkan mulai dari buku pelajaran dari Ganesha Operation yang slogannya “Apabila ditolak uang kembali” dengan nyali seorang pejuang ia mengisi ujian itu dengan doa, di dalam doanya terucap kata “Ya Allah tolong berikan aku nilai yang terbaik untuk ku, Aamiin”

Setelah mengikuti itu ia pulang kembali ke daerah, menunggu pengumuman ternyata takdir telah menentukan hari itu. Setelah pulang dari pantai siangnya diri ini membaca pengumuman 24 Juli 2017 SBMPTN 2017 disitu tertulis “Jangan putus asa dan tetap semangat”.

Manusia mana yang hatinya tidak tertegun melihat pengumuman seperti itu, yang ada dipikirannya hanyalah sebuah kata “Yaudah,Yaudah,Yaudah”,

Setelah itu ia diterbangkan kembali untuk mengikuti ujian tes mandiri di salah satu Universitas Negeri di daerah Ibu Kota, dengan doa terucap kata “Ya Allah tolong berikan aku nilai yang terbaik untuk ku Aamiin”

Pulang dari ujian mandiri ia menyadari bahwa selama hidupnya 17 Tahun itu semua waktunya terbuang untuk berleha leha membangun dunianya sendiri dan mencoba menjadi raja di dunianya sendiri, “Menjadi Kodok Dalam Tempurung”

Setelah menanti akhirnya keluar penguman bahwa ia tidak lulus dalam ujian itu… Akhirnya ia pulang lagi dengan tangisan di doanya, ia memohon kepada tuhannya “Ya Allah Tolong berikan aku yang terbaik untuk ku Aamiin”

Setelah dua sampai tiga hari, ia mendapati telepon dari ayahnya bilang “Sudah jangan berputus asa,kuatkan hati mu, ayahmu akan membiayaimu dimanapun kamu kuliah nanti” , “Binus, ucapku”, Ayah ku bilang “Mungkin cari yang lain dulu, kalau untuk itu ayah mu belum mampu”, “Baiklah terserah saja kalau begitu”

Setelah itu terceletuk lah dari mulut ayahku “UMJ aja gimana ?”, sebagai anak yang tau dirinya selama 17 Tahun hidup telah tersia siakan, diri ini tidak punya pilihan lain selain menganggap itu adalah pilihan terbaik “okee”

“Kuliah di Muhammadiyah itu seperti tercebur kesuatu kolam, dari daratan keliatannya kolamnya aneh dan terlalu strict, tapi setelah diselami ternyata kolamnya begitu dalam, mengakar dan jelas dasarnya”

Kuliah masuk mengikuti masa taaruf, dengan sifat masih anak warnet yang tidak pernah menyukai acara acara formal seperti harus pakai baju ini celana ini dan beragam atribut lainnya yang mungkin sampai sekarang tidak bisa ia lupakan, tapi hari itu ketika ia ikut dalam gelaran masta IMM Fakultas

Pada saat itulah diri ini rasa itulah jatuh cinta pertama kepada kerennya almamater merah itu, ketika dipanggil ke atas panggung namanya disebut dengan awalan Immawan, terheran hari itu apa arti nama itu diucapkan maklum namanya juga bukan warga situ datang dari daerah sampai di Kota lalu mendengar kata Immawan dan Immawati.

Penulis masih ingat betul saat itu yang memberi sambutan adalah yang menurut saya masih menjadi orang terkeren dan yang saya banggakan namanya disebut “Kakanda Immawan Fajar Hasiolan”, di dalam sambutannya ia bilang panjang lebar saking kerennya saya sampai lupa apa yang ia katakan…

Lanjut setelah banyak sambutan, waktu itu pemateri nya adalah “Kakanda Immawan Rahmat Syarif” sampai sekarang saya ingat betul bagaimana dialeknya yang khas mendengung di telinga tanpa tau jabatan dia adalah pemimpin dari semua mahasiswa di UMJ.

Banyak kutipan kutipan darinya yang masih saya catat catat hari ini, satu yang ia ucapkan bahwa ikatan ini berslogan yang “Anggun dalam Moral Unggul dalam Intelektual”,

Kupikir hari itu juga apa maksud dari intelektual ? apa pula maksud moral ? seperti angin lalu hari hari esoknya aku pun terbuai dengan pertemanan mahasiswa baru dan menjalani hari hari dengan main ps bersama sahabat sahabat kelas.

Setelah banyak hari berlalu IMM hari itu banyak melakukan kajian-kajian, mulai dari kajian tentang kenegaraan, kedemokrasian, sampai membahas mengenai problem mahasiswa paling cetek yaitu pelarajan, yang saya anggap untuk apa ? untuk apa kita membahas hal hal seperti itu ? untuk untuk ?

Lanjut ke esokan harinya melihat mereka melakukan kunjungan Mahkamah Konstitusi, dalam hal ini diri ini pun heran, siapa mereka ? apa mereka benar benar mempunyai kualitas jaringan seperti itu ?

Tentu apabila kalian masih membaca sampai hari ini, pasti bingung kenapa penulis banyak sekali bertanya tanpa pernah menjawab semua pertanyaannya.

Begitu terus tiap harinya, melakukan acara, melakukan kajian, sampai suatu hari diri ini melihat ketika mereka memakai almamater itu, ada salah satu dari seorang mereka berucap “Anjing”,  lalu ada salah satu dari mereka menegur dan marah saat itu, pada saat melihat hal itu.

Penulis benar benar terkejut, kenapa dia marah ? padahal kalimat anjing adalah kalimat paling baik diwarnet , kalimat itu bisa menjadi kalimat pujian bahkan mungkin suatu kebanggan diwarnet…

Disitulah diri ini benar benar paham, maksud dari ucapan “Anggun Dalam Moral, Unggul Dalam Intelektual. Bahwa senyatanya Ikatan ini adalah sebuah gerakan untuk mereka yang ingin melakukan perubahan.

Bukan terhadap negara mereka melakukannya terhadap diri mereka sendiri, mereka kritisi diri mereka dengan agama dan ilmu, karena satu hal diri ini baru tau ternyata IMM memiliki semboyan lain yaitu “ilmu amaliyah amal ilmiah” berilmu sebelum beramal dan beramal berdasarkan ilmu..

Tak berhenti disitu ketika ia memutuskan untuk mengikuti screening DAD, bersalaman dengan “Kakanda Immawan Fajar Hasiolan” sampai sekarang saya masih ingat kurang lebih bagaimana ia memberikan sebuah kutipan kepada saya, kutipan itu kurang lebih seperti ini

“Jadilah seperti besi, besi itu ia harus ditempa secara terus menerus dan terus menerus sampai ia bisa menjadi sesuatu yang berguna”, pulang dari situ saya benar benar merasa seperti sedang diberikan sebuah petuah yang mungkin tidak pernah saya dengar lagi…

Lanjut sampai DAD mengikuti itu 3 hari 3 malam saya di jelaskan dari A-Z tentang apa itu IMM, pulang dari situ menjadi kader dengan almamater yang telah disematkan.

Benar-benar bangga karena telah memutuskan untuk bergabung di tanggal 9 Desember 2018 itu rasanya pengalaman itu tidak akan terulang lagi seumur hidup, yang namanya hidup baru benar benar terasa setelah melalui DAD itu..

Yang ingin penulis sampaikan hanyalah cerita bagaimana hidup penulis benar-benar merasa terisi dan bertujuan setelah bergabung dengan Ikatan ini, tidak ada sedikit pun niat untuk hal lain. Memang terdengar sedikit lebay dan dramatis tapi semua hal diceritakan seada  adanya dari sudut pandang yang pernah dialami

Hanya seorang yang baru belajar menulis,  menceritakan sedikit kesenangan serta pengalamannya mengarungi kehidupan awal perkuliahan yang notabenenya sangat kosong dan dan santai menjadi begitu bermanfaat dan berisi.

Sampai sekarang pun masih belajar bagaimana dan terus mencoba mengkritisi diri sendiri terhadap ikatan, banyak sekali hutang yang harus dibayar dengan berbagai abidin yang dijalani, semoga cerita ini bisa menjadi berkah bagi kita bersama.

“Jadi IMMawan/i itu berat kita benar benar harus menjalankan tridimensi kader dan trilogi kader ikatan serta tetap tak melupakan untuk terus berlomba lomba dalam kebaikan.

Dengan cara cara yang tetap anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual, Apakah kita sudah pantas ? tidak ada yang bisa menilai itu hanya diri kita lah yang bisa menilai siapa kita”

Terakhir saya ingin bilang “Ingat bukan tempat yang membuat kita besar tapi kita yang membuat tempat besar” jangan pernah merasa kecewa dengan pilihan.

Jalani itu dengan hati yang tulus dan iklas karena suatu saat semua hal terjadi dihari yang lalu akan terhubung seperti benang merah yang kusut yang akhirnya dipakai menjahit suatu rancangan bernama masa depan.

Billahi fi Sabilil haq, Fastabiqul Khoirot

Ditulis dengan hati dan cinta

*Penulis : “IMMawan” Almer Adiyatma

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

One Thought to “Suatu Perjalanan Mahasiswa Baru”

Leave a Comment